Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 20 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Amardita Nur Fathia
"Memutuskan untuk memiliki anak dan membesarkan mereka menciptakan sejumlah biaya meskipun diyakini bahwa anak dapat menjadi sumber kegembiraan dan kepuasan dalam jangka pendek dan penyedia keamanan ekonomi keluarga dalam jangka panjang. Selain itu, biaya dan manfaat yang diperoleh seorang anak bersifat tidak pasti karena tidak ada yang mengetahui kemungkinan apakah anak tersebut akan membawa lebih banyak dampak positif atau negatif bagi orang tuanya. Oleh karena itu, ketika seseorang memutuskan untuk menginginkan kelahiran seorang anak, artinya mereka bersedia menghadapi kondisi ketidakpastian. Dalam kondisi ketidakpastian, preferensi risiko dan preferensi waktu seseorang akan mempengaruhi pertimbangan pengambilan keputusan ekonominya. Dengan menggunakan data IFLS-5, penelitian ini mencoba mengungkap hubungan preferensi risiko dan preferensi waktu wanita dalam mempengaruhi niat mereka untuk memiliki anak tambahan. Hasil dari regresi logistik biner yang dilakukan menunjukkan bahwa wanita yang toleran terhadap risiko dan tidak sabaran lebih cenderung menginginkan tambahan anak dibandingkan yang sebaliknya.

Deciding to have a child and raising them incur several costs although it is believed that children can be a source of joy and satisfaction in the short run and family economic security provider in the long run. Furthermore, the costs and benefits of a child is uncertain as no one knows the probability of whether the child will bring more positive outcome or negative outcome to its parents. Hence, when someone is deciding to pursue a child’s birth, it means if they are willing to face uncertainty. Under uncertainty, an individual’s risk preference and time preference will affect their economic decision-making consideration. Using IFLS-5 data, this study tried to unravel the relationship of women’s risk preference and time preference in affecting their intention to have additional children. Result from from binary logistic regression being conducted showed that risk tolerant and impatient women are more likely to intend additional children than the opposite."
Depok: Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, 2024
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Fabian Muhammad Giffari Putra Riza
"Peran ekonomi transportasi semakin penting, hal ini ditunjukkan dengan bagaimana orang membutuhkan lebih banyak waktu untuk bepergian ke tempat kerja dalam beberapa dekade terakhir. Oleh karena itu, menjadi penting untuk mengetahui bagaimana kesejahteraan masyarakat dapat ditentukan oleh pilihan mereka saat bepergian, salah satunya adalah moda transportasi. Penelitian ini bertujuan untuk memperkirakan dampak moda transportasi yang digunakan dalam perjalanan komuter terhadap kesejahteraan masyarakat di Indonesia. Menggunakan regresi logistik yang dipesan dan keamanan pribadi selama perjalanan sebagai proxy untuk kesejahteraan, penelitian ini menemukan bahwa moda transportasi memang mempengaruhi keamanan pribadi mereka. Selain itu, berjalan kaki, bersepeda, dan menggunakan kendaraan pribadi berhubungan positif dengan keamanan pribadi selama perjalanan. Dari temuan tersebut, penelitian ini mengadvokasi rekomendasi kebijakan yang sejalan dengan peningkatan pengalaman komuter angkutan umum serta pengguna mobilitas aktif, seperti penegakan keamanan di halte atau stasiun kereta api serta prioritas pejalan kaki dan pengendara sepeda melalui penyediaan trotoar yang lebih luas serta jalur sepeda.

The role of transport economics is increasingly important, it is shown by how people take more time to commute to work in recent decades. Thus, it becomes important to figure out how people’s well-being can be determined by their choices when commuting, one of which is transporting mode. This study aims to estimate the impact of transport mode used in commuting on people’s well-being in Indonesia. Using ordered logistic regression and personal security during commuting as a proxy to well-being, this study finds that transport modes do affect their personal security. Additionally, walking, cycling, and using private vehicle are positively related to personal security during commuting. From the findings, this study advocates for policy recommendations that are in line with improving commuting experience of public transit as well as active mobility users, such as security enforcements at bus stops or train stations as well as pedestrians’ and cyclists’ prioritization through providing wider sidewalks and bike lanes."
Depok: Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, 2022
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Andreas Ivan Rasendriya Pandega
"Penelitian ini mengkaji bagaimana pengaruh faktor makroekonomi khususnya variabel inflasi, nilai tukar, dan suku bunga terhadap imbal hasil saham sektor infrastruktur dan sektor keuangan pada pasar saham Indonesia pada periode tahun 2018 hingga 2021. Penelitian ini menggunakan model uji regresi linier berganda dengan menggunakan metode OLS dalam mencari tahu pengaruh dari variabel independen terhadap variabel dependen. Pada penelitian ini ditemukan bahwa inflasi, nilai tukar, dan suku bunga secara simultan mempengaruhi imbal hasil pada sektor infrastruktur dan sektor keuangan. Berdasarkan hasil uji f dan uji t ditemukan bahwa pada pasar saham Indonesia sektor saham keuangan lebih sensitif terhadap perubahan faktor makroekonomi dibandingkan sektor saham infrastruktur dalam merespon perubahan faktor makroekonomi. Berdasarkan hasil uji t ditemukan bahwa inflasi dan suku bunga tidak berpengaruh secara signifikan terhadap imbal hasil saham pada kedua sektor. Nilai tukar sebagai satu-satunya faktor makroekonomi dalam penelitian yang mempengaruhi secara signifikan negatif terhadap imbal hasil saham pada sektor infrastruktur dan sektor keuangan.

This research examines the effect of macroeconomic factors, especially inflation, exchange rate and interest rate variables on stock returns in the infrastructure sector and financial sector on the Indonesian stock market in the period 2018 to 2021. This research uses a multiple linear regression model with OLS method to find out the effect of the independent variable on the dependent variable. In this research, it was found that inflation, exchange rates and interest rates simultaneously influence returns in the infrastructure sector and the financial sector. Based on the results of the f and t test, it was found that the financial sector is more sensitive to changes in macroeconomic factors compared to the infrastructure sector responding to changes in macroeconomic factors. Based on the results of the t test, it was found that inflation and interest rates did not have a significant effect on stock returns. The exchange rate is the only macroeconomic factor in the research that has a significantly negative influence on stock returns in the infrastructure sector and financial sector."
Depok: Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, 2024
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Saragih, Amanda Novriwani
"Migrasi orang tua adalah fenomena yang banyak terjadi di berbagai negara, termasuk Indonesia. Meskipun remitansi dari orang tua yang bermigrasi dapat meningkatkan standar hidup dan akses sumber daya bagi rumah tangga, akan tetapi absen orang tua dalam mengasuh anak dalam dapat berdampak buruk terhadap kondisi gizi anak-anak. Studi ini mengeksplorasi bagaimana dampak migrasi orang tua terhadap status gizi anak-anak yang ditinggalkan di Indonesia, dengan fokus pada kondisi stunting, wasting, dan underweight. Berdasarkan data dari IFLS wave 5 penelitian ini bertujuan untuk mengisi kesenjangan penelitian tentang bagaimana ketidakhadiran orang tua memengaruhi malnutrisi anak. Hasil temuan menunjukkan bahwa terdapat dampak yang berbeda dari setiap kategori anak yang ditinggalkan terhadap malnutrisi anak. Migrasi orang tua oleh setidaknya satu orang tua, dan migrasi ayah memiliki efek negatif terhadap malnutrisi anak di Indonesia. Dengan kata lain, memiliki setidaknya satu orang tua migran, khususnya ayah, mengurangi kemungkinan anak yang ditinggalkan mengalami malnutrisi. Namun, migrasi ibu memiliki hubungan positif dengan wasting, yang berarti bahwa ditinggalkan oleh ibu meningkatkan kemungkinan anak mengalami wasting.

Parental migration is a common phenomenon in many countries including Indonesia. While the remittances from migrant parents can potentially improve household living standards and access to resources, the prolonged absence of a nurturing parent may adversely affect children's nutritional well-being. This study explores the impact of parental migration on the nutritional status of left-behind children in Indonesia, focusing on stunting, wasting, and underweight conditions. Drawing on data from waves 5 of the Indonesia Family Life Survey (IFLS), this research aims to fill the existing gap in understanding how the absence of a parent influences child malnutrition. The findings indicate that there is a different impact of each category of left behind on the malnutrition of children. Parental migration by at least one parents, and paternal migration has a negative effect on child malnutrition in Indonesia. In other words, having at least one migrant parent, specifically, father, decreases the likelihood of left behind children to be malnourished. However, maternal migration has a positive relation with wasting, means that being left behind by mother increases the likelihood of children to be wasted. "
Depok: Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, 2024
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Fikry Zaky Nazira Arya
"Bandara, sebagai infrastruktur transportasi, dapat menyebabkan peningkatan lahan terbangun dan aktivitas ekonomi, yang berkontribusi pada fenomena peningkatan Urban Heat Island (UHI). Dalam mengukur aksesibilitas transportasi udara, digunakan Air Access Index (AAI), yang mempertimbangkan jarak tempuh darat, jarak penerbangan, dan potensi ekonomi bandara tujuan. Sementara itu, Intensitas UHI diukur menggunakan Land Surface Temperature (LST) dari data citra satelit pada resolusi spasial desa/kelurahan. Penelitian ini bertujuan untuk memahami hubungan antara kehadiran bandara yang dan UHI di tingkat desa melalui metode regresi data panel untuk 5 unit tahun sepanjang 2011-2023. Hasil estimasi menunjukkan koefisien AAI yang positif dan signifikan pada model baseline, mengindikasikan korelasi positif antara aksesibilitas udara dan peningkatan suhu (UHI). Namun, hasil yang berbeda ditemukan dalam analisis heterogenitas antar pulau. Pada sub-sampel Pulau Jawa dan Sumatera, koefisien AAI bernilai negatif dan signifikan, menunjukkan penurunan suhu seiring peningkatan akses udara. Hasil yang konsisten dengan model baseline ditemukan di Pulau Sunda Kecil (Bali, NTB, NTT), Kalimantan, dan Sulawesi. Sementara itu, di Pulau Maluku dan Papua, koefisien AAI tidak signifikan, menunjukkan tidak ada dampak nyata dari peningkatan aksesibilitas udara terhadap UHI. Perbedaan ini mencerminkan variasi kontekstual yang dipengaruhi oleh karakteristik geografi, tingkat urbanisasi, kepadatan penduduk, serta kualitas infrastruktur di masing-masing wilayah.

Airports, as transport infrastructure, can lead to an increase in built-up land and economic activity, which contributes to the phenomenon of increased Urban Heat Island (UHI). In measuring the accessibility of air transport, the Air Access Index (AAI) is used, which considers the land distance travelled, flight distance, and economic potential of the destination airport. Meanwhile, UHI intensity is measured using Land Surface Temperature (LST) from satellite image data at village spatial resolution. This study aims to understand the relationship between airport presence and UHI at the village level through panel data regression method for 5 unit years during 2011-2023. The estimation results show a positive and significant AAI coefficient in the baseline model, indicating a positive correlation between air accessibility and temperature increase (UHI). However, different results were found in the inter-island heterogeneity analysis. In the Java and Sumatra sub-samples, the AAI coefficient is negative and significant, indicating a decrease in temperature as air accessibility increases. Results consistent with the baseline model were found in the Lesser Sunda Islands (Bali, NTB, NTT), Kalimantan, and Sulawesi. Meanwhile, in Maluku and Papua Islands, the AAI coefficient is not significant, suggesting no apparent impact of increased air accessibility on UHI. This difference reflects contextual variations influenced by geographical characteristics, urbanisation level, population density, as well as air accessibility."
Depok: Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, 2025
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Zulfandi Yahya
"Studi ini menganalisis dampak inklusi digital terhadap konsumsi pariwisata di kalangan rumah tangga kelas menengah di Indonesia, yang merupakan segmen utama untuk pertumbuhan sektor pariwisata, sejalan dengan temuan Kementerian Pariwisata. Menggunakan data gabungan dari Survei Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS) 2019 dan 2022, penelitian ini menggunakan model Tobit untuk menganalisis hubungan antara inklusi digital — diukur pada dimensi aksesibilitas (tingkat pertama) dan penggunaan (tingkat kedua) — dengan pengeluaran pariwisata per kapita rumah tangga. Hasil penelitian menunjukkan bahwa inklusi digital secara signifikan meningkatkan konsumsi pariwisata, dengan efek yang lebih kuat terlihat pada rumah tangga kelas menengah atas dibandingkan dengan kelas menengah bawah, menunjukkan bahwa kapasitas finansial memengaruhi tingkat manfaat digital yang dirasakan pada sektor pariwisata. Untuk memperkuat kausalitas, pendekatan Variabel Instrumental (IV), yang memanfaatkan jumlah operator telekomunikasi di setiap wilayah, mengonfirmasi peran positif inklusi digital dalam meningkatkan pengeluaran pariwisata. Selain itu, faktor intrapersonal dan interpersonal ditemukan secara signifikan mempengaruhi permintaan pariwisata. Analisis mediasi lebih lanjut mengeksplorasi mekanisme yang menghubungkan inklusi digital dengan konsumsi pariwisata, dengan fokus pada akses informasi sebagai mediator utama. Hasil menunjukkan bahwa inklusi digital yang lebih tinggi meningkatkan paparan terhadap informasi terkait pariwisata, mengurangi tingkat ketidakpastian, dan mendorong konsumsi pariwisata yang lebih tinggi. Hal ini menyoroti pentingnya elemen digital dalam memfasilitasi pilihan pariwisata, terutama dalam industri yang didorong oleh informasi. Studi ini menekankan perlunya pembuat kebijakan memprioritaskan tidak hanya perluasan infrastruktur digital tetapi juga peningkatan literasi dan penggunaan digital untuk memaksimalkan konsumsi pariwisata.

This study examines the impact of digital inclusion on tourism consumption among middle-class households in Indonesia, a key demographic for future tourism growth as identified by the Ministry of Tourism. Using pooled data from the National Socioeconomic Survey (SUSENAS) 2019 and 2022, the research employs a Tobit model to analyze the relationship between digital inclusion — measured at both the accessibility (first-level) and usage (second-level) dimensions — and household tourism expenditure per capita. The findings reveal that digital inclusion significantly boosts tourism consumption, with a stronger effect observed among upper-middle-class households compared to lower-middle-class ones, suggesting that financial capacity influences the extent of digital benefits of the tourism industry. To strengthen causality, an Instrumental Variable (IV) approach, leveraging the number of telecommunication operators in each region, confirms the positive role of digital inclusion in enhancing tourism spending. Additionally, intrapersonal and interpersonal factors are found to significantly shape tourism demand. A mediation analysis further explores the mechanism linking digital inclusion to tourism consumption, focusing on information access as a key mediator. The results indicate that higher digital inclusion increases exposure to tourism-related information, reducing uncertainty and encouraging higher tourism consumption. This highlights the importance of digital elements in facilitating informed tourism choices, particularly in an information-driven industry. The study underscores the need for policymakers to prioritize not only digital infrastructure expansion but also digital literacy and usage enhancement to maximize tourism consumption. "
Depok: Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, 2025
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Ghozi Akhsan Fatahillah
"Studi ini bertujuan untuk mengestimasi dampak yang ditimbulkan dari peningkatan aksesibilitas transportasi udara terhadap jumlah industri mikro dan kecil di desa-desa di Indonesia. Dengan menggunakan data panel tingkat desa dari tahun 2011, 2014, 2018, 2021, dan 2024 serta metode regresi fixed effect, ditemukan bahwa peningkatan akses udara menunjukkan dampak yang positif dan signifikan terhadap pertumbuhan industri mikro kecil pada tingkat nasional, dengan nilai koefisien regresi sebesar 0,0265. Meskipun demikian, besarnya dampak berbeda antar wilayah, di mana desa-desa di luar Pulau Jawa cenderung merasakan manfaat ekonomi yang lebih besar dibandingkan desadesa di Jawa. Hal ini menandakan bahwa aksesibilitas udara mampu menjadi katalis pertumbuhan usaha kecil, terutama di wilayah dengan keterbatasan konektivitas darat. Studi ini memberikan bukti empiris penting bahwa pembangunan konektivitas udara dapat mendorong industrialisasi skala mikro di kawasan perdesaan sebagai bagian dari upaya pemerataan pembangunan ekonomi nasional.

This study aims to estimate the impact of improved air transportation accessibility on the number of micro and small industries in Indonesian villages. Using village-level panel data from 2011, 2014, 2018, 2021, and 2024 and applying a fixed effects regression method, the study finds that increased air access has a positive and significant effect on the growth of micro and small industries at the national level, with a regression coefficient of 0.0265. However, the magnitude of the impact varies across regions, with villages outside Java Island generally experiencing greater economic benefits than those in Java. This suggests that air accessibility can serve as a catalyst for small business growth, especially in areas with limited land connectivity. The study provides important empirical evidence that the development of air connectivity can promote micro-scale industrialization in rural areas as part of efforts to achieve more equitable national economic development."
Depok: Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, 2025
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Wildan Galih Makarim
"Penelitian ini menganalisis hubungan affordability rumah tangga dengan Indeks Harga Properti Residensial (IHPR) di Indonesia menggunakan data panel 16 provinsi periode 2014-2024 dengan Fixed Effects Model. Latar belakang penelitian adalah tingginya rasio harga rumah terhadap pendapatan (13,8 kali) yang melampaui standar internasional (3,0- 5,0 kali) dan backlog perumahan 12,75 juta unit. Variabel penelitian meliputi IHPR sebagai dependen, indikator affordability (pendapatan per kapita, UMP, suku bunga KPR, rasio pengeluaran perumahan) sebagai independen, dan variabel kontrol (kepadatan penduduk, kepemilikan rumah, dummy Covid-19). Hasil menunjukkan affordability berhubungan signifikan dengan IHPR dengan R² 84,56%. Pendapatan per kapita merupakan faktor dominan dengan hubungan positif, diikuti UMP dan rasio pengeluaran perumahan, sementara suku bunga KPR berhubungan negatif sesuai teori ekonomi. Kepadatan penduduk berhubungan positif akibat keterbatasan lahan, kepemilikan rumah berhubungan negatif menunjukkan stabilitas harga, dan Covid-19 memiliki hubungan positif karena stimulus kebijakan. Temuan mengkonfirmasi teori Housing Affordability dan memberikan pemahaman hubungan antara affordability dengan dinamika harga properti untuk meningkatkan affordability melalui peningkatan pendapatan dan kebijakan moneter yang tepat.

This study analyzes the relationship between household affordability and the Residential Property Price Index (RPPI) in Indonesia using panel data from 16 provinces for the period 2014-2024 with a Fixed Effects Model. The research background is the high house price-to-income ratio (13.8 times) that exceeds international standards (3.0-5.0 times) and a housing backlog of 12.75 million units. The research variables include RPPI as the dependent variable, affordability indicators (per capita income, regional minimum wage, mortgage interest rates, housing expenditure ratio) as independent variables, and control variables (population density, homeownership, Covid-19 dummy). The results show that affordability is significantly related to RPPI with an R² of 84.56%. Per capita income is the dominant factor with a positive relationship, followed by regional minimum wage and housing expenditure ratio, while mortgage interest rates have a negative relationship consistent with economic theory. Population density has a positive relationship due to land scarcity, homeownership has a negative relationship indicating price stability, and Covid-19 has a positive relationship due to policy stimulus. The findings confirm Housing Affordability theory and provide understanding of the relationship between affordability and property price dynamics to improve affordability through income enhancement and appropriate monetary policies. "
Depok: Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, 2025
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Nabila Firza Dewanti Nugroho
"Kepuasan sekolah telah dianggap sebagai faktor penting yang berkontribusi pada kepuasan hidup anak secara keseluruhan karena anak-anak menghabiskan sebagian besar waktunya berada di sekolah. Siswa yang lebih puas di sekolah cenderung memiliki pencapaian akademik yang lebih baik. Akan tetapi, hingga kini konsep tersebut masih kerap diabaikan dalam kebijakan pendidikan yang lebih menitikberatkan pada pencapaian akademik. Penelitian ini berangkat dari temuan bahwa anak-anak dalam pengasuhan (anak asuh) merupakan kelompok yang rentan dan cenderung memiliki tingkat kepuasan sekolah yang lebih rendah dibandingkan anak-anak non-asuh. Dengan menggunakan data gelombang ketiga Children’s Worlds Survey yang mencakup 15.000 responden anak usia 8–14 tahun di Provinsi Jawa Barat, penelitian ini berupaya menjelaskan kesenjangan tersebut melalui kepemilikan barang penunjang pendidikan anak atau material possession index (MPI). Maka dari itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis sejauh mana MPI berkontribusi terhadap kepuasan sekolah serta apakah variabel tersebut memediasi pengaruh status pengasuhan terhadap pengalaman bersekolah anak. Hasil analisis regresi dengan model Ordinary Least Square, Ordered Probit, dan Ordered Logit menunjukkan bahwa MPI memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap kepuasan sekolah, di mana efeknya paling kuat ditemukan pada anak usia 8–9 tahun. Namun, status pengasuhan, status sosial ekonomi keluarga (SES), dan interaksi antara status pengasuhan dan kepemilikan barang tidak berpengaruh signifikan. Dengan kata lain, kepemilikan barang penunjang sekolah memiliki efek yang sama besarnya dalam meningkatkan kepuasan sekolah untuk kedua kelompok anak. Sementara itu, analisis mediasi menunjukkan bahwa status pengasuhan secara tidak langsung menurunkan kepuasan sekolah melalui berkurangnya akses terhadap barang penunjang pendidikan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pemenuhan kebutuhan material masih menjadi kunci dalam menjamin pengalaman belajar yang positif, terutama bagi anak-anak yang berada dalam pengasuhan.

School satisfaction has been widely recognized as a key contributor to children’s overall well-being, given that children spend a significant portion of their lives in school. Students who are more satisfied with school tend to perform better academically. However, the concept of school satisfaction remains largely overlooked in education policies that prioritize academic achievement. This study stems from the observed gap in school satisfaction between foster children, who represent a vulnerable group, and their non-foster peers. Using data from the third wave of the Children’s Worlds Survey, which includes 15.000 children aged 8 to 14 in West Java Province, this study aims to explain that gap through children’s access to school-related material resources, measured by the Material Possession Index (MPI). Specifically, this study investigates how MPI contributes to school satisfaction and explores its role in mediating the relationship between child status and children’s school experiences. Results from Ordinary Least Squares (OLS), Ordered Probit, and Ordered Logit regressions indicate that MPI has a positive and significant effect on school satisfaction, with the strongest impact found among children aged 8–9. However, child status, household socioeconomic status (SES), and the interaction between child status and MPI do not show significant effects. In other words, access to school-related materials equally supports school satisfaction among both foster and non-foster children. Furthermore, the mediation analysis reveals that child status as a foster indirectly reduces school satisfaction through lower access to educational resources. This suggests that material provision remains a critical factor in ensuring a positive learning experience, especially for children in foster care."
Depok: Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, 2025
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Caroline Jessie Deannabel
"Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh Program Indonesia Pintar (PIP) terhadap partisipasi sekolah anak penyandang disabilitas di Indonesia. Penelitian ini menggunakan data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) tahun 2022 dan 2023 serta menerapkan metode Propensity Score Matching (PSM). Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagai bantuan transfer tunai bersyarat untuk pendidikan, PIP memiliki pengaruh positif signifikan meningkatkan probabilitas partisipasi sekolah anak penyandang disabilitas, dengan dampak yang lebih besar pada kelompok disabilitas berat. Efek PIP juga ditemukan lebih besar di daerah perdesaan. Selain itu, efek PIP juga meningkat seiring dengan jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Namun, tidak ada perbedaan besar efek PIP antara laki-laki dan perempuan. Tingkat pendidikan kepala rumah tangga juga ditemukan memiliki pengaruh signifikan, dimana anak penyandang disabilitas yang tinggal dengan kepala keluarga berpendidikan tinggi lebih mungkin bersekolah dibandingkan dengan yang kepala keluarganya berpendidikan rendah.

This study aims to analyze the impact of the Program Indonesia Pintar (PIP) on school participation among children with disabilities in Indonesia. The study utilizes data from the 2022 and 2023 National Socioeconomic Survey (Susenas) and applies the Propensity Score Matching (PSM) method. The results indicate that, as a conditional cash transfer programme for education, PIP has a significantly positive effect on increasing the probability of school participation among children with disabilities, with a greater impact observed among those with severe disabilities. The effect of PIP is also found to be stronger in rural areas. Furthermore, the effect increases with higher levels of education. However, there is no substantial difference in the effect of PIP between male and female students. The education level of the household head is also found to have a significant influence, where children with disabilities living in households with more highly educated heads are more likely to attend school compared to those whose household heads have lower levels of education."
Depok: Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, 2025
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2   >>