Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 20 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Andi Pananrang
"Imunisasi hepatitis B adalah salah satu jenis pelayanan imunisasi dasar yang seharusnya diberikan kepada semua bayi pada usia 0-7 hari. Proporsi bayi yang diimunisasi HB-0 tergolong masih rendah sekitar 60% sehingga potensi bayi terinfeksi HBV pada usia dini, masih besar.
Tujuan penelitian, untuk mengetahui hubungan pengetahuan ibu tentang imunisasi hepatitis B dengan status imunisasi HB-0 pada puskesmas di kabupaten Barru setelah dikontrol dengan potential confounder. Desain penelitian adalah kasus kontrol. Kasus adalah bayi yang tidak diimunisasi hepatitis B-0 sedangkan kontrol adalah bayi yang mendapat imunisasi hepatitis B-0 (bayi 0-7 hari) dan masingmasing tercatat dalam register imunisasi pukesmas Padongko dan Pekkae bulan Februari-Maret 2011 dengan total sampel sebanyak 166.
Hasil penelitian menunjukan bahwa ibu yang berpengetahuan kurang mengenai imunisasi hepatitis B, mempunyai risiko (odds) 5,57 kali bayinya tidak diimunisasi HB-0 dibandingkan ibu yang berpengetahuan baik dengan 95%CI:(2,69-11,53) setelah dikontrol dengan faktor pendidikan ibu.
Disarankan kepada instansi terkait untuk meningkatkan upaya promosi program imunisasi HB-0 kepada masyarakat dan kemitraan lintas sektor serta mendorong komitmen setiap unit pelayanan kesehatan untuk melaksanakan program imunisasi HB-0.

The Hepatitsi B Immunization is one of kind the primary immunization care that should be given to all of neonatus early (0-7 days old). The proportion of HB-0 immunized neonatus early is about 60% so there was chance of child be infected HBV when they were still neonatus phase.
The study objective is to know association of the mother’s knowledge about hepatitis B immunization and the immunization status of Hepatitis B-0 (neonatus 0 - 7 days old) at puskesmas in the distric of Barru after adjusted by potential confounder. The design is case - control study. The cases are infant who unimmunized hepatitis B-0 (0-7 days old) and the controls are infant who immunized hepatitis B-0 and both of them had been being registered at puskesmas Padongko dan Pekkae in 2011,february-march.The sample size are 166 (83:83).
The study result shows that the mothers who have less knowledge about hepatitis B immunization have chance (odds) 5,57 times their infants would not be immunized if be compared with the mother’s who have good knowledge 95%CI:(2,69-11,53) after adjusted by the mother education factor.
To be suggested to increase the promotion efforts of hepatitis B immunization programme to the community and immunization partnership programme and build communication intesively to all of the helath service providers to make a commitment conducting immunization of hepatitis B-0 programme.
"
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 2011
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Hasti Luftyanie Mustopa
"ABSTRAK
Angka keberhasilan pengobatan (Success rate) merupakan indikator yang digunakan untuk mengukur keberhasilan penanggulangan TB serta untuk mengevaluasi pengobatan pasien TB secara nasional. Kecamatan Jatiluhur merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten Purwakarta dengan angka keberhasilan pengobatan TB terendah se-kabupaten dan masih dibawah target nasional yakni sebesar 69,77%. Banyak faktor yang dapat mempengaruhi angka keberhasilan pengobatan TB, salah satunya adalah faktor dari pasien itu sendiri, faktor pelayanan kesehatan, serta faktor keberadaan pengawas menelan obat selama masa pengobatan. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional yang bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang dapat mempengaruhi keberhasilan pengobatan TB paru BTA+ di Kecamatan Jatiluhur Kabupaten Purwakarta tahun 2019. Data yang digunakan adalah data register pasien TB dan Form pasien TB01 di Puskesmas Jatiluhur dari bulan Januari hingga Desember tahun 2019. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat. Angka keberhasilan pengobatan pada pasien baru TB paru BTA+ di Kecamatan Jatiluhur tahun 2019 adalah sebesar 67,34%. Hasil analisis uji chi square menunjukkan bahwa penelitian ini tidak dapat membuktikan adanya hubungan antara faktor karakteristik pasien (usia dan jenis kelamin), tipe pengobatan, dan peran PMO dengan angka keberhasilan pengobatan TB paru BTA+ (p-value > 0,05).

Treatment success rate is a national indicators that use to measure the success of tuberculosis control programme and to evaluate treatment outcomes of tuberculosis patients. Jatiluhur subdistrict is one of the subdistricts in Purwakarta Regency with the lowest TB treatment success rate among all subdistricts in Purwakarta and still below the national target at 69,77%. Many factors can influence the success rate of TB treatment, such as factor of the patient himself, health care provider, and the presence of patient’s drug supervisor during the treatment period. This study used a cross sectional design aimed to determine independent factors in affecting treatment success rate of smear-positive pulmonary tuberculosis patients at Jatiluhur Subdistrict 2019. The data used is data on register TB patients in Jatiluhur subdistrict public health center who strated treatment between January-December 2019. The analysis used is univariate and bivariate. The results of success rate of smear-positive pulmonary tuberculosis patients 2019 is at 67,34%. The results of the chi square test analysis of the relation between independent factors, such as patient characteristics (age and gender), type of treatment, presence of patient’s drug supervisor, and success rate of smear-positive pulmonary tuberculosis patient there is no significant difference (p-value > 0,05).
"
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 2020
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Ayu Herawati
"Hipertensi sampai saat ini masih menjadi masalah kesehatan di dunia termasuk di Indonesia. Prevalensi hipertensi di Provinsi DKI Jakarta cukup tinggi yakni sebesar 33,4% (Kementerian Kesehatan RI, 2018). Terdapat beberapa faktor yang berkontribusi terhadap kejadian hipertensi baik faktor yang dapat dimodifikasi maupun tidak dapat dimodifikasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor – faktor yang dapat mempengaruhi hipertensi. Desain penelitian ini adalah cross sectional dengan menggunakan data sekunder Surveilans penyakit tidak menular di wilayah kerja puskesmas Kecamatan Jagakarsa tahun 2019. Sampel dalam penelitian ini dipilih dengan menggunakan metode total sampling dengan kriteria inklusi penduduk berusia 15-59 tahun yang terdaftar dan data pemeriksaan tercatat legkap sesuai variabel penelitian dan minimal melakukan satu kali pengukuran hipertensi. Hasil penelitian menunjukan bahwa proporsi hipertensi di wilayah kerja Puskesmas Kecamatan Jagakarsa yaitu 10%. Aktivitas fisik yang cukup memiliki risiko 0,5 kali, cukup konsumsi sayur memiliki resiko 0,27 kali lebih rendah, tidak merokok memiliki risiko 0,73 kali lebih rendah, tidak bekerja memiliki risiko lebih rendah 0,43 kali daripada responden yang bekerja untuk terjadi hipertensi. Oleh karena itu perlu ditingkatkan peran serta masyarakat dan pengaplikasian perilaku GERMAS serta pengoptimalan Skrinning PTM

Hypertension is still a health problem in the world including in Indonesia. The prevalence of hypertension in DKI Jakarta Province is quite high at 33.4% (Indonesian Ministry of Health, 2018). There are several factors that contribute to the incidence of hypertension, both factors that can be modified or cannot be modified. This study aims to determine the factors that can influence hypertension. The design of this study was cross sectional using secondary data Surveillance of non-communicable diseases in the working area of ​​Puskesmas subdistrict Jagakarsa in 2019. The sample in this study was selected using the total sampling method with the inclusion criteria of population aged 15-59 years registered and the inspection data recorded according research variables and at least one measurement of hypertension. The results showed that the proportion of hypertension in the working area of ​​Jagakarsa District Health Center is 10%. Enough physical activity has a risk of 0.5 times, enough consumption of vegetables has a risk of 0.27 times lower, not smoking has a risk of 0.73 times lower, does not work has a lower risk of 0.43 times than respondents who work to occur hypertension. Therefore it is necessary to increase community participation and the application of GERMAS behavior as well as optimizing Screening NCDs."
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 2020
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Nurul Wahdiyah
"Program Terapi Rumatan Metadon (PTRM) merupakan program yang membutuhkan tingkat kepatuhan yang tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran perilaku keteraturan minum metadon pada Klien di Klinik PTRM Puskesmas Kecamatan Koja Tahun 2011. Desain studi yang digunakan adalah cross-sectional dengan jumlah sampel 55 orang. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik accidental sampling. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sebagian besar responden tidak teratur minum metadon(63,6%), bekerja (69,1%), pendidikan tinggi (67,3%), status menikah (54,5%), berpengetahuan kurang (92,7%), menggunakan NAPZA > 10 tahun (52,7%), akses ke pelayanan kesehatan terjangkau (81,8%), biaya terjangkau (81,8%), kualitas pelayanan baik (74,5%), mengikuti PTRM >12 bulan (41,8%), terpapar baik terhadap informasi 98,2%, dukungan baik dari keluarga (70,9%), dari teman (54,5%), dan dari petugas kesehatan (56,4%). Berdasarkan hasil tersebut, perlu dilakukan pendekatan personal ke klien PTRM, penyuluhan, family meeting untuk meningkatkan keteraturan minum metadon.
Methadone Maintenance Therapy (MMT) is program needed High Adherence. This research is conducted to knowing Description of Regular Methadone Drinking Behavior on Clients of Methadone Maintenance Therapy Koja Sub district Primary Health Care Jakarta Utara 2011. Study Design used is cross sectional with 55 samples. Sampling conducted is accidental sampling. The result shows most of respondent irregularly drinking methadone (63,6%), work (69,1%), high education (67,3%), married (54,5%), less knowledge (92,7%), Using drugs > 10 years (52,7%), reached access to health care (81,8%), affordable pay (81,8%), good quality of care (74,5%), following MMT >12 months (41,8%), well exposure of methadone information 98,2%, good support from family (70,9%), from friends (54,5%), and from health official (56,4%). Based on the result, in order to increase regularity of methadone drinking, should be conducted personal directive counseling, information education, and family meeting."
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 2011
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Hajar Tiya Lestari
"ABSTRAK
Penelitian ini membahas mengenai gambaran epidemiologi kematian pada
Jamaah Haji Indonesia (JHI) dan studi reliabilitas diagnosis penyebab kematian yang
tercatat didalam sertifikat kematian dibandingkan dengan verbal autopsi menurut dokter
spesialis dan diagnosis yang tercatat didalam verbal autopsi menurut dokter kloter
dibandingkan dengan verbal autopsi menurut dokter spesialis pada tahun 1431 H atau
2010 M. Penelitian ini menggunakan desain deskripstif cross sectional untuk melihat
gambaran epidemiologi kematian yang tercatat didalam sertifikat kematian sebanyak
451 orang, dan yang tercatat didalam verbal autopsi sebanyak 161 orang. Studi
reliabilitas dilakukan pada JHI yang tercatat didalam sertifikat kematian serta dilakukan
verbal autopsi, yaitu sebanyak 161 orang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
kematian baik yang tercatat didalam sertifikat kematian dan verbal autopsi, paling
banyak terjadi pada umur diatas 60 tahun, berjenis kelamin laki-laki, tingkat pendidikan
SD, dan wafat saat pasca-armina. Kematian paling banyak terjadi didalam sertifikat
kematian, yaitu saat berada di Mekkah, sedangkan pada verbal autopsi saat berada di
pondokan. Jenis pekerjaan terbanyak berdasarkan sertifikat kematian adalah petani,
sedangkan pada verbal autopsi adalah ibu rumah tangga. Penyakit dikelompokkan
menurut ICD-10. Tingkat reliabilitas setiap penyakit yang terdiagnosis antara sertifikat
kematian – verbal autopsi (dokter spesialis) dan verbal autopsi (dokter kloter) – verbal
autopsi (dokter spesilais), dilihat dengan menggunakan nilai kappa

ABSTRACT
This study discuss about distribution epidemiology of death in Jamaah Haji
Indonesia (JHI) and reliability study of diagnose cause of death that registered in
certificate of death to compared with autopsy verbal of doctor specialis, and autopsy
verbal of kloter doctor to compared with autopsy verbal of doctor specialis on 1431 H
or 2010 M. Research design of this study is descriptive cross sectional design to know
distribution epidemiology of death that registered in certificate of death as many of 451
people, and that registered in autopsy verbal as many of 161 people. Reliability of study
is done of JHI who registered both of certificate of death and autopsy verbal as many of
161 people. The result of this study showed is the most death both of registered in
certificate of death and autopsy verbal, that happen in age on 60 years old, the gender is
man, degress of education is elementary school, and death moment is pasca-armina. The
most happen of death in certificate of death is present at Meccah, while in registered in
autopsy verbal is present at lodgings. The most job that registered in certificate of death
is farmer, while in registered in autopsy verbal is housewife. The disease to grouped of
ICD-10. The degrees of reliability of each disease that diagnoses between certificate of
death – autopsy verbal (doctor specialis) and autopsy verbal (doctor kloter) – autopsy
verbal (doctor specialis) and it showed with kappa value"
2011
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Syaza Luthfani Udyaputri
"Masalah kesehatan jiwa yang terjadi pada 15% sampai 22% anak-anak dan remaja, namun yang mendapatkan pengobatan jumlahnya kurang dari 20% (Keys, 1998). Guru adalah orang yang paling bertanggung jawab atas perkembangan psikologis dan karakter anak di sekolah. Skripsi ini bertujuan untuk mengetahui hubungan latar belakang sosiodemografi, pengetahuan, dan sikap guru dengan perlakuan guru terhadap siswa dengan gangguan jiwa di SD I Al Azhar 1 Kebayoran Baru, Jakarta tahun 2011. Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan desain noneksperimental. Penelitian ini menemukan bahwa variabel yang berhubungan adalah jumlah anak dengan perlakuan guru terhadap siswa dengan gangguan jiwa. Disarankan dilakukan pembelajaran bagi calon guru dan pelatihan bagi guru dalam hal pengenalan, pemantauan, dan penanganan kesehatan jiwa pada anak.

Mental health problems occur in 15% to 22% of children and adolescents, but who get the treatment amount is less than 20% (Keys, 1998). Teacher is the most responsible person for child’s phsycological and character development in school. This thesis aims to determine the relationship between sociodemographic background, knowledge, and attitudes of teacher with teacher treatments towards students with mental health disordes at SD I Al Azhar 1 Kebayoran Baru, Jakarta in 2011. This is a quantitative research with non-experimental design. This study found that variable related is between number of children with teacher treatments towards students with mental disordes. This study suggests, pre and post education and training for teachers in terms of recognition, monitoring, and treatment of mental health in children should be held."
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 2011
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Fitriyani
"LATAR BELAKANG: Diabetes Melitus (DM) merupakan salah satu masalah kesehatan yang besar. Data dari studi global menunjukkan bahwa jumlah penderita Diabetes Melitus pada tahun 2011 telah mencapai 366 juta orang di dunia (IDF, 2011). Salah satu provinsi yang memiliki prevalensi Diabetes yang tinggi adalah Provinsi Banten. Prevalensi DM Provinsi Banten di daerah perkotaan sebesar 5,3% (mendekati angka nasional 5,7%) (Balitbangkes, 2008).
TUJUAN: Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan kejadian Diabetes Melitus Tipe 2 di Puskesmas Kecamatan Citangkil dan Puskesmas Kecamatan Pulo Merak, Kota Cilegon.
DISAIN: Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain cross sectional, yang merupakan analisis data sekunder dari data Program Pengendalian Diabetes Melitus Tipe 2 dan Faktor Risikonya di Kota Cilegon. Data dikumpulkan tahun 2011 dan analisis dilakukan tahun 2012.
HASIL: Prevalensi DM Tipe 2 adalah sebesar 4,4%. Variabel yang terbukti memiliki hubungan dengan kejadian DM Tipe 2 adalah aktivitas fisik (p: 0,032). Orang yang aktivitas sehari-harinya ringan memiliki risiko 2,68 kali untuk menderita DM tipe 2 dibandingkan dengan orang yang aktivitas fisik sehariharinya sedang dan berat (OR: 2,68; 95% CI: 1,11-6,46).

BACKGROUND: Diabetes Mellitus is one of big health problems. Global study showed that diabetician in 2011 had reached 336 millions people (IDF, 2011). One of provinces that had high prevalence of Diabetes Mellitus is Banten Province. The prevalence of Diabetes Mellitus in Banten Province in urban areas is 5,3% (approaching the national prevalence 5,7%) (Balitbangkes, 2008).
OBJECTIVE: The objective of this research was to investigate the risk factors that have correlation with Type 2 Diabetes Mellitus (T2DM) in Citangkil Primary Health Care and Pulo Merak Primary Health Care, Cilegon City.
DESIGN: This research was a quantitative research with cross sectional design. It used the secondary data of T2DM and Its Risk Factors Controlling Program in Cilegon City. Data was collected in 2011 and the analyzing was done in 2012.
RESULT: The Prevalence of T2DM was 4,4%. The variabel that have correlation with T2DM is physical activity (p value: 0,032). People who have low intensity in physical activity has 2,68 times probabilty to get T2DM than people who has middle and high intensity in phisycal activity (OR: 2,68; 95% CI: 1,11-6,46).
"
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 2012
S-Pdf
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Riskina Tri Januarti
"ABSTRAK
Sepanjang tahun 2003-2007 tercatat sebanyak 258.274 kecelakaan lalu
lintas telah terjadi di Indonesia dan telah merenggut 69.485 jiwa. Berdasarkan
angka kejadian kecelakaan lalu lintas yang masih tergolong tinggi ini,
diperkirakan setiap tahun rata-rata 13.877 jiwa meninggal di jalan raya. Khusus di
wilayah Satlantas Polres Bogor jika dibandingkan dengan tahun 2007, di tahun
2008 telah terjadi peningkatan kasus kecelakaan lalu lintas sebesar 15,18% (dari
162 kasus menjadi 191 kasus) yang rata-rata didominasi oleh pengendara
kendaraan bermotor roda dua. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui
gambaran epidemiologi dan faktor-faktor yang berhubungan dengan timbulnya
korban luka berat dan meninggal akibat kecelakaan lalu lintas di wilayah Satlantas
Polres Bogor, Januari 2008-Desember 2008.
Metodologi penelitian ini menggunakan desain studi cross sectional
dengan menggunakan sumber data sekunder yang di dapat dari laporan polisi
(bulanan) kecelakaan lalu lintas kendaraan bermotor roda dua pada unit Laka
Lantas Polres Bogor selama tahun 2008. Karakteristik sampel penelitian
ditentukan berdasarkan kriteria inklusi (kejadian kecelakaan yang melibatkan
sepeda motor dan menimbulkan korban luka berat dan meninggal serta memiliki
data/identitas yang lengkap) dan eksklusi. Jumlah sampel minimal dalam
penelitian ini sebanyak 81 sampel, namun untuk mengurangi kesalahan dalam
prediktabilitas maka digunakan seluruh sampel yang termasuk dalam kriteria
inklusi yaitu sebanyak 134 kasus kecelakaan untuk mewakili populasi studi.
Sampel penelitian yang ada dianalisis secara univariat (distribusi frekuensi) dan
bivariat (uji chi square dan uji t). Analisis hubungan dilakukan dengan melihat
nilai OR dan nilai p terhadap α (0,05) untuk melihat tingkat kemaknaan hubungan.
Dari 191 kecelakaan, 144 kasus diketahui melibatkan kendaraan
bermotor roda dua dan sebanyak 134 diantaranya menimbulkan korban luka berat
dan meninggal. Dengan rentang kepercayaan (CI) 95% diketahui bahwa dari 144
kejadian kecelakaan lalu lintas kendaraan bermotor roda dua yang menimbulkan
korban luka berat dan meninggal dunia di wilayah Satlantas Polres Bogor selama
Januari-Desember 2008, rata-rata pengendara berusia 26 tahun; sebagian besar
dialami oleh pengemudi berjenis kelamin laki-laki (93,1%); memiliki kondisi
yang sehat/tidak lelah, sakit, maupun mengantuk saat mengemudi (98,6%);
memiliki SIM (75,7%); terjadi sebagai akibat kecelakaan ganda (96,5%);
melibatkan kendaraan roda dua dengan roda empat/lebih (63,2%); terjadi pada
hari kerja (62,5%); antara pagi-siang hari (55,6%); saat cuaca cerah (74,3%);
dalam keadaan permukaan jalan yang baik/aspal halus (93,1%); pada jalur dua
arah (86,8%); dalam kondisi arus lalu lintas sedang (82,6%); dan terjadi di jalan yang lurus/bukan persimpangan maupun tikungan (77,1%). sedangkan faktor yang
secara signifikan berhubungan dengan timbulnya korban luka berat dan meninggal
pada kecelakaan lalu lintas kendaraan bermotor roda dua di wilayah Satlantas
Polres Bogor selama tahun 2008 yaitu arah lalu lintas dengan nilai p sebesar 0,004
dimana kecelakaan yang terjadi pada jalur lalu lintas dua arah beresiko 10 kali
lebih besar untuk menimbulkan korban dibandingkan dengan kecelakaan yang
terjadi pada jalur lalu lintas satu arah, sedangkan variabel lainnya diketahui tidak
berhubungan secara signifikan.
Berdasarkan hasil tersebut diatas maka sebaiknya beberapa pihak seperti
Pemerintah, Dinkes, Kepolisian, dan pihak terkait lainnya dapat menjalin
kemitraan dan melakukan upaya preventif dengan lebih memperkaya
peringatan/sosialisasi terkait dengan safety road, safety riding dan safety fasilities
untuk membangun kewaspadaan publik (public awareness) agar lebih berhati-hati
dalam berlalu lintas, mengenalkan masalah-masalah kelelahan bagi pengemudi,
mengoptimalkan Sistem Kewaspadaan Dini (SKD) terutama di lokasi jalan
dengan jalur dua arah dan lokasi jalan bukan persimpangan atau tikungan yang
beresiko tinggi untuk memicu terjadinya kecelakaan lalu lintas, serta lebih
mengoptimalkan sarana dan prasarana dalam berlalu lintas misalnya dengan
membangun tanggul pemisah atau membuat garis pemisah (separator) pada jalan
yang berjalur dua arah (berlawanan).
"
2009
S-Pdf
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
cover
Safhira Dwidanitri
"Prevalensi diabetes melitus di Indonesia terus meningkat terutama pada kelompok usia produktif. Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) terbaru 2018 menunjukkan bahwa DKI Jakarta sebagai provinsi dengan prevalensi DM tertinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan faktor risiko dengan DM Tipe 2 pada penduduk usia produktif di DKI Jakarta dengan menggunakan data Posbindu PTM tahun 2019. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain studi cross sectional. Jumlah sampel yang didapat yaitu 22.515 orang. Analisis yang digunakan pada penelitian ini yaitu hingga analisis multivariat dengan uji regresi logistik prediksi model ganda. Hasil penelitian didapat ada hubungan antara usia (POR 4,16; 95% CI 3,75 - 4,62), jenis kelamin (POR 0,75; 95% CI 0,67 - 0,84), riwayat keluarga DM (POR 4,83; 95% CI 4,35 - 5,37), pendidikan (POR 1,68; 95% CI 1,51 - 1,86), obesitas (POR 0,86; 95% CI 0, 77 - 0,97), obesitas sentral (POR 1,35; 95% CI 1,2 - 1,53), hipertensi (POR 1,42; 95% CI 1,28 - 1,57), konsumsi sayur dan buah (POR 1,32; 95% CI 1,18 - 1,48), dan merokok (POR 0,57; 95% CI 0,49 - 0,67) dengan DM Tipe 2. Aktivitas fisik tidak memiliki hubungan yang berhubungan dengan DM Tipe 2. Riwayat keluarga DM merupakan faktor risiko dominan DM Tipe 2 pada penelitian ini. Setelah adanya penelitian diharapkan untuk orang yang memiliki risiko tinggi DM untuk rutin memeriksakan kesehatannya dan menerapkan pola hidup sehat.
The prevalence of diabetes mellitus (DM) in Indonesia continues to increase, especially in the productive age group. The latest Basic Health Research (Riskesdas) data in 2018 data shows that DKI Jakarta is the province with the highest DM prevalence. This study aims to determine the risk factors associated with Type 2 Diabetes Mellitus among the productive age population in DKI Jakarta using Posbindu PTM data in 2019. This research is a quantitative study with a cross-sectional study design. The number of samples obtained was 22,515 people. The analysis used in this study is until multivariate analysis with multiple logistic regression tests of predictive models. The results obtained that age (POR 4.16; 95% CI 3.75 - 4.62), sex (POR 0.75; 95% CI 0.67 - 0.84), family history of DM (POR 4, 83; 95% CI 4.35 - 5.37), education (POR 1.68; 95% CI 1.51 - 1.86), obesity (POR 0.86; 95% CI 0.77 - 0.97 ), central obesity (POR 1.35; 95% CI 1.2 - 1.53), hypertension (POR 1.42; 95% CI 1.28 - 1.57), consumption of vegetables and fruit (POR 1, 32; 95% CI 1.18 - 1.48), and smoking (POR 0.57; 95% CI 0.49 - 0.67) were significantly associated with Type 2 Diabetes Mellitus. Physical activity does not have a significant relationship with Type 2 Diabetes Mellitus. Family history of DM is the dominant risk factor for Type 2 DM in this study. After this research is expected for people who have a high risk of DM to regularly check their health and adopt a healthy lifestyle."
Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, 2020
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2   >>