Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 121008 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Ulfi Nur Arsa Putri
"ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara persepsi siswi tentang budaya dan peraturan sekolah dengan tingkat religiositas para siswi di Sekolah Menengah Atas Negeri studi SMAN 1 Padang Panjang dan SMAN 2 Padang Panjang Budaya sekolah yang digunakan dalam penelitian ini dari konsep Deal dan Peterson 1999 yaitu visi misi dan nilai sekolah ritual dan perayaan sekolah dan terakhir arsitektur dan artifak sekolah Selanjutnya dari aspek peraturan sekolah peneliti melihat dari bagaimana pandangan para siswi terhadap aturan tata tertib sekolah yang memasukkan unsur keagamaan didalamnya serta bagaiaman para siswi mengimplementasikan peraturan sekolah yang ada Sedangkan untuk aspek religiositas akan mengacu pada konsep religiositas yang diutarakan oleh Glock dan Stark 1974 yaitu terdiri dari 1 religious belief 2 religious experience 3 relgious knowledge 4 religious consequence dan 5 religious practice Pendekatan penelitian ini adalah kuantitatif eksplanatif Di mana subjek penelitiannya adalah siswi kelas XI SMAN Kota Padang Panjang Sampel yang diambil menggunakan metode simple random sampling Pada penelitian ini dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang positif antara budaya sekolah dan peraturan sekolah dalam mempengaruhi tingkat religiositas para pelajarnya Namun di antara kedua variabel tersebut variabel peraturan sekolah memiliki kecenderungan kekuatan yang lebih tinggi dibandingkan dengan variabel budaya sekolah.

ABSTRACT
This study aims to understand the relation between culture and regulations of school with the level of religiosity in public high school student study of SMAN 1 dan SMAN 2 Padang Panjang School culture used in this study from the concept of Deal and Peterson 1999 are visi misi and the value of school rituals and the celebration of school and the artefacts and architecture of school The aspect of the school rules in this study to see how the views of students about including religious elements inside the rules of school andd how the regulation implements While for religiosity aspect will be referring to the concept of religiosity that mentioned by Glock and Stark 1974 is composed of 1 the religious belief 2 the religious experience 3 the relgious knowledge 4 religious consequence and 5 religious practice The approach of this study is quantitative eksplanative In which the subject of his research is XI grades os students in SMA N Padang Panjang The sample of study taken by using simple random sampling method The result indicate that there is a positive relationship between culture and regulations of school with the level of geligiosity students But in between those two variables variable school regulation having a tendency a higher power compared with a variable culture school "
2015
S61324
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Zulfa Defison
"[ABSTRAK
Kebudayaan, khususnya komponen nilai, dapat dipelajari melalui proses
pendidikan. Pendidikan menjadi isu penting karena pendidikan memainkan peran
yang penting dalam sosialisasi pada diri anak-anak. Menjadi sesuatu yang
kontradiktif ketika budaya di sekolah bertentangan budaya di masyarakat,
khususnya budaya di sebagian kalangan pelajar. Misalnya, masyarakat tidak
membenarkan kenakalan pelajar seperti tawuran, pergaulan bebas dan penyalah
gunaan narkoba. Tetapi justru sebagian pelajar justru terlibat dalam kenakalan
pelajar tersebut.Sekolah sebagai lembaga pendidikan tentunya mempunyai peran
penting untuk membendung kenakalan pelajar. Sekolah pada umumnya memiliki
visi, misi, nilai, program dan tata tertib yang menentang kenakalan pelajar
tersebut. Visi, misi, nilai, program dan tata tertib sekolah dapat disebut sebagai
school culture. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan school culture di
SMA Islam Terpadu Nurul Fikri (SMAIT NF) Depok. Penelitian ini
menggunakan pendekatan kualitatif dengan strategi studi kasus.
Nilai SMART merupakan inti school culture SMAIT NF Depok. School culture
SMAIT NF Depok secara umum cukup berjalan cukup baik. Hal tersebut
didukung oleh pelaksanaan sosialisasi SMART sejak Masa Orientasi Sekolah
(MOS). SMART juga dimasukkan ke dalam buku pedoman tata tertib siswa dan
dievaluasi setiap bulan. SMART juga berlaku bagi guru dan karyawan tetapi
sosialisasi dan evaluasi belum optimal. Tetapi elemen school culture yang masih
lemah di SMAIT NF Depok adalah dokumentasi sejarah dan artefak simbolik.
Nilai SMART yang berlaku bagi semua warga SMAIT NF Depok baik siswa,
guru maupun karyawan seharusnya didukung oleh kebijakan, konsep dan berbagai
perangkat yang lebih tepat guna. Sehingga nilai SMART secara konkret dapat
bekerja sebagai inti shoool culture SMAIT NF Depok.

ABSTRACT
Culture, especially a value component can be learnt through a learning process.
Education becomes an important issue because education plays the crucial role in
socialization especially for children. Being a contradictive when culture in the school
is against the culture in society, especially the culture in students. For instance, the
society blames teenages delinquency for example riot and loothing, free sex, and
drug abuse. However a part of the students are involved in the teenages delinquency.
School as the education institution has the crucial role to prevent teenages
delinquency. Generally, school owns vision, missions, values, program and
regulations which are against the teenages delinquency. Vision, missions, values,
program and regulations are mentioned as a school culture. The research aims to
describe school culture in Nurul Fikri Depok Integrated Islamic Senior High School
(SMAIT NF). This research uses qualitative approach by case study strategy.
SMART value is the core of the school culture of SMAIT NF Depok. Generally, the
school culture of SMAIT NF Depok carries out well. It has been supported by an
implementation of SMART socialization since School Orientation Period
(SOP/MOS). SMART is included in a guidance book of students regulations and it
is evaluated every month. SMART is also intended for teachers and staff, however
the socialization and evaluation have not been optimal. The weak elements of school
culture in SMAIT NF Depok are historical documentation and symbolic artefact.
SMART value which is valid for all SMAIT NF Depok society both students,
teachers and staff must be supported by the exact and useable policy, concept and
various frames. Therefore SMART value can concretely work as the school culture
core of SMAIT NF Depok, Culture, especially a value component can be learnt through a learning process.
Education becomes an important issue because education plays the crucial role in
socialization especially for children. Being a contradictive when culture in the school
is against the culture in society, especially the culture in students. For instance, the
society blames teenages delinquency for example riot and loothing, free sex, and
drug abuse. However a part of the students are involved in the teenages delinquency.
School as the education institution has the crucial role to prevent teenages
delinquency. Generally, school owns vision, missions, values, program and
regulations which are against the teenages delinquency. Vision, missions, values,
program and regulations are mentioned as a school culture. The research aims to
describe school culture in Nurul Fikri Depok Integrated Islamic Senior High School
(SMAIT NF). This research uses qualitative approach by case study strategy.
SMART value is the core of the school culture of SMAIT NF Depok. Generally, the
school culture of SMAIT NF Depok carries out well. It has been supported by an
implementation of SMART socialization since School Orientation Period
(SOP/MOS). SMART is included in a guidance book of students regulations and it
is evaluated every month. SMART is also intended for teachers and staff, however
the socialization and evaluation have not been optimal. The weak elements of school
culture in SMAIT NF Depok are historical documentation and symbolic artefact.
SMART value which is valid for all SMAIT NF Depok society both students,
teachers and staff must be supported by the exact and useable policy, concept and
various frames. Therefore SMART value can concretely work as the school culture
core of SMAIT NF Depok]"
2012
T43539
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
cover
Rizka Dyah Utami
"Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh sosial, ekonomi, dan demografi serta rasa ketidakberdayaan rumah tangga terhadap peluang anak untuk sekolah pada jenjang SD, SMP, dan SMA. Data yang digunakan peneliti adalah SUSENAS 2013 berupa individu anak usia SD, SMP, dan SMA yang tinggal satu rumah dengan kepala rumah tangga. Dengan menggunakan metode logit, hasil yang ditemukan adalah bahwa interaksi antara rasa kemampuan pendapatan dengan pengeluaran Rumah Tangga per kapita berpengaruh positif dan signifikan terhadap peluang anak untuk sekolah pada jenjang SD, SMP, dan SMA dibandingkan rumah tangga yang tidak memiliki rasa kemampuan pendapatan dalam rumah tangga. Hal ini menunjukkan bahwa adanya korelasi antara pengukuran kesejahteraan secara subjektif dan objektif yaitu berupa rasa kemampuan pendapatan dan pengeluaran RT per kapita.

This study aims to look at the influence of perception in powerlessness with the probability of a child to attend school in elementary, junior high school, and high school. Using data SUSENAS 2013, the sample that will be used is individual with the age of elementary, middle school, and high school who lives under the same roof with the head of the household. By using the logit method, this reserach found that the interaction between the sense of revenue capability and expenditure per capita on Household is positive and significant effect on the probability of a child to participate school in elementary, middle school, and high school, compared to Households that does not have the sense of revenue capability. This show that there is a correlation between the subjective measurement and objective measurement of well-being in the form sense of revenue capability and expenditure per capita.
"
Depok: Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, 2016
S63784
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
cover
Sakran
"Dalam tesis ini mengukur efektivitas pelaksanaan supervisi akademik oleh pengawas sekolah di SMA Negeri 2 Bantaeng berdasarkan persepsi guru. Permasalahan yang terjadi di SMA Negeri 2 Bantaeng adalah tidak berjalannya pelaksanaan supervisi akademik oleh pengawas rumpun mata pelajaran, sehingga supervisi akademik dilaksanakan oleh pengawas pembina. Tujuannya adalah untuk menganalisis efektivitas pelaksanaan supervisi akademik oleh pengawas sekolah di SMA Negeri 2 Bantaeng menurut persepsi guru. Metode yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif dengan jumlah responden sebanyak 58 orang guru. Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa pelaksanaan supervisi akademik oleh pengawas sekolah di SMA Negeri 2 Bantaeng kurang efektif menurut persepsi guru.

In this thesis measure the effectiveness of academic supervision by school Supervisor in SMA Negeri 2 Bantaeng by teachers perceptions. The problems that occur in SMA Negeri 2 Bantaeng is not the passage of implementing academic supervision by school Supervisors subject clusters, so that academic supervision carried out by supervisors builder. The aim is to analyze the effectiveness of the implementation of academic supervision by school Supervisors as perceived by teachers. The method used is descriptive quantitative by the number of respondents were 58 teachers. The conclusion from this study is that the implementation of academic supervision by school supervisor in SMA Negeri 2 Bantaeng less effective as perceived by teachers."
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2013
T35286
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Julia Jasmine
"Penelitian ini dilakukan untuk mendapatkan gambaran mengenai hubungan antara persepsi siswa terhadap program Bimbingan Konseling (BK) Karir dan adaptabilitas karir pada siswa SMA kelas 3 di Jakarta. Pengukuran persepsi siswa terhadap BK Karir dikembangkan berdasarkan Tujuan BK Karir pada Permendikbud No. 111 Tahun 2014 dan terbagi ke dalam dua aspek yaitu kurikulum BK Karir dan Guru BK. Pengukuran adaptabilitas karir diukur menggunakan Skala Adaptabilitas Karir (Indianti, 2015) yang disesuaikan untuk anak SMA. Partisipan berjumlah 272 siswa SMA yang berasal dari sekolah negeri dan swasta.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ada hubungan antara BK Karir yang dipersepsi positif oleh siswa dengan adaptabilitas karir (r = 0,144; p = 0,009; signifikan pada L.o.S 0,01). Artinya semakin tinggi peran BK Karir yang dipersepsi positif oleh siswa, maka semakin tinggi adaptabilitas karirnya. Selain itu, penelitian juga membuktikan bahwa kurikulum karir memiliki koefisien korelasi lebih besar daripada guru BK. Berdasarkan hasil tersebut, diharapkan program bimbingan konseling karir di sekolah mampu meningkatkan kualitas kurikulum BK Karir dan guru BK agar siswa tidak mengalami kesulitan dalam memutuskan karir selepas SMA.

This research was conducted to find the correlation between student perception toward Career Counseling program and career adaptability among 3rd grader students in Senior High School in Jakarta. Students? perception in Career Counseling was measured by adapting The Vision of School Counseling Program which stated in Permendikbud No. 111 Tahun 2014 and divided into two aspects which are career curriculum and teacher. Meanwhile career adaptability was measured by Skala Adaptabilitas Karir (Indianti, 2015) which adjusted to high school students. Number of participants in this research was 272 students came from public and private senior high school in Jakarta.
Result of this research shown that career counseling which is perceived positively by students has a correlation with career adaptability (r = 0,144; p = 0,009; significant at L.o.S 0,01). Which means, the higher amount of career counseling perceived positively, the higher career adaptability. Research also found that career curriculum has higher correlation coefficient than teacher. The research result could be used to improve the quality of curriculum and teacher to develop students? career adaptability.
"
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2016
S65586
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Raden Ayu Khairun Nisa
"Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat apakah ada sumbangan bermakna yang diberikan self-esteem, dukungan orang tua, guru, dan teman sebaya secara bersama-sama terhadap kepuasan sekolah siswa tunarungu di SMP dan SMA/SMK inklusi. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa keempat variabel bebas tersebut memberikan sumbangan bermakna terhadap kepuasan sekolah. Penelitian dilakukan dengan pendekatan kuantitatif yang melibatkan 50 responden yang merupakan siswa tunarungu di sekolah inklusi. Sementara itu, berdasarkan hasil regresi sederhana secara masing-masing self-esteem, dukungan guru, dan teman sebaya memberikan sumbangan yang bermakna, sedangkan dukungan orang tua tidak memberikan sumbangan bermakna terhadap kepuasan sekolah.

The purpose of this study was to investigate the significant contribution of self-esteem, parental support, teacher support, and peer support simultaneously to the school satisfaction of deaf students in inclusive junior and senior high schools. The results showed that the four independent variables had significant contribution to school satisfaction This research was conducted using quantitative approach involving 50 deaf students of inclusive schools as respondents. Meanwhile, based on a simple regression of each independent variables, selfesteem, teacher and peer support had meaningful contributions, while the parental support did not contribute significantly to the school satisfaction.
"
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2012
T31188
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
cover
Sulivan Fitriati
"ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk melihat hubungan antara persepsi siswa terhadap kehangatan guru dan keterlibatan emosi dalam belajar pada siswa sekolah dasar. Penelitian ini melibatkan sebanyak 121 partisipan yang merupakan siswa kelas 4 dan 5 sekolah dasar di beberapa sekolah dasar yang terletak di Jakarta Selatan. Berdasarkan analisis perhitungan data, ditemukan bahwa terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara persepsi siswa terhadap kehangatan guru dan keterlibatan emosi dalam belajar pada siswa sekolah dasar. Hal ini menunjukkan bahwa semakin siswa merasakan adanya kehangatan dari gurunya maka semakin siswa merasa nyaman dalam belajar. Selain itu, ditemukan pula hubungan yang negatif dan signifikan antara persepsi siswa terhadap kehangatan guru dan disafeksi emosi siswa dalam belajar. Fakta ini menunjukkan bahwa semakin siswa merasa guru tidak menunjukkan kehangatan maka semakin siswa merasa tidak nyaman dalam belajar. Implikasi dari penelitian ini didiskusikan lebih lanjut.

ABSTRACT
The purpose of this study is to investigate if there is any relationship between student perception of teachers’ warmth and elementary school students’ emotional engagement in learning. There are 121 participants in this study, who are going through elementary education in the 4th and 5th grade. Through data analysis, result shows that there is a positive and significant relationship between student perception of teachers’ warmth and emotional engagement in learning. This shows that when students feel the warmth of their teachers, they will feel happy at learning in the classroom. Further analysis shows that there is a negative and significant relationship between student perception of teachers’ warmth and disaffected emotion which shows that if students doesn’t feel their teachers’ warmth, they will feel more uncomfortable at learning in class. Implications of this study will be discussed.
"
2015
S60880
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Uswatun Khasanah
"Kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) antara lain ditemukan oleh dua faktor yang satu sama lain saling berhubungan, berkaitan dan saling bergantung yakni pendidikan dan kesehatan. Sekolah sebagai institusi pendidikan dianggap sebagai sarana yang tepat untuk memberikan pelayanan pendidikan dan kesehatan secara terintegrasi. Mengingat Strategisnya peran sekolah tersebut, maka sejak tahun 1992 pemerintah menerapkan program Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) di SD, SMP, dan SMA. Sebagai unit kesehatan di sekolah, UKS diharapkan dapat mampu meningkatkan derajat kesehatan anak usia sekolah melalui perilaku hidup sehat sehingga dapat mendukung peningkatan prestasi belajar.
Penelitian dengan desain korelasi ini benujuan untuk mengidentitikasi keterkaitan antara pelaksanaan program UKS dengan perilaku hidup sehat anak usia sekolah. Sampel penelitian berjumlah 63 siswa kelas V dan VI yang diperoleh melalui metode stratified random sampling. Analisis data dilakukan dengan menggunakan korelasi pearson dengan tingkat kemaknaan 0,05.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan yang bermakna antara pelaksanaan program UKS dengan perilaku hidup sehat anak usia sekolah (p=0,l4'?). Rekomendasi penelitian ini adalah perlu adanya upaya yang saling mendukung antara sekolah dan orang tua siswa dalam meningkatkan perilaku hidup sehat anak usia sekolah."
Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2007
TA5311
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>