Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 14 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Sitompul, Aswan Maruli
"Krisis perekonomian yang melanda banyak negara di dunia saat ini menyebabkan kemunduran di berbagai sendi perekonomian. Di Indonesia, sektor rill yang diharapkan dapat menopang keterpurukan menjadi tidak berdaya karena banyaknya pabrik yang ditutup, produsen kesulitan menjual produknya karena daya beli masyarakat yang berkurang. Pertumbuhan investasi PMA dan PMDN pada kwartal pertama dan kedua tahun 2002 ini menurun dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya, dengan berbagai sebab, hal ini memberikan indikasi bahwa perekonomian masih belum membaik.
Permasalahan yang diangkat pada penelitian ini adalah bagaimana upaya-upaya yang dilakukan oleh industri otomotif Indonesia dalam mengantisipasi krisis ekonomi. Tujuan penelitian diuraikan lebih lanjut yaitu, pertama mengetahui dan menjelaskan alternatif-alternatif orientasi kebijakan bisnis perusahaan otomotif yang diteliti dan kedua untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi alternatif kebijakan perusahaan otomotif tersebut.
Analisis bertujuan untuk mengetahui kekuatan perusahaan untuk bersaing dan sumber-sumber ancaman yang akan dihadapi. Pendekatan penyelesaian permasalahan dianalisis dengan menggunakan kerangka kerja value chain untuk mengetahui kekuatan-kekuatan perusahaan, dan analisis five forces untuk mengetahui sumber-sumber ancaman. Penelitian difokuskan kepada faktor-faktor kekuatan perusahaan untuk bersaing di bisnis otomotif. Oleh karena itu analisis kerangka kerja rantai nilai menjadi acuan panting dalam penelitian ini.
Instrumen penelitian menggunakan kuesioner untuk mendapatkan data primernya, dan dengan aplikasi Analytic Hierarchy Process (AHP). Sebagai hasil dari penelitian akan didapat peringkat prioritas secara berurutan yang merupakan bobot dari faktor-faktor, subfaktor-subfaktor dan alternatif keputusannya.
Kesimpulan dari penelitian merupakan prioritas keputusan strategi manejemen dalam menghadapi krisis, yaitu: Orientasi ke Pasar lnternasional, Peningkatan Penggunaan Interchangeable Parts, Out-sourcing dan Rasionalisasi Model. Saran dari hasil analisis strategi manajemen pada industri otomotif ini adalah penelitian perlu dikembangkan lebih lanjut dengan meneliti sumber-sumber ancaman yang diharapkan dapat menemukan semaksimal mungkin strategi manejemen dalam mengantisipasi krisis yang telah mengglobal ini."
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2002
T7538
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Giarto
"Persaingan di antara industri Tekstil dan Produk Tekstil (TPT) di Indonesia saat ini semakin meningkat. Hal ini salah satunya disebabkan menurunnya volume ekspor produk TPT, sehingga para produsen TPT berpaling ke pasar domestik. Persaingan tersebut diramaikan lagi dengan makin maraknya Tekstil dan Produk Tekstil impor dari berbagai negara membanjiri pasar Indonesia, ikut bersaing memperebutkan pasar sehingga produsen tekstil dan produk tekstil dalam negeri kewalahan bahkan sebagian gulung tikar karena tidak bisa bersaing baik dalam harga maupun mutu/kualitas.
Di samping itu, makin meningkatnya pengetahuan dan tuntutan pembeli menyebabkan posisi pertawaran pembeli menjadi lebih kuat dibanding produsen. Hal ini menuntut produsen untuk terns berusaha mencari cara agar pembeli tetap masih bisa dipengaruhi. Salah satu cara untuk mempengaruhi pembeli dapat dilakukan dengan menerapkan strategi mutu, yaitu membuat mutu produk/jasa yang sesuai dengan harapan pembeli atau bahkan melebihi harapan pembeli, sehingga pembeli menjadi loyal dan tidak berpaling ke produsen lain.
Untuk dapat menghasilkan mutu produk/jasa yang memiliki daya saing, diperlukan suatu sistem manajemen mutu yang dapat menjamin dan memberikan kepuasan kepada pembeli/pelanggan. Sistem Manajemen Mutu yang saat ini banyak diadopsi oleh kalangan industri adalah ISO 9000. Tetapi untuk industri TPT di Indonesia, baru sebagian kecil yang mengadopsi. Hal ini yang mendorong penulis untuk mengadakan penelitian pengaruh penerapan Sistem Manajemen Mutu ini pada industri tersebut.
Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh penerapan Sistem manajemen Mutu ISO 9000 terhadap kepuasan pelanggan dan keunggulan daya saing. Penelitian dilakukan dengan mengambil studi kasus di PT TIFICO Tbk, Tangerang.
Penelitian dilakukan dengan cara metode evaluatif dan survey lapangan. Metode evaluatif dilakukan untuk memastikan adanya jaminan mutu yang diberikan oleh perusahaan setelah menerapkan sistem manajemen mutu ini. Evaluasi dilakukan dengan cara membandingkan laporan hasil peragaan sistem manajemen mutu dengan manual mutu atau standar industri yang bersangkutan. Evaluasi juga dilakukan dengan membandingkan temuan ketidaksesuaian peragaan sistem manajemen mutu hasil external audit maupun internal audit antara hasil audit yang pertama dengan hasil-hasil audit selanjutnya. Sedangkan survey lapangan dilakukan untuk mengetahui persepsi pelanggan, yaitu dengan memberikan pertanyaan terstruktur (kuesioner) yang berkaitan dengan penilaian responden atas diterapkannya Sistem Manajemen Mutu ISO 9000 di PT TIFICO Tbk sehubungan dengan penilaian terhadap jaminan mutu, kepuasan pelanggan, dan keunggulan daya saing.
Untuk mengetahui hubungan sebab akibat antara jaminan mutu, kepuasan pelanggan dan keunggulan daya saing, dilakukan penelitian yang bersifat ekplanatif yaitu dengan menguji sampai seberapa jauh pengaruh hubungan diantara variabelvariabel tersebut. Pengujian pengaruh variabel jaminan mutu terhadap kepuasan pelanggan dan keunggulan daya saing digunakan analisis regresi individual (parsial) yang Iangsung diolah dengan Program Statistical Package for Social Science (SPSS 10.0) yang sudah terintegrasi pada komputer sehingga diperoleh koefisien regresi, korelasi, determinasi dan penguji signifikansi statistik.
Evaluasi terhadap laporan hasil peragaan Sistem Manajemen Mutu menyimpulkan bahwa PT TIFICO Tbk memberikan Jaminan Mutu kepada pelanggannya. Sedangkan hasil pengolahan data secara statistik melalui proses komputasi mengenai pengaruh Jaminan Mutu terhadap Kepuasan Pelanggan menghasilkan koefisien korelasi ( R) sebesar 0,746 menunjukkan adanya hubungan yang kuat antara jaminan mutu dengan kepuasan pelanggan dan koefisien determinasi (R2) sebesar 0,557 berarti bahwa variabel jaminan mutu memberikan manfaat pengaruh terhadap variabel kepuasan pelanggan sebesar 55,7 %.
Begitu juga dengan pengaruh kepuasan pelanggan terhadap keunggulan daya saing, proses komputasi menghasilkan koefisien korelasi ( R ) sebesar 0,745 menunjukkan hubungan yang kuat antara kepuasan pelanggan dengan keunggulan daya saing, begitu juga dengan koefisien determinasi ( R) sebesar 0,555, berarti bahwa kepuasan pelanggan memberikan manfaat pengaruh terhadap keunggulan daya saing sebesar 55,5 %.
Berdasarkan pada uji t dengan taraf signifikansi ac = 1 % dengan derajat kebebasan (dk) 32-2 = 30, didapat t statistik > t tabel. Hal ini menunjukkan bahwa jaminan mutu berpengaruh secara signifikan terhadap kepuasan pelanggan dan begitu juga kepuasan pelanggan berpengaruh secara signifikan terhadap keunggulan daya saing."
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2003
T12184
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Eko Sigit Sukadi
"Undang-Undang Migas yang baru merupakan sarana atau instrumen untuk antisipasi liberalisasi pengusahaan minyak dan gas telah mendorong Pertamina melakukan pembenahan organisasi melalui serangkaian kegiatan restrukturisasi guna merumuskan dan memutuskan bentuk ideal organisasi bisnis. Dengan menggunakan suatu strategic planning yang dinamakan scenario planning, Pertamina berusaha untuk mengantisipasi faktor yang menghambat pelaksanaan restrukturisasi dengan cara melihat dinamika berdasarkan scenario/kemungkinan dari seluruh aspek usaha dimasa depan dalam kondisi liberalisasi dan persaingan usaha.
Penelitian ini bertujuan untuk meneliti tantangan utama yang dihadapi dalam proses restrukturisasi Pertamina, khususnya dalam memposisikan elemen-elemen bisnisnya dan menganalisis sejauh mana prospek daya saing bisnis tersebut dalam mewujudkan cita-cita menjadi satu perusahaan minyak kelas dunia.
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian deskriptif eksploratif Partisipan yang dilibatkan dalam penelitian ini mencakup beberapa pejabat yang berkompeten dalam bidangnya, termasuk didalamnya anggota tim yang ditunjuk sebagai tim restrukturisasi serta beberapa sampel pekerja yang dapat mewakili seluruh pekerja.
Analisis data dilakukan dengan menggunakan analisis matriks pertumbuhan pangsa pasar (BCG growth- share matrix) dan analisis komparatif terhadap faktor kompetensi yang dimiliki. Dari hasil analisa terlihat bahwa tantangan yang dihadapi Pertamina cukup berat seperti tergambar dari posisi masing-masing portofolio usaha, yakni di posisi kuadran kanan bawah untuk portofolio usaha minyak dan gas, di kuadran kiri bawah untuk usaha LNG dan di kuadran kanan atas untuk portofolio usaha bidang hilir. Sedangkan dari hasil analisis komparatif terlihat pula bahwa kompetensi Pertamina masih jauh dibandingkan perusahaan minyak kelas dunia. Hambatan eksternal yang dihadapi utamanya berasal dari kebijakan yang ditetapkan oleh Pemerintah sedangkan hambatan internal berupa keterbatasan sumber daya yang dimiliki dan budaya yang cenderung lamban dan birokratis.
Guna mendukung percepatan terwujudnya visi Pertamina, disarankan untuk mendefinisikan kembali peran Pemerintah dalam pengaturan pengusahaan minyak dan gas, memfokuskan usaha pada produk gas khususnya LNG, melakukan sinergi dalam mata rantai nilai energi serta meminimalkan risiko dalam perdagangan energi."
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2003
T12176
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Cicilia Lucky Indraswati
"Pengembangan industri ubin keramik secara umum menguntungkan, karena produk ini mempunyai nilai tambah. Keberadaan ubin keramik sesuai dengan trend kehidupan masyarakat dunia dan sudah menghasilkan devisa negara. Bahan baku keramik tersedia dengan jumlah yang potensial di Indonesia, teknologinya mudah diperoleh dan diaplikasikan serta berdampak pada kesejahteraan masyarakat. Pada era globalisasi pengembangan industri ini menghadapi tantangan dan peluang yang semakin besar, hanya produk yang mempunyai daya saing tinggi saja yang tetap bertahan di pasar global walaupun terbuka perdagangan bebas di pasar yang luas.
Untuk menghadapi tantangan dan peluang akibat globalisasi, diperlukan upaya terus menerus guna meningkatkan daya saing ubin keramik Indonesia. Untuk itu diperlukan strategi peningkatan daya saing ubin keramik Indonesia yang tepat, handal dan mudah diimplementasikan.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui posisi daya saing ubin keramik Indonesia terhadap beberapa negara pesaing, faktor-faktor penentu yang mempengaruhi peningkatan daya saing ubin keramik Indonesia, alternatif strategi dalam meningkatkan daya saing serta pelaku yang berperan.
Penentuan posisi daya saing dengan negara pesaing Thailand dan Malaysia digunakan dengan metode Revealed Comparative Advantage (RCA). Untuk penentuan faktor-faktor yang berpengaruh terhadap daya saing dianalisis dengan metode Proses Hirarkhi Analitik (PHA) dengan pendekatan "diamond" Porter's Metode yang sama digunakan untuk menganalisis penentuan strategi yang tepat dalam upaya peningkatan daya saing dengan pendekatan strategi generik Porter.
Metode RCA diaplikasikan dengan membandingkan kinerja ekspor ubin keramik dengan kinerja total ekspor komoditi non migas Indonesia, selanjutnya dibandingkan lagi dengan total ekspor ubin keramik dunia terhadap total ekspor dunia, sedang teknik PHA digunakan untuk memperoleh prioritas permasalahan dan memformulasikan alternatif strategi peningkatan daya saing.
Ternyata daya saing ubin keramik Malaysia lebih baik dibanding Thailand maupun Indonesia berdasarkan perhitungan RCA rata-rata selama tahun 1996-2000, tetapi sejak tahun 1998 berdasarkan RCA/tahun daya saing Indonesia lebih baik dari Malaysia maupun Thailand.
Faktor yang perlu dipertimbangkan dalam peningkatan daya saing ubin keramik Indonesia berdasarkan prioritasnya adalah kondisi permintaan, industri pendukung dan terkait, kebijakan pemerintah, strategi, struktur dan persaingan, kondisi faktor serta peluang/ kesempatan.
Pelaku yang diharapkan berperan aktif adalah industri ubin keramik, pemerintah, industri pemasok, assosiasi industri, negara pesaing, negara tujuan ekspor, serta lembaga keuangan, dengan urutan prioritas tujuan: perluasan pasar, peningkatan daya saing dan perolehan devisa.
Strategi generik keunggulan biaya menyeluruh merupakan strategi yang diprioritaskan, dengan penekanan pada efisiensi di semua unit produksi serta penurunan ekonomi biaya tinggi yang muncul di berbagai sektor utamanya transpotasi, serta harus didukung pasokan bahan baku/ penolong/ penunjang yang berkualitas dengan harga yang efisien dengan demikian akan dicapai efisiensi yang tinggi dan berdampak pada peningkatan daya saing secara signifikan.
Untuk mempercepat keberhasilan upaya-upaya peningkatan daya saing ubin keramik Indonesia diperlukan kesungguhan berbagai pihak dalam meningkatkan efisiensi terutama pihak pemerintah melalui fasilitasi berupa pengaturan yang jelas dan konsisten pelaksanaannya, serta pihak pelaku usaha dalam mengelola kegiatan internal industri."
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia,
T12189
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Nasrul Isa
"Memasuki millenium baru yang dikuasai oleh integrasi teknologi komputer dengan leknologi telekomunikasi menandakan tidak dapatnya dunia diiutup lagi dengan selimut paradigma lama. Disamping itu tekanan globalisasi perdagangan yang dimotori oleh negara maju seperti Amerika Seiikat dan Eropa Barat, membawa Indonesia untuk melakukan perubahan Di dalam kekuatan pembahan yang demikian
besar, Direktorat Metrologi beserta jajarannya di daerah selaku pengembang misi tertib ukur di segala bidang, menempati peran suategis dalam bidang industri dan perdagangan. Khususnya di bidang industri, peran startegis dari institusi metrologi legal sejalan dengan Melrology Standard Tesring Quality (MSTQ) yang rnenjadi salah satu determinan dalam pemgembangan telcnologi pada proses industrialisasi
yang sedang dikejar pemerinmh. Untuk ilu institusi kemetrologian harus menunjukan kinerjanya dengan memtilikasi standar intemasional clan mengimplementasikannya lewat slandarisasi UTTP (ukuran, takaran, timbangan dan perlengkapannya).
Secara substansi, eksisitensi kemetrologian tidak terlepas dari masalah tera ulang, dan pada saat ini kondisi tera ulang UTTP metrologi legal sangat memprihatinkan, di mana jumlah dari peneraulangan UTTP seharusnya setiap tahun
semakin besar sesuai dengan sifatnyg mengingat UTTP yang ditera tahun ini akan secara berkala akan menempati posisi sebagai UTTP yang akan di tera ulang pada tahun-lahun berikutnya.
Fenomena di atas menjadikan alasan untuk penelitian ini, yang menitik
beratkan pada kegiatan intemal dari institusi metrologi legal, untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi peneraulangan UTTP metrologi legal. Dan kemudian sampai sejauh mana pengamh dari faktor-faktor tersebut Penelitian dilakukan dengan menggunakan metode kuantitatif, dimana lazimnya digunakan operasi matematis dalam mengolah data masukan. Selanjutnya dapat diidentilikasi
faktor-faktor yang mempengaruhi aktivitas peneraulangan UTTP metrologi legal tersebut, serta sampai sejauh mana relevansi pengaruhnya.
Hasil penelitian dapat dirumuskan bahwa umumnya terdapat kendala yang bersifat teknis dan yang paling besar bersifat non teknis kemetrologian Hal ini digambarkan oleh tiga faktor utama yang meliputi 1 Faktor Pengawasan Kemetrologian dengan kontribusi sebesar l4,81%; Faktor Volume Kerja Kemetrologian dengan kontribusi sebesar 14,8l%l; dan Falctor Database Kemetrologian dengan kontribusi sebesar 11,1 1%."
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2000
T3150
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Handoko Kentjanadjaja
"Industri Tekstil adalah salah satu industri yang menjadi andalan di dalam menghasilkan devisa bagi Indonesia, dan industri tekstil juga sangat berpengaruh terhadap harkat hidup banyak orang sebab jumlah tenaga kerja yang terserap sangatlah besar. Industri tekstil dipercaya masih menjadi salah satu industri penting dimana banyak berorientasi ekspor. Dalam tulisan ini penulis hendak meneliti mengenai salah satu industri pewarna pigment tekstil di Indonesia yaitu PT. Dic Astra Chemicals. Karena terdapat permasalahan dalam industri pewarna tekstil yang semakin hari semakin ketat dalam persaingan dan juga perkembangan pasar yang lambat, sehingga penulis memiliki tujuan untuk mengetahui strategi apa yang tepat dilakukan perusahaan agar dapat bertahan dan bersaing di masa yang akan datang terutama memasuki globalisasi.
Untuk dapat menjawab permasalahan yang ada agar dapat mencari strategi yang terbaik bagi PT. DAC. Metode analisis dilakukan dengan Analytical Hierarchy Process (AHP). Responden penelitian terdiri dari 6 (enam) orang dari jajaran manajemen dan staff PT. DAC, dengan maksud mencapai kesepakatan melalui suatu konsensus dalam menjawab permasalahan yang ada dalam bentuk suatu hirarki keputusan. Kuesioner menjadi dasar dari jawaban para responden dalam membantu penulis untuk menganalisa hasil yang ada sehingga dapat menjawab permasalahan yang ada.
Hasil dari penelitian ini di mana, diketahui bahwa aktivitas rantai nilai yang paling berpengaruh bagi PT. DAC adalah aktivitas pengembangan teknologi dengan bobot 48,61%, di mana hal ini haruslah didukung oleh aktor yang paling mempengaruhi kegiatan perusahaan oleh pimpinan (34,02%) dan dari beberapa strategi yang paling sesuai adalah pada diversifikasi produk dengan bobot 48,12%. Sehingga penulis merekomendasikan agar pimpinan perusahaan dapat mengembangkan bagian R&D dalam menciptakan produk-produk baru dalam menghadapi persaingan yang semakin ketat ini."
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2002
T3563
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Yuhermon
"Masalah utama yang dikemukakan dalam penulisan tesis ini adalah :
(1) Strategi yang harus dilakukan oleh instansi Metrologi Kandep Depperindag Kotamadya Batam agar status Saksi Metrologi non Operasional penuh dapat ditingkatkan menjadi Seksi Metrologi dengan operasional penuh, (2) Untuk melihat sejauh mana pemasukan negara dari instansi Metrologi Kandep Depperindag Kotamadya Batam berupa pendapatan negara bukan pajak, dan (3) Strategi yang harus diterapkan oleh instansi Metrologi Kandep Depperindag Kotamadya Batam untuk meningkatkan pelayanan konsumen kemetrologian pada masa-masa mendatang.
"
2000
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Yanti Agustinova
"Dalam beberapa dekade terakhir, telah banyak sekali dibuat telaah mengenai industri jasa terlebih sejak sektor ini menunjukkan perannya yang signifikan sebagai sumber utama pertumbuhan ekonomi. Dalam hal ini peneliti mempunyai ketertarikan secara khusus terhadap industri kepelabuhanan karena sektor ini memiliki peranan strategis dalam perdagangan dan perekonomian nasional yang sekaligus merupakan industri yang memberikan manfaat yang kompetitif bagi kepentingan nasional.
Untuk itu, peneliti berkeinginan untuk menjadikan PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) sebagai subyek penelitian karena peranan strategisnya yang penting di dalam kepelabuhanan di Indonesia dan juga karena keuntungan peneliti yang telah bekerja cukup lama di JICT. PT. Jakarta International Container Terminal adalah sebuah perusahaan Joint Venture dimana sahamnya 48,9% dimiliki oleh PT. Pelindo II, 51% dimiliki oleh Hutchison Port Jkt Pte Ltd. yang dulu dikenal sebagai Grosbeak PTE Ltd. dan 0.1% oleh Koperasi Pegawai Maritim (KOPEGMAR).
Sebagai sebuah terminal petikemas yang melayani jasa bongkar muat petikemas internasional, JICT telah berhasil menjadi terminal pilihan di Indonesia selama bertahun-tahun dan selama ini selalu memimpin dalam kompetisi dengan pelabuhan-pelabuhan lain di Tanjung Priok. Namun, tantangan bagi JICT adalah bagaimana JICT dapat menjadi pelabuhan yang mempunyai standar pelabuhan kelas dunia seperti pelabuhan Port Klang di Malaysia atau bahkan pelabuhan PSA (Port of Singapore Authority) di Singapura Permasalahan yang terjadi saat ini bagi JICT adalah perusahaan ini lebih banyak mengandalkan pengukuran kinerja perusahaannya melalui pengukuran kinerja finansial dan indikator produktivitas operasional di lapangan, sehingga walaupun kedua indikator ini menunjukkan kinerja yang baik pada kedua aspek tersebut, namun keduanya merupakan indikator yang mewakili kinerja yang telah lampau. Indikator ini tidak dapat digunakan untuk menilai kemampuan perusahaannya untuk berkompetisi di masa depan. Untuk itu, JICT membutuhkan suatu pengukuran kinerja yang dapat memberikan mereka gambaran bagaimana mereka mempersiapkan diri dan mengelola setiap kesempatan yang ada untuk berkompetisi di masa depan.
Riset ini menggunakan teori Performance Management sebagai dasar kerangka pemikiran dan dengan mengacu kepada kerangka teori tersebut, peneliti memilih Balanced Scorecard sebagai metode untuk menganalisa kinerja JICT. Metode Balanced Scorecard ini memungkinkan JICT untuk mengevaluasi kinerjanya dengan menggunakan beberapa perspektif yang tidak hanya menggunakan perspektif finansial tapi juga perspektif dari sisi pelanggan, proses bisnis internal, dan juga aspek pembelajaran dan pertumbuhan. Riset ini menggunakan data primer dari survey terhadap pelanggan dan juga kepada karyawan JICT. Survey terhadap karyawan penting dilakukan untuk mengetahui tingkat kepuasan kerja yang sangat mempengaruhi kinerja karyawan dan tentunya berpengaruh kepada kepuasan pelanggan. Data sekunder digunakan untuk mengukur perspektif finansial dan proses bisnis internal.
Hasil dari pengukuran kinerja tersebut dengan menggunakan pendekatan Balanced Scorecard mengklasifikasikan JICT sebagai perusahaan yang mempunyai kinerja ?Baik?, dengan total nilai 68 dari total skor maksimum 85. Namun, penelitian ini menemukan bahwa manajemen JICT kurang berhasil dalam aspek yang penting dari kepuasan pelanggan yaitu dimensi empati. Hasil penelitian ini memberikan rekomendasi agar manajemen JICT lebih memfokuskan aspek ini untuk menyeimbangkan antara harapan pelanggan dan kemampuan perusahaan dalam melayani pelanggan. Selain itu, manajemen JICT perlu meningkatkan kemampuan inovasinya karena hasil survey mengindikasikan output yang tidak memuaskan dari produk inovasi yang telah dibuat oleh JICT. Rekomendasi dari hasil riset ini diharapkan dapat memberikan sumbang-saran bagi manajemen JICT dalam rangka menjadikan JICT sebagai sebuah pelabuhan petikemas berkelas internasional.

There has been voluminous work regarding the service industry especially since this sector has demonstrated its importance as a major source of economic growth in recent decades in advanced economies. Of particular interest within this industry is the sea port sector owing to its strategic overall role in the national trade and economy as well as a source of competitive advantage for any nation.
The author wishes to take up the subject of PT. Jakarta International Container Terminal (JICT) due to its strategic importance within the port authority and the author's vantage position working within the company for the past several years. JICT is a Joint Venture company where 48,9% of its shares are owned by Indonesian Port Corporation (IPC) II, 51% by Hutchison Port Jkt Pte Ltd. formerly known as Grosbeak PTE Ltd. and 0.1% by Maritime Employee Cooperative (KOPEGMAR).
As a leading terminal in handling international containers, JICT has managed for years to stay ahead of the competition among existing rivals in the strategic Tanjung Priok port, thereby establishing itself as the preferred terminal in Indonesia. Yet the challenge remains for JICT to be one of the world's leading container terminals in the likes of those in Singapore or even in Port Klang, Malaysia. The problem however for JICT is that they have thus far relied only on financial and operational indicators for their performance measurement. While these indicators have served them well, they are lagging indicators that merely describe past performance. They could not help JICT in assessing their capabilities for facing future competition. What JICT needs is a performance measurement that would allow them to give a handle on how best to prepare for and exploit any opportunities presented from the dynamics of future competition.
The theory of Performance Management presents the basis of the theoretical framework of this research. Within this framework the author selected the Balanced Scorecard approach as the method for studying JICT's performance. The Balanced Scorecard enables JICT to assess its performance from a set of perspectives to include not only a Financial perspective but also the Customer, the Internal Business Process and the Learning and Growth perspectives. This research used primary data from a survey of JICT longstanding customers as well as from its staffs and employees. The importance of employees' survey is to reveal the level job satisfaction which undoubtedly affect staffs performance and ultimately to customers' satisfaction. The secondary data is used to measure the financial and internal business process perspectives.
The overall result was JICT achieving a classification of 'Good' based on a total score of 68 out of 85. However, the research found that JICT management has fallen short of important aspects of customer expectation particularly on the empathy dimension. Such attention to this aspect is needed in order to balance the customer needs and the company's capability. More importantly JICT management needs to improve its innovative capability as the survey indicated an unsatisfactorily output from its existing innovations that have been in place for several years."
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2008
T24446
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
cover
Kusnaeni
"Di tengah meningkatnya persaingan untuk memenuhi kepuasan pelanggan yang terus berubah, saat ini banyak perusahaan menggunakan sejenis piranti lunak yang banyak dikenal dengan istilah ERP (Enterprise Resource Planning) untuk mengelola rantai suplai untuk menunjang strategi saingnya. Namun demikian, implementasi sistem Enterprise Resource Planning sering menghadapi hambatan-hambatan yang pada akhirnya mengurangi tingkat keefektifannya.
Akar masalah ini seringkali berhubungan dengan budaya organisasi dan perusahaan dimana sistem tersebut dioperasikan. Sistem Enterprise Resource Planning telah diaplikasikan lebih dari 4 tahun di PT. XYZ Indonesia dengan tujuan untuk meningkatkan kinerja rantai suplai perusahaan itu. Namun demikian, meskipun sistem ERP dapat menyediakan informasi tepat waktu, pemakai sistem ERP system di PT. XYZ Indonesia masih menggunakan cara lain seperti panggilan telepon dan penggunaan media laporan untuk memenuhi kebutuhan akan informasi. Situasi ini sebagian besar diakibatkan oleh ketidakmampuan pengguna sistem untuk mengendalikan dan memonitor semua unsur yang ada di dalam sistem karena kurangnya pelatihan, komunikasi dan kepercayaan. Kerangka teori yang menjadi landasan penelitian ini adalah teori mengenai rantai suplai.
Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah Oliver Wight ABCD Checklist yang akan mengungkap bagaimana PT. XYZ Indonesia menggunakan sistem ERP dan budaya pemakai yang ada di lingkungan sistem itu. The Oliver Wight ABCD checklist merupakan metode untuk mengevaluasi kinerja perusahaan sebagai pemakai sistem Enterprise Resource Plannings. Metode ini banyak digunakan sejak pertengahan tahun 1970-an. Metode ini memberikan panduan bagi perusahaan untuk mengetahui jeda antara kinerja saat ini dan kinerja terbaik dan mengetahui wilayah yang memerlukan perbaikan.
Metode yang digunakan menunjukkan bahwa PT. XYZ Indonesia merupakan pemakai sistem ERP kelas B. Pemakai sistem banyak menggunakan sistem dalam pekerjaannya dan perusahaan telah dapat memperoleh berbagai keuntungan seperti mengingkatnya kecepatan dalam pelayanan pelanggan dan komunikasi yang efisien antar tingkat dalam rantai suplai. Namun demikian, kurangnya pelatihan dan pendidikan bagi pemakai dan kurangnya kepercayaan akan keakuratan data telah menyebabkan penggunaan sistem menjadi tidak efektif. Hambatan-hambatan lain yaitu kurangnya penyampaian informasi dan proses pengendalian/monitor telah secara signifikan menurunkan kemampuan sistem untuk dapat berfungsi secara optimal.

Amid increasing competition to satisfy ever-changing demands customers, many firms today are employing a type of software commonly known as ERP (Enterprise Resource Planning) to manage their supply chain and to sustain their competitive strategies. However, the implementation of Enterprise Resource Planning system often faces hurdles which eventually decrease its effectiveness.
The root of this problem related to the organization and the people culture surrounding the system environment. Enterprise Resource Planning system has been in place for more than 4 years at PT XYZ Indonesia aimed at enhancing supply chain performance. However, despite ERP systems? ability to provide real-time information, users of ERP system at PT. XYZ Indonesia still use second option of communication such as phone calls and spreadsheet utilization to meet their information requirements. This situation is mostly caused by users? inability to control and monitor all elements embedded on the system owing to lack of training, communication and trust. The theoretical framework underpinning this research is based on the supply chain theory.
The analysis method used in this research is the Oliver Wight ABCD checklist that will reveal how PT XYZ Indonesia has typically used their ERP system and user?s behavior surrounding the system. The Oliver Wight ABCD checklist is a widely-used method to assess a firm?s performance as an Enterprise Resource Planning system user. This checklist has been in use since mid 1970s. It provides a guideline for companies to view the gap between current performances against best practice and diagnose which area is in need for improvement.
The method reveals that PT. XYZ Indonesia classified as a class B user, ERP system is enterprise-widely used at PT. XYZ Indonesia. Users have been working closely with the system and the company is able to generate various benefits such as responsiveness in customer service function and efficient communication between the supply chain stages. However, lack of training and education for users and lack of trust on information data accuracy has resulted in ineffective system usages. Other existing hurdles: lack of information-sharing and control/monitoring process had also significantly degraded system?s capability to work on its full potential."
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2008
T24448
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
cover
Cheppy Asnadi
"Akademi Kimia Analisis (AKA) yang berada dibawah dan bertanggung jawab kepada Pusat Pembinaan Pelatihan Keterampilan dan Kejuruan, (Pusbinlat) Departemen Perindustrian dan Perdagangan. AKA bertugas untuk menyelenggarakan pendidikan profesional guna menciptakan tenaga industrial yang siap menunjang perindustriari dan perdagangan.
Untuk dapat bersaing dalam Era Globalisasi terutama dengan perguruan tinggi asing yang akan diperbolehkan masuk ke Indonesia, maka AKA harus meningkatkan kualitas lulusan agar mampu bersaing. Menurut Tilaar (1995;225) salah satu faktor untuk meningkatkan lulusan adalah kualitas dosen. Atas dasar itu penelitian ini dilakukan yang tujuannya untuk mengetahui bagaimana kinerja dosen AKA saat ini. Penelitian dilakukan menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif, dan instrumen yang digunakan adalah kuesioner yang menyangkut tugas dan fungsi dosen yaitu melaksanakan pendidikan, penelitian dan pengabdian pada masyarakat. Adapun sampel yang diteliti dan juga sebagai responden yaitu 28 orang dosen tetap AKA.
Agar hasil penelitian ini mendekati obyektif, maka responden yang diberi kuesioner selain dosen juga mahasiswa AKA sebanyak 383 orang.Dalam penelitian ini dilihat bagaimana kinerja, tingkat pendidikan, dan faktor-faktor yang mempengaruhi motivasi berprestasi dosen AKA. Berkaitan hal ini data di analisis dengan menggunakan statistik yaitu frekuensi, simpangan Baku dan korelasi.
Dari hasil penelitian dapat diambil kesimpulan pertama penguasaan materi dosen sudah memenuhi harapan mahasiswa tetapi mutu penyajian dan efektivitas belum memenuhi harapan, kedua korelasi antara kinerja dan pendidikan sebesar 0,4129 menunjukkan bahwa meningkatnya tingkat pendidikan dosen AKA meningkat pula kinerjanya, sebaliknya korelasi antara kinerja dengan masa kerja sebesar 0,1302 menunjukkan bahwa peningkatan masa kerja dosen tidak memperbesar kinerjanya, ketiga yang menjadi faktor motivasi berprestasi sesuai dengan persamaan persepsi dari semua dosen adalah mau dikritik dan menganggap tugas yang berat dari pimpinan sebagai tantangan. "
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2000
T768
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2   >>