Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 136559 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Mann, Arthur
Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 1990
320.73 MAN ot
Buku Teks SO  Universitas Indonesia Library
cover
"[Tulisan ini merupakan sebuah etnografi berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan
dengan menggunakan metode kualitatif terhadap tiga orang informan. Tulisan ini
membahas pembentukan identitas perempuan Indonesia yang melakukan kawin
campur dengan laki-laki warga negara asing. Identitas ?istri dari laki-laki bule? yang
melekat pada perempuan pelaku kawin campur terbentuk melalui serangkaian proses
negosiasi kultural. Dalam tataran perilaku, negosiasi kultural berada dalam relasi
kuasa antara perempuan pelaku kawin campur dan suaminya. Sedangkan dalam
tataran pikiran, negosiasi kultural terjadi secara internal pada diri individu
perempuan pelaku kawin campur. Negosiasi kultural perempuan pelaku kawin
campur dilakukan untuk mempertahankan identitasnya serta merumuskan dirinya
dalam hibriditas., This study is an etnography based on qualitative research of three informants. The
study discuss the formation of Indonesian women identity that are involved in
intercultural marriage with men from foreign countries. The identity ?Spouse of
Foreigner? that sticks to women involved in intercultural marriage is formed through
series of cultural negotiations. From a perspective of level behavior, cultural
negotiations stands in power relations between the women involved in intercultural
marriage and her husband. Meanwhile, from a perspective of level of consciousness,
cultural negotiations take place internally in each and every individual woman
involved in intercultural marriage. Cultural negotiations of women involved in
intercultural marriage is performed to preserve their identity and to establish herself
into hybridity.]"
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2014
S57971
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Tisna Prabasmoro
"Tujuan tesis ini adalah menunjukkan permasalahan identitas dan kritik sosial yang dilakukan Baldwin, yang nampak pada beberapa esai, interview dan salah satu novelnya. Dari perspektif Kajian Budaya yang mendiskusikan pentingnya wacana identitas kelompok marginal, saya menemukan bahwa kritik-kritik Baldwin tersebut mempromosikan kesadaran orang Afrika Amerika akan hak-hak sipilnya sekaligus mendorong mapannya agenda identitas. Kritik yang merupakan suatu ajakan, usulan, atau anjuran kepada orang lain untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu telah dilakukan bertahun-tahun lamanya. Dalam sejarah orang Afrika Amerika kritik diikuti perjuangan-perjuangan sosial untuk mendapatkan hak-hak mereka dan menunjukkan keberatan - keberatan mereka terhadap bentuk-bentuk alienasi yang termanifestasi dalam prasangka, rasisme dan diskriminasi. Praktek-praktek tersebut diformulasikan dan secara tidak manusiawi dikukuhkan oleh kekuatan hukum kelompok ras kulit putih. Bagi Baldwin kritik-kritiknya tidak hanya perihal dirinya atau kelompok-kelompok ia berasal, namun juga termasuk didalamnya kelompok-kelompok yang menerima pengalaman-pengalaman alienasi yang lain yang juga menderita karena ketidakadaannya pengakuan.
Adalah permasalahan identitas yang Baldwin harus alami dan coba untuk utarakan melalui tulisan-tulisannya. Adalah juga permasalahan rasisme, diskrimnasi dan prasangka yang tidak menguntungkan yang telah menjadi praktek-praktek umum dalam komunitas yang terpinggirkan yang sebenarnya turut memberi andil dalam kehidupan Amerika saat ini. Pada tesis ini saya meneliti kritik-kritik sosial yang menunjukkan alasan-alasan Baldwin akan keberatan dan penolakannya terhadap bentuk-bentuk alienasi tersebut. Tesis ini menganalisis keterlibatan beberapa teori, persepsi kebudayaan dan pengalaman-pengalam historis yang mempengaruhi pengertian bagaimana seorang Afrika Amerika seperti James Baldwin didefinisikan secara rasial. Secara khusus tesis ini meneliti cara-cara Baldwin mendefinisikan dirinya dalam tatanan sejarah yang mengopresinya. Orang-orang Afrika Amerika telah mengalami the Middle Passage, perbudakan dan perang-perang orang kulit putih. Mereka juga pernah mengalami berada pada suatu kondisi yang tidak hanya meniadakan ras dan teori-teorinya, tetapi juga yang mempromosikan stereotip-sterotip orang hitam atau menyembunyikan identitas mereka.

The purpose of the thesis is to show James Baldwin's problems of identity and social critiques that come up in a number of his essays and interviews as well as one of his novel. From a cultural studies perspective that discusses the notion of identity in marginal discourses, I find that Baldwin's critiques promote civil rights awareness among African Americans and push forward the agenda for identity establishment. Critique as a means of inviting, proposing or recommending other people to attain certain objectives has been exercised in an inordinate length of time. In the history of African Americans, critique is ensued by forces of social struggles to claim the rights as to raise formidable objections to the forms of alienation manifested in and by, among others, prejudice, racialism and discrimination. Such practices are formulated and inhumanely bolstered by the dominating while race and their law. For Baldwin, his critiques are not only about himself or the crowds he belongs to. His critiques embrace the different experiences of alienation shared by the different marginalized groups of people undergoing absence of self-recognition.
It is the problem of identify that Baldwin has to endure and try to speak out about through his writings. It is the problem of racialism and discrimination, as well as unfavorable prejudices, which have become common practices in marginalized communities, that in fact have given shapes and colors to what America today. In this thesis, I examine the social critiques in some of James Baldwin's works that display grounds of his objection to and rejection of the alienation. It analyzes the implications of selected theoretical formulations, cultural perspectives, and historical experiences that influence notions on how an African American like James Baldwin is racially defined Specifically, my work investigates the way James Baldwin engages the task of self-definition in the face of an oppressive history. African Americans have experienced the Middle Passage, slavery, and white wars. They have also endured environment denying the existence of their race as well as racialized theories that have either promoted Black stereotypes or obscured African American identity.
"
Jakarta: Program Pascasarjana Universitas Indonesia, 2005
T15063
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Syafiah Sifa
"Tesis ini berusaha membongkar terjadinya dominasi Amerika dalam film Spanglish. Film yang bercerita tentang imigran Meksiko yang bekerja menjadi pembantu rumah tangga di rumah keluarga Amerika ini dianalisis secara semiotika Barthes yang menekankan kepada terjadinya ketimpangan identitas budaya orang Amerika dan Imigran dalam film produksi Amerika.Teori-teori yang digunakan adalah Hegemoni Gramsci dan Semiotika Barthes.Dalam penelitian tergambarkan bahwa ada hegemoni pada film produksi Columbia pitures ini.Secara kasat mata, dalam film tidak terlihat terjadinya hegemoni, namun setelah di analisis secara semiotika ditemukan adanya ideologi terselubung yaitu Rasisme dan Amerikanisme.Representasi identitas budaya yang dibangun oleh media ini bisa membantu kelompok dominan untuk melanggengkan ideologinya. Oleh karena itu, para peneliti menyarankan para sineas film bisa lebih berhati-hati dalam membangun makna melalui film mereka, karena film yang ditonton akan memberikan kontribusi kepada penonton atau merendahkan kelas subordinat.

This Thesis is trying to break down the american dominance in film Spanglish. The Film tells the story of immigrants Mexico who worksin American family as a housekeeper. This film is analyzed by a semiotics Barthes to see inequality inside cultural identity of Americans and immigrants. The research used hegemony theory Gramsci and semiotic technique of Roland Barthes's model. In research reflected that there are hegemony on this Columbia pictures Film. In this film, hegemony is not seen, but after it is analyzed by semiotic covert ideology have been found which are Racism and Americanism. The representation of cultural identity that built by media can help to perpetuate its ideology of dominant group. Therefore, the researcher suggestthe filmmakers to be more careful in constructing meaning through their films, since film has contribution to the audience in degrading the subordinate classes."
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2012
T30874
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
cover
Sita Zahra Matarani
"ABSTRAK
Studi ini meneliti eksklusi rapper etnis Korea Amerika dari musik rap dan usaha mereka untuk bertahan di industri dengan budaya rap yang didominasi orang kulit hitam di Amerika serikat. Dengan menggunakan Analisis Wacana Kritis Fairclough 1995 , penelitian ini akan membahas dua lagu oleh tiga rapper Korea Amerika lewat penanda tekstual, praktik diskursif, dan konteks sosial, dimana telah ditemukan bahwa para rapper ini me-reterritorialisasi musik rap melalui penanda linguistik dan pembuatan makna dalam proses untuk menegaskan identitas mereka masing-masing. Dalam konten lirik, para rapper ini mengkronologikan bobot karya mereka untuk menegaskan pengalaman etnis yang unik yang bertentangan dengan konten rap mainstream. Selanjutnya, para rapper ini tidak secara khusus menerapkan strategi puitis berbasis etnis seperti Hangeul bahasa Korea untuk membangun identitas etnik mereka, melainkan untuk mengkontekstualisasikan makna di dalam lagu-lagunya.

ABSTRACT
This study examines Korean American rappers rsquo displacement from rap music and the struggle to surface in the industry amongst the predominantly Black rap culture in the US. By employing Fairclough rsquo s Critical Discourse Analysis 1995 , the study will look into four songs by three Korean American rappers and its textual markers, discursive practice, and social context, and has found that these rappers reterritorialize rap via its linguistic markers and meaning making process to assert individual identities. In the lyrical contents, rappers historicize the contents of their work to assert a unique ethnic experience in opposition to mainstream rap. Next, rappers do not specifically employ ethnicity based poetic strategies such as the Hangeul Korean language to establish their ethnic identity, but rather to contextualize meaning within the songs."
2017
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Ahmad Syafa'at Junaidi
"Generasi kedua diaspora Palestina tanpa kewarganegaraan mana pun di Amerika memiliki identitas yang kompleks. Penelitian ini membahas identitas generasi kedua diaspora Palestina tanpa kewarganegaraan mana pun di Amerika yang terdapat dalam film Mo (2022). Film ini menarik karena mengangkat isu mengenai statelessness. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan menggunakan beberapa konsep yang meliputi konsep diaspora, identitas, bare life, dan postmemory sebagai landasan teori. Hasil penelitian menunjukkan bahwa generasi kedua diaspora Palestina mengalami krisis identitas di Amerika. Keadaan tanpa kewarganegaraan menjadi faktor utama terjadinya krisis identitas karena tidak memiliki konteks yang stabil untuk membangun identitasnya. Hal ini diperparah dengan perubahan kondisi setelah peristiwa serangan 11 September 2001 yang menyebabkan mereka mengalami keterasingan di Amerika. Krisis identitas sejalan dengan ketidaklengakapan warisan memori yang diterima oleh generasi kedua. Generasi kedua menerima warisan memori melalui transmisi familial berupa cerita, foto, dan keterangan legal dalam permohonan suaka dan transmisi affiliative berupa warisan memori yang diinternalisasi melalui hubungan emosional di luar hubungan keluarga. Internalisasi warisan memori traumatis membentuk identitas Palestina yang lebih stabil. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa narasi identitas dalam film memiliki kontribusi penting terhadap wacana mengenai statelessness yang sering kali terabaikan.

The second generation of Palestinian diasporas without any citizenship in America has a complex identity. This research discusses the identity of the second generation of the Palestinian diaspora without any citizenship in America, as contained in the movie Mo (2022). This movie is captivating because it raises the issue of statelessness. This research employs a qualitative approach, theoretically based on several concepts such as diaspora, identity, bare life, and postmemory. The results showed that the second generation of the Palestinian diaspora experienced an identity crisis in America. Statelessness is a major factor in the identity crisis because they do not have a stable context in which to build their identity. This was exacerbated by the changing conditions following the September 11, 2001, attacks, which caused them to feel alienated in America. The identity crisis coexists with the insufficiency of the memory legacy that the second generation inherits. The second generation receives memory inheritance through familial transmission in the form of stories, photos, and legal information in asylum applications, and affiliative transmission in the form of memory inheritance internalized through emotional relationships outside of family relationships. The internalization of traumatic memory heritage forms a more stable Palestinian identity. This research also reveals that identity narratives in films significantly contribute to the often overlooked discourse on statelessness."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, 2024
TA-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Iis Muhayaroh
"Penelitian ini berfokus kepada perubahan peran ayah dalam masyarakat Jepang modern dikarenakan adanya perubahan sosial yang terjadi dalam kehidupan masyarakat. Perubahan sosial juga terjadi pada peran dan identitas ayah di Jepang dimana saat ini muncul ayah yang menikmati merawat anak sambil bekerja yang disebut dengan ikumen. penyebutan ikumen sendiri dibuat oleh media dan kemudian didukung oleh pemerintah. Tetapi dalam pelaksanaannya ikumen mendapatkan hambatan dari perusahaan dan orang-orang sekitar yang masih menganut sistem patriarki di Jepang dimana mereka masih memiliki pandangan bahwa laki-laki bertugas mencari nafkah dan tidak memiliki hubungan dengan mengurus anak.
Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis bagaimana perubahan peran dan identitas ayah di Jepang dengan menggunakan teori perubahan sosial yang digagas oleh Anthony Giddens. Tesis ini menggunakan metode kualitatif dan wawancara langsung dengan ikumen yang tergabung dalam NPO Fathering Japan. Penelitian ini menemukan bahwa saat ini sudah banyak ayah yang memiliki keinginan untuk merawat anak atau paternal leave di Jepang meningkat.

This research focuses on the changes of father?s role within Japanese modern society due to social changes that happen in the life of people. Social changes also happen in the role and identity of father in Japan where it has now appear the type of father who enjoys caring for children while working which is called ikumen. The term of ikumen itself was made by media, and then in was supported by government. However, within is implementation, ikumen gets hindrance from companies and people who still embrance the patriarch system in Japan where they still hold the view that men are tasked to be breadwinners and have nothing to do with bringing up children.
The purpose of this research is to analyse to changes of father?s role and identity in Japan using social change theory by Anthony Giddens. This research used qualitative method and directly interviewed ikumen who are members of NPO Fathering Japan. It finds that right now there have been many fathers who have the desire to put family first. It is proven by amount of fathers who have taken paternity leave in Japan.
"
Jakarta: Program Pascasarjana Universitas Indonesia, 2015
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
cover
Yafi Sayyaf
"Tulisan ini berisikan penelitian yang bertujuan untuk melihat, mengargumentasikan, dan mendemostrasikan relasi dan implikasi antara masyarakat jejaring, identitas proyeksi, dan fenomena pascakebenaran (post-truth). Penelitian ini menggunakan teori masyarakat jejaring (network society) Manuel Castells sebagai landasan teori utama. Fenomena pascakebenaran yang dibahas pada tulisan ini terfokus pada gelembung penapis informasi (filter bubble) dan problem validitas informasi. Penelitian ini menggunakan metode analitis kritis untuk menelaah implikasi yang ditimbulkan dari relasi antara masyarakat jejaring, identitas proyeksi, dan fenomena pascakebenaran. Terjadi degradasi kepercayaan terhadap institusi sumber kebenaran yang objektif. Peneliti melihat bahwa identitas proyeksi masyarakat jejaring sering kali memproduksi, menyebarkan. Dan menerima informasi yang subjektif terhadap kelompok atau identitasnya. Oleh karena itu, menghasilkan subjektivitas informasi dan hilangnya validitas informasi yang berada dalam masyarakat jejaring. Hal ini terjadi karena sistem informasi yang terfragmentasi dalam gelembung algoritma internet. Dengan demikian identitas proyeksi dan fenomena pascakebenaran, khususnya gelembung penapis informasi, berimplikasi pada bias validitas informasi yang objektif.

This paper contains research that aims to see, argue for, and demonstrate the relationships and implications between networked societies, projected identities, and post-truth phenomena. This study uses Manuel Castells' theory of network society as its main theoretical basis. The post-truth phenomenon discussed in this paper focuses on filter bubbles and the problem of information validity. This study uses critical analytical methods to examine the implications arising from the relationship between networked societies, projected identities, and post-truth phenomena. There is a degradation of trust in the institution of an objective source of truth. Researchers see that the projected identity of network society often produces and disseminates And receive subjective information about the group's identity. Therefore, it results in the subjectivity of information and the loss of validity of information that resides in a networked society. This happens because information systems are fragmented in internet algorithm bubbles. Thus, identity projection and post-truth phenomena, especially information filter bubbles, have implications for objective information validity biases."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, 2023
MK-pdf
UI - Makalah dan Kertas Kerja  Universitas Indonesia Library
cover
Tampubolon, Natalia Rialucky
"Penelitian ini membahas mengenai hubungan antara sistem internasional dan proses konstruksi identitas individu dalam kasus Homegrown Terrorism di Amerika Serikat pada tahun 2001 ? 2009. Bergerak dari latar belakang tragedi 11 September 2001 yang memulai kebijakan war on terror di Amerika Serikat, fenomena homegrown terrorism dimana warganegara Amerika teradikalisasi dan melakukan aksi teror menyerang negaranya menjadi sebuah anomali dan menarik untuk diteliti. Penulis menganalisis 26 studi kasus homegrown terrorists di Amerika Serikat untuk mengidentifikasi apakah ada pengaruh dari sistem internasional dalam self-narrating process pada saat individu tersebut mengkonstruksi identitasnya menjadi radikal. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa tragedi 11 September 2001 telah menciptakan konteks baru bagi individu dalam menkonstruksikan identitasnya, dimana sistem internasional yang direpresentasikan oleh; kebijakan luar negeri Amerika Serikat yang represif terhadap kaum Muslim, kesuksesan strategi propaganda Al-Qaeda untuk mempersuasi kaum Muslim di Amerika menjadi radikal dan transformasi karakter media mendorong individu untuk mengadopsi identitas Islam radikal.

This research explores the relationship between international system and the process of individual identity construction in the case of Homegrown Terrorism in the United States of America (2001 ? 2009). The 11th September 2001 tragedy has become a landmark on the initiation of the war on terror by the government of the United States of America. However the case of homegrown terrorism, where American born citizens became radicalized and attacked their own country, stood as an anomali when the government expected the citizens to be in line with the country?s policy. The author analyzed 26 study cases of homegrown terrorists and identify through their direct speech act on whether or not the international system influence their decisions to be self-radicalized. The research presents that the 11 September 2001 tragedy has posed a new context for Moslems in America in constructing their identity, where the perceptions of the international system, as represented by the American represive policy towards Moslems, Al-Qaeda?s propaganda and media transformation, results in the selfradicalization process."
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2012
S-Pdf
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>