Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 165947 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Robiyatul Adawiyah, supervisor
"Hidrosefalus adalah adanya peningkatan cairan serebrospinal (CSS) otak yang disebabkan ketidakseimbangan antara produksi dan absorpsi CSS atau sumbatan pada ventrikel otak. Penurunan kapasitas adaptif merupakan masalah utama pada anak hidrosefalus. Pemberian posisi elevasi kepala 15 sampai 30 derajat ialah intervensi keperawatan yang aman dan mandiri. Karya tulis ini menggambarkan dampak pemberian posisi elevasi kepala 15 sampai 30 derajat pada anak dengan hidrosefalus untuk menstabilkan tekanan intrakranial (TIK) dan memelihara stabilitas CSS. Intervensi ini dilakukan pada anak selama tiga hari. Maka direkomendasikan untuk memberikan posisi elevasi kepala 15 sampai 30 derajat pada anak dengan hidrosefalus untuk menstabilkan perubahan TIK.

Hydrocephalus is an increased cerebrospinal fluid (CSF) of the brain caused by an imbalance of CSF production and absorption or obstruction in brain ventricles. Decreased intracranial adaptive capacity is main nursing care problem for this client. Head up 15 to 30 degrees position is safe and independent nursing care. This paper aims to describe impact result of head up 15 to 30 degrees position in children with hydrocephalus to stabilize intracranial pressure (ICP) changes and maintain stability of cerebral perfusion fluid. This intervention was performed for a child in 3 days. It is recommended to provide head up 15 to 30 degrees position in children with hydrocephalus to stabilize ICP changes.
"
Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2015
PR-Pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Siti Nurhayati
"Hidrosefalus merupakan keadaan yang disebabkan gangguan keseimbangan antara produksi dan absorpsi cairan serebrospinal dalam sistem ventrikel otak. Pembedahan merupakan cara yang efektif dalam mengatasi penyakit ini mulai dari pemasangan sampai dengan pelepasan pirau ventrikuloperitoneal. Nyeri merupakan salah satu masalah keperawatan yang dapat muncul pasca pembedahan. Penulisan karya ilmiah akhir ini bertujuan untuk memberi gambaran asuhan keperawatan pada klien anak usia sekolah yang mengalami hidrosefalus dengan salah satu intervensinya adalah terapi bermain permainan elektronik, distractor nyeri. Hasilnya menunjukkan penurunan skala nyeri. Rekomendasi dari karya ilmiah ini adalah menjadikan terapi bermain yang variatif sebagai salah satu Standar Operasional Prosedur (SOP) di pelayanan.

Hydrocephalus is a symptom which is the result of balance disorder of production and absorption cerebrospinal fluid in brain ventricle system. Surgical is an effective way to solve this case begin with the entering until removal vp shunt. Pain is one of nursing problems of post operation. The objective of this study was to ascertain the effect if electronic game therapy in decreasing pain scale in a school age child with hydrocephalus who had been through an electronic game of pain distraction therapy. Result of this study indicated that there is an effect in decreasing pain scale. This study suggest that a health care institution should considered this therapy to be applied in nursing service.
"
Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2013
PR-Pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Hafidzah Fitriyah
"Kejadian hidrosefalus merupakan kasus terbanyak pertama dalam pada Januari-Maret 2013 di ruang bedah anak RSUP Fatmawati Jakarta. Salah satu penatalaksanaan medis bagi anak dengan hidrosefalus adalah operasi VP shunt. Terapi farmakologi maupun nonfarmakologi diberikan untuk menangani nyeri pada pasien hidrosefalus post operasi. Hal tersebut menjadikan dasar tujuan karya ilmiah ini untuk memberikan asuhan keperawatan pada anak dengan hidrosefalus post operasi VP shunt. Salah satu terapi untuk mengatasi nyeri secara non farmakologi adalah dengan menggunakan non-nutritive sucking. Nyeri pada neonatus dapat dikaji menggunakan skala nyeri neonatus dengan nilai 0-7. Penggunaan non-nutritive sucking ini efektif digunakan untuk mengurangi nyeri pada eonates pada saat prosedur eonates. Hasil penerapan dari intervensi yang telah dilakukan pada anak dengan hidrosefalus post operasi VP shunt dengan diagnosa keperawatan nyeri yaitu nyeri teratasi dibuktikan dengan adanya penurunan skala nyeri dari skala 6 ke skala 2.

Hydrocephalus was the first biggest cases in January-March 2013 at pediatric surgery ward in RSUP Fatmawati Jakarta. One of medical treatments for child with hydrocephalus is VP shunt surgery. Pharmacological and nonpharmacological therapy given to treat pain in patient with hydrocephalus postoperative. It makes the basic purpose of this manuscript to provide nursing care to children with hydrocephalus postoperative VP shunt. One of nonpharmacological therapy to treat the pain is using non-nutritive sucking. Pain in neonates can be assased by using neonates pain scale with score 0-7. The use of non-nutritive sucking is effectively used to reduce pain in neonates during invasive procedures. The result of the application the interventions in children with hydrocephalus postoperative VP shunt with a nursing diagnosis of pain, pain can resolved by a decrease in pain scale from scale 6 to scale 2.
"
Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2013
PR-Pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Siti Nursolekhah
"Hidrosefalus merupakan salah satu penyakit kronik yang terjadi pada anak yang dapat menimbulkan konsekuensi negatif bagi anak dan keluarga, untuk itu diperlukan koping konstruktif untuk mengatasi masalah-masalah yang muncul. Salah satu koping yang dapat digunakan yaitu koping yang berhubungan dengan agama.Tujuan penelitian adalah untuk mengeksplorasi pengalaman religiusitas ibu yang memiliki anak penderita hidrosefalus. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Jumlah partisipan dalam penelitian enam ibu yang memiliki anak penderita hidrosefalus. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling. Analisis data menggunakan metode Collaizi. Hasil penelitian mengidentifikasi 4 tema, yaitu kadang naik kadang turun, memaknai penyakit yang dialami anak, mendekat pada Allah, dan mempererat hubungan dengan sesama. Rekomendasi dari penelitian ini adalah mengembangkan inovasi pelayanan keperawatan dalam memberikan asuhan keperawatan secara holistik pada ibu yang memiliki anak penderita hidrosefalus sehingga kebutuhan religiusitas ibu dapat terpenuhi.

Hydrocephalus is one of the chronic diseases that occur in children that can have negative consequences for children and families, for it needed a constructive coping to overcome the problems that arise. One coping that can be used is coping related to religion. The aim of the research is to explore the religiosity experience of mothers who have children with hydrocephalus. This research uses qualitative method with phenomenology approach. The number of participants in the study of six mothers who had children with hydrocephalus. Sampling technique using purposive sampling. Data analysis using Collaizi method. The results of the study identified four themes, namely feelings of unhappiness, understanding the disease experienced by children, closer to God, tighten relationships with other human beings. The recommendation of this research is to develop nursing service innovation in giving holistic nursing care to mothers who have children with hydrocephalus, so that the religiosity needs of mothers can be fulfilled.
"
Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2017
T48181
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Farhani Dea Asy-Syifa
"Hidrosefalus merupakan kondisi akumulasi cairan serebrospinal didalam sistem ventrikel otak yang seiring waktu dapat menekan dan melukai otak disekitarnya. Analisis dilakukan pada pasien anak laki-laki berusia 11 tahun yang mengalami hidrosefalus obstruktif non komunikans. Diagnosis keperawatan yang muncul adalah penurunan kapasitas adaptif intrakranial, konstipasi, dan risiko infeksi. Intervensi pemberian posisi head up elevasi 30 derajat dilakukan selama 5 hari. Hasil yang didapatkan adalah pemberian posisi head up elevasi 30 derajat efektif untuk mengurangi keluhan pasien terkait tanda dan gejala peningkatan tekanan intrakranial. Dapat disimpulkan, pemberian posisi head up elevasi 30 derajat dapat dilakukan untuk menurunkan tekanan intrakranial. Pemberian posisi head up elevasi 30 derajat adalah salah satu tindakan non invasif yang terbukti dapat menurunkan tekanan intrakranial pada pasien-pasien yang memiliki masalah peningkatan tekanan intrakranial. Prosedur pemberian posisi head up elevasi 30 derajat mudah untuk dilakukan secara mandiri baik oleh perawat, tenaga kesehatan lain, hingga keluarga pasien.

Hydrocephalus is a condition of accumulation of cerebrospinal fluid in the ventricular system of the brain which over time can compress and injure the surrounding brain. The analysis was performed on an 11-year-old boy who had non-communicating obstructive hydrocephalus. The nursing diagnoses are decreased intracranial adaptive capacity, constipation, and risk of infection. The intervention of giving a 30 degree elevation head-up position was carried out for 5 days. The results obtained are that giving a 30 degree elevation head-up position is effective in reducing patient complaints related to signs and symptoms of increased intracranial pressure. It can be concluded, giving a head up position of 30 degrees elevation can be done to reduce intracranial pressure. Giving a 30 degree elevation head-up position is one of the non-invasive measures that is proven to reduce intracranial pressure in patients who have problems with increased intracranial pressure. The procedure for giving a 30 degree head-up elevation position is easy to do independently, both by nurses, other health workers, and the patient's family."
Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2023
PR-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Amiroh Fauziah A.G.A
"Hidrosefalus merupakan suatu kondisi yang ditandai dengan adanya kelebihan atau adanya akumulasi cairan serebrospinal/cerebrospinal fluid (CSF) di dalam ventrikel dan ruang subarachnoid dari rongga tengkorak. Salah satu penatalaksanaan medis yang dilakukan pada pasien dengan hidrosefalus adalah dengan pemasangan VP shunt. Masalah yang sering terjadi pada pasien dengan hidrosefalus adalah nyeri akut, penurunan kapasitas adaptif intrakranial, dan risiko infeksi. Tujuan dari penulisan karya ilmiah adalah untuk menguraikan hasil analisis asuhan keperawatan yang diberikan kepada pasien hidrosefalus dengan penurunan kapasitas adaptif intrakranial dengan posisi semi fowler. Kemudian, penulisan ini juga bertujuan untuk menjelaskan gambaran dari hasil pemberian asuhan keperawatan kepada pasien. Pemberian posisi semi fowler diberikan untuk mengurangi tekanan intrakranial. Berdasarkan hasil penelitian ini, penerapan intervensi pemberian posisi semi fowler sebagai intervensi untuk menurunkan tekanan intrakranial pada pasien dengan hidrosefalus terbukti dapat menurunkan keluhan nyeri, mual, muntah, dan penurunan kesadaran.

Hydrocephalus is a condition characterized by excess or accumulation of cerebrospinal fluid (CSF) in the ventricles and the subarachnoid space of the skull cavity. One of the medical treatments performed in patients with hydrocephalus is the installation of a VP shunt. Problems that often occur in patients with hydrocephalus are acute pain, decreased intracranial adaptive capacity, and risk of infection. The purpose of writing scientific papers is to describe the results of the analysis of nursing care given to hydrocephalus patients with decreased intracranial adaptive capacity with semi-Fowler's position. Then, this paper also aims to explain the description of the results of providing care to patients. Semi-Fowler's position is given to reduce intracranial pressure. Based on the results of this study, the application of the intervention of giving the semi-Fowler's position as an intervention to reduce intracranial pressure in patients with hydrocephalus has been shown to reduce complaints of pain, nausea, vomiting, and decreased consciousness."
Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2022
PR-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Yuminah
"ABSTRAK
Kondisi yang kronis atau akut seperti hidrosefalus menimbulkan dampak pada
keluarga diantaranya masalah ekonomi, persaingan saudara kandung, perhatian
kepada anak-anak, proses menjadi orang tua terhadap tekanan dan kemampuan
mengatasi masalah. Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi pengalaman orang tua
merawat anak hidrosefalus. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif studi
sederhana sebanyak enam ibu anak hidrosefalus berpartisipasi, yang didapatkan
dengan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan dengan wawancara dan
catatan lapangan yang dianalisis dengan teknik analisis isi. Penelitian ini
menghasilkan lima tema yaitu: 1) keluhan fisik yang dialami ibu, 2) jenis koping
yang dilakukan ibu, 3) reaksi berduka yang dialami ibu, 4) dukungan yang
diperoleh ibu, dan 5) kebutuhan ibu dalam merawat anak hidrosefalus. Simpulan
dari penelitian ini adalah merawat anak hidrosefalus menimbulkan perubahan
kehidupan keluarga karena anak hirosefalus membutuhkan perhatian khusus
dalam memenuhi kebutuhan anak hidrosefalus shari-hari.

ABSTRACT
Chronic or acute conditions white hidrosefalus have an impact on families
including economic issues, sibling rivalry, attention to children, the process of
becoming a parent for the pressure and the ability to overcome the problem. This
study aims to explore the experiences of parents in caring for hydrocephalus. This
study uses a simple qualitative study of six young mothers participating
hydrocephalus, which is obtained by using purposive sampling. Data were
collected through interviews and field notes were analyzed using content analysis
techniques. This research resulted in five themes, such as: 1) physical complaints
experienced by the mother, 2) type of coping that do mothers, 3) grief reactions
experienced by the mother, 4) obtained support mothers, and 5) the mother in
caring for the needs of hydrocephalus. The conclusions of this study are caring for
hydrocephalus led to changes in family life because hirosefalus children need
special attention to meet the needs of children in the day-to-day hydrocephalus."
Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2013
T40850
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Dewanti
"Spina bifida merupakan salah satu penyakit kongenital pada anak berupa kegagalan penutupan tulang belakang. Salah satu tindakan dalam mengatasi spina bifida adalah pembedahan. Masalah utama yang muncul pada anak dengan pembedahan adalah nyeri akut. Karya ilmiah akhir ini bertujuan untuk memberikan gambaran asuhan keperawatan pada anak spina bifida dengan menerapkan teknik guided imagery dalam mengatasi nyeri paska pembedahan.
Penerapan teknik guided imagery yang telah dilakukan pada anak post op rekonstruksi meningokel (spina bifida) selama 4 hari diperoleh hasil penurunan skala nyeri dari 7 menjadi 1. Pemberian teknik guded imagery pada anak dengan spina bifida menjadi upaya untuk menghilangkan atau menurunkan skala nyeri yang diderita oleh anak pasca pembedahan rekonstruksi meningokel.

Spina bifida is one of the congenital diseases in children in the form of failure of closure of the spine. One of the interventions in dealing with spina bifida is surgery. Acute pain often becomes a major problem on the children after surgery. The aim of this paper was to describe nursing care in children with spina bifida by applying guided imagery technique to decrease pain after surgery.
Implementation of guided imagery technique that have been conducted in children after meningocele reconstruction surgery for 4 days showed the reduction of pain scale from 7 to 1. Giving guided imagery technique for children with spina bifida should be addressed to eliminate or decrease pain scale suffered by the children with spina bifida after meningocele reconstruction surgery.
"
Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2013
PR-Pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Diyo, Andrew Robert
"Tujuan: anak pasca ventrikullo-peritone (vp)shunt menghadapi berbagai masalah yang berkaitan dengan kualitas luaran hidupnya namun hal ini masih belum diteliti dengan baik sampai sekarang. Pengukuran luaran klinis anak pasca vpshunt dipengaruhi kondisi kesehatan fisik, sosial emosional dan fisik yang sering diabaikan. Kulkarni et al mengembangkan pengukuran luaran kesehatan secara kuantitatif berupa Hidrocephalus Outcome Questinnare (HOQ), yang dirancang khusus untuk anak pasca vpshunt yang dapat diselesaikan oleh orang tua. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan luaran pada anak pasca vpshunt saat kunjungan ke poli klinik dengan menggunakan HOQ dan mencari hubungan nilai luaran kesehatan HOQ nya dengan faktor penyebab terjadinya hidrosefalus.
Metode: Penelitian ini merupakan penelitian pendahuluan secara potong lintang yang dilakukan pada semua anak (5-16 tahun) pasca vpshunt periode Januari 2003 sampai Desember 2013, yang datang kontrol di klinik rawat jalan Bedah Saraf Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Cipto Mangunkusumo. Nilai luaran anak diukur setelah orang tua pasien menyelesaikan HOQ. Faktor penyebab hidrosefalus dan faktor-faktor prediktor yang dapat mempengaruhi luaran pasien diambil dari catatan rekam medis pasien. Dilakukan analisis eksplorasi dengan menggunakan uji parametric dan non-parametrik untuk menentukan hubungan dan faktor mana yang dapat mempengaruhi luaran kesehatan anak yang lebih buruk .
Hasil: Orang tua dari 30 anak pasca vpshunt saat kunjungan ke klinik rawat jalan berpartisipasi dalam penelitian ini. Usia rata-rata anak adalah 9,6 tahun ± 3,8 tahun ( rentang 6-16 ) dengan dominasi laki-laki ( 70 % ) . Rerata luaran kesehatan secara keseluruhan adalah 0,67 yang artinya secara umum hidrosefalus memberikan efek pada semua domain kesehatan. Luaran kesehatan fisik secara signifikan lebih baik pada kelompok etiologi pasca infeksi sebagai penyebab hidrosefalusnya dibandingkan dengan kelompok etiologi congenital ataupun neoplasma dengan nilai p 0,03. Kelompok pasien yang mengalami kejang pasca vpshunt memiliki luaran kesehatan lebih buruk pada semua domain kesehatan dibandingan kelompok yang tidak mengalami kejang dengan nilai p <0,05.
Kesimpulan: Terdapat hubungan luaran kesehatan fisik yang lebih baik pada etiologi pasca infeksi sebagai penyebab hidrosefalus. Variable yang dapat mempengaruhi seluruh domain luaran kesehatan anak adalah kelompok anak yang mengalami kejang pasca vpshunt. HOQ merupakan instrumen sederhana dan berguna untuk menentukan luaran anak pasca vpshunt di klinik rawat jalan.

Objective: Children with hydrocephalus face several quality of life (QOL) issues that have not been studied properly until now. In the measurement of clinical outcome in pediatric patients with hydrocephalus, the condition effects on a child’s physical, emotional, cognitive, and social health are frequently ignored. Kulkarni et al developed a quantitative health status measurement, the Hydrocephalus Outcome Questionnaire (HOQ), which is designed specifically for children with hydrocephalus and may be completed by the children's parents. The objective of this study is to provide current information on outcome in recently treated children with hydrocephalus, using the HOQ and assess the association between HOQ score in children with hydrocephalus and etiologic factors of hydrocephalus.
Methods: This is a preliminary cross-sectional study conducted to all children (5–16 years old) with treated hydrocephalus during period January 2003 to December 2012, who attended the neurosurgery outpatient clinic at the Cipto Mangunkusumo National Hospital. The patient’s QOL score was measured from the parent-completed HOQ. The etiologic and predictor variables were extracted from the medical records. An exploratory analysis was performed using parametric and non-parameteric test to determine which variables might be associated with worse health status.
Result: The parents of 30 children treated for hydrocephalus participated in the study. The mean age was 9.6 years ± 3,8 years (range 6-16) with predominance male (70%). The mean HOQ overall health score was 0.67, it means hydrocephalus effect overall child health status. HOQ physic score was significantly better in the ‘etiology of post infection’ group rather in ‘etiology of congenital or neoplasm’, with p value 0.03. Compared to the group of patients with no seizure, the group of patients with seizure after treated ventriculo-peritoneal shunt have significant worse overall HOQ health status score with p value <0.05.
Conclusion: There is association between the HOQ physic health status in children treated hydrocephalus with infection as the etiology of hydrocephalus. The only variable found to be associated significantly with health status in hydrocephalus patient treated with ventriculo-peritoneal shunt was seizure. The HOQ is a simple and useful measurement for determining outcome in pediatric hydrocephalus patient treated with ventrculo-peritoneal shunt.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2013
SP-Pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Kurniati Septia
"Luka bakar merupakan kerusakan jaringan tubuh terutama kulit akibat trauma panas. Luka bakar paling banyak terjadi pada anak-anak karena kemampuan kognitif anak masih minimal dalam mengidentifikasi bahaya. Nyeri merupakan masalah keperawatan utama yang muncul pada luka bakar. Dalam mengatasi nyeri dapat dilakukan dengan teknik relaksasi nafas dalam yang merupakan terapi nonfarmakologi.
Karya tulis ilmiah ini bertujuan untuk menguraikan hasil analisis intervensi relaksasi nafas dalam dalam menurunkan intensitas nyeri pada anak. Metodelogi yang digunakan adalah studi kasus. Hasil dari analisis kasus didapatkan bahwa pemberian terapi teknik relaksasi nafas dalam efektif untuk menurunkan skala nyeri pada anak dari skala 6 turun menjadi skala 4.

A burn is an injury to the body?s tissues caused by heat trauma. This wound occurs mostly to children because of their limitation in identifying hazards. During the medical care of burn, the pain appeared as the most common problem. One of the way to minimize the pain is by practicing deep-breathing relaxation as part of non-pharmacology therapy.
This paper aims to analyze the effect of deepbreathing in minimizing the intensity of the pain in children. This paper use case study as research methodology. Based on the analysis, practicing deep-breathing is effective in reducing the intensity of pain from scale 6 to 4.
"
Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2015
PR-Pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>