Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 177110 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Rury Luberti
"ABSTRAK
Hubungan antara bahasa dan kehidupan sosial dipelajari dalam cabang ilmu sosiolinguistik. Pada ilmu ini juga dipelajari bagaimana bahasa bervariasi menurut berbagai macam aspek sosial, salah satunya gender. Berbagai penelitian telah dilakukan untuk mengetahui perbedaan bahasa laki-laki dan perempuan. Penelitian ini merupakan penelitian yang dilakukan untuk mengetahui perbedaan penggunaan kalimat imperatif laki-laki dan perempuan yang dilihat dari acara TV Belanda, Koken met Mike dan Koken met Jantje. Penelitian ini adalah penelitian analitis kualitatif yang menggunakan video acara memasak tersebut sebagai sumber data dan menggunakan teori bahasa dan gender oleh Robin Lakoff sebagai landasan teoretisnya. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kalimat imperatif yang dituturkan oleh laki-laki menggunakan lebih banyak diminutif daripada perempuan, perempuan lebih ekspresif daripada laki-laki dengan menggunakan adjektiva berlebih, dan laki-laki lebih banyak mengunakan kalimat majemuk dalam memberikan perintah.

ABSTRACT
The relationship between language and social environment is studied in sociolinguistics. In this dicipline, we also study how language varies according to various social aspects, one of it is gender. Various studies have been conducted to determine the differences of the language of men and women. This study was conducted to determine the differences in imperative sentences used by men and women, as seen in cooking programs on Dutch TV, Koken met Mike and Koken met Jantje. This study is a qualitative analytical study using the cooking shows as data sources and Robin Lakoff s Language and Gender Theory. The results of this study indicate that the imperative sentences spoken by men use more diminutives than women, women are more expressive than men using excessive adjectives, and men use more compound sentences in giving orders."
Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 2016
MK-pdf
UI - Makalah dan Kertas Kerja  Universitas Indonesia Library
cover
Nerissa Rachmania
"Penelitian ini membahas tentang ungkapan emosi kemarahan dan emosi kesedihan remaja laki-laki dan perempuan melalui status facebook yang berhubungan dengan stereotip gender. Penelitian ini bertujuan menjelaskan apa saja yang ada di dalam penulisan ungkapan emosi kemarahan dan emosi kesedihan melalui status facebook, membandingkan ungkapan yang ditulis oleh laki-laki dan perempuan, dan melihat pengaruh stereotip gender pada laki-laki dan perempuan dalam menuliskan ungkapan emosi kemarahan dan kesedihan.Teori yang digunakan adalah teori sosiolinguistik, gender, dan psikologi.

This study discusses the emotional expression of anger and sadness emotions of adolescent boys and girls through facebook_s status associated with gender stereotypes. This study aims to explain what is in the writing of expressions of emotion anger and sadness emotions through facebook_s status, comparing the expression of which was written by men and women, and see the impact of gender stereotypes on men and women write their anger and sadness expressions of emotion. The theory used is sociolinguistic theory, gender, and psychology."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 2010
S10947
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Ahmad Turmudzi
"Penelitian ini membandingkan budaya masyarakat Belanda dan Indonesia khususnya dalam hal bagaimana perusahaan penyedia lapangan pekerjaan kantoran mengiklankan perusahaannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi secara spesifik komponen karakter budaya yang terdapat dalam laman iklan internet perusahaan penyedia lapangan pekerjaan kantoran terkemuka di Belanda dan di Indonesia dan melihat adakah perbedaan gaya atau ragam bahasa iklan perusahaan penyedia lapangan pekerjaan kantoran terkemuka pada laman internet antara Belanda dengan Indonesia. Penulis membandingkan 4 (empat) contoh laman iklan internet perusahaan penyedia lapangan pekerjaan kantoran terkemuka di Belanda yaitu Freelance.nl, JobTrack.com, Intermediair.nl, dan Stepstone.nl serta 4 (empat) laman iklan internet perusahaan penyedia lapangan pekerjaan kantoran terkemuka di Indonesia yaitu Lokerpedia.com, JobsDB.com, CariJOB.com, dan JobIndo.com. Iklan perusahaan penyedia lapangan pekerjaan di Belanda hampir selalu menginformasikan banyak tulisan yang menyajikan keunggulan ataupun kualitas perusahaan perusahaan, lain halnya dengan iklan di Indonesia yang tidak menuliskan gambaran kualitas perusahaan penyedia lapangan pekerjaan kantoran melalui banyak tulisan namun hanya menggunakan gambar, animasi dan sedikit tulisan yang menjelaskan tentang bagaimana perusahaan mereka.

The study aims to compare Dutch and Indonesian culture, specifically to compare how companies in the respective countries would typically announce job vacancies. Additionally, this particular study is looking to identify specific components of cultural characteristics which associated with online job search sites in both countries, the Netherlands and Indonesia, to learn whether there is a difference in the language style used. Therefore, authors compare the four (4) online job search sites in the Netherlands, namely Freelance.nl, JobTrack.com, Intermediair.nl, and Stepstone.nl and four (4) online job search sites in Indonesia, namely Lokerpedia.com, JobsDB.com, CariJOB.com, and JobIndo.com. Commonly, the online job search sites in the Netherlands will provide more detailed information related to the company and put more emphasis on company‟s excellence whilst the online job search sites in Indonesia are tend to be more visual by showing more pivtures or animations with brief narration about the company.
"
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 2016
MK-Pdf
UI - Makalah dan Kertas Kerja  Universitas Indonesia Library
cover
Yessika Yasmine Yudha
"Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan penyebab munculnya isu kerentanan dan kekerasan simbolik yang dialami perempuan dalam komunitas UI eSports Club. Dalam melihat isu kerentanan, penelitian ini mengkaji dari sudut pandang analisis gender dengan menggunakan konsep pendekatan The Social Relation milik Kabeer. Analisis gender dilakukan untuk mengidentifikasi kedudukan, fungsi, peran dan tanggung jawab antara laki-laki dan perempuan serta faktor-faktor yang mempengaruhinya. Hasil penelitian ini mengidentifikasi bahwa penyebab isu kerentanan pada perempuan di komunitas UI eSports Club disebabkan karena adanya perbedaan akses dan partisipasi. Perbedaan ini terlihat dari timpangnya distribusi sumber daya, tanggung jawab, serta kemampuan yang dilakukan komunitas dari segi peraturan dan kebijakan yang dikeluarkan. Di sisi lain, isu kekerasan berbasis simbol dengan menggunakan teori kekerasan simbolik milik Bourdieu, melihat bagaimana segala bentuk kekerasan telah dinormalisasi, sehingga pihak subdominan tidak lagi mempermasalahkan. Hasil penelitian ini mengidentifikasi bahwa kekerasan berbasis simbol terjadi ketika bermain (in-game) maupun diluar permainan (out-game) dengan berbagai bentuk kekerasan seperti lontaran kalimat agresif, merendahkan, dan perkataan bernada seksis. Dalam menggali fenomena tersebut, peneliti menggunakan komunitas UI Esports Club (UIESC) sebagai studi kasus dengan pendekatan penelitian kualitatif.

This study aims to explain the causes of the emergence of issues of vulnerability and symbolic violence experienced by women in the UI eSports Club community. In looking at the issue of vulnerability, this study examines it from the point of view of gender analysis using Kabeer's The Social Relations approach. Gender analysis is carried out to identify positions, functions, roles and responsibilities between men and women and the factors that influence them. The results of this study identified that the cause of the issue of vulnerability in women in the UI eSports Club community was due to differences in access and participation. This difference can be seen from the timing of the distribution of resources, responsibilities, and capabilities carried out by the community in terms of regulations and policies issued. On the other hand, the issue of symbol-based violence uses Bourdieu's theory of symbolic violence, seeing how all forms of violence have been normalized, so that the sub-dominant parties are no longer a problem. The results of this study identify that symbol-based violence occurs when playing (in-game) or outside the game (out-game) with various forms of violence such as throwing aggressive sentences, security, and sexy buttons. In exploring this phenomenon, researchers used the UI Esports Club (UIESC) community as a case study with a qualitative research approach."
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2023
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Mantik, Maria Josephine
"Pembedaan gender antara laki-laki dan perempuan telah lama menjadi pembicaraan yang menarik perhatian para pejuang perempuan di dunia. Masyarakat membedakan laki-laki dan perempuan sejak awal kehidupan manusia. Keberadaan masyarakat dalam budaya patriarkat di tengah kehidupan manusia ikut memberi andil dalam menempatkan laki-laki dan perempuan pada peran mereka masing-masing. Dalam kehidupan masyarakat patriarkat, pandangan hidup yang berlaku bersifat seksis. Artinya, harkat dan keberadaan diri manusia dibedakan atas jenis kelaminnya. Akibat pembedaan ini, masih banyak perempuan yang tidak mendapat kesempatan untuk berkarya sesuai kharisma dan kemampuan mereka. Dalam kehidupan masyarakat Indonesia, hingga saat ini perempuan masih mengalami diskriminasi dan berbagai bentuk ketidakadilan akibat bias gender. Walaupun kenyataan menunjukkan telah banyak perempuan memperoleh pendidikan yang sama dengan laki-laki dan peran perempuan yang semakin besar dalam berbagai sektor, namun diskriminasi dalam berbagai bentuk masih dirasakan. Diskriminasi dan ketidakadilan tersebut antara lain muncul dalam bentuk: marginalisasi, subordinasi, dan stereotipe. Berbagai isu marginalisasi, subordinasi, dan stereotipe ini juga terjadi di lingkup Gereja. Dalam Gereja, masih terdapat perbedaan peran kepem mpinan antara laki-laki pendeta dan perempuan pendeta, walaupun sebenarnya misi Gereja adalah memberitakan Injil serta melayani sesama menurut pola hidup Tuhan Yesus. Untuk itu, perlu dipertanyakan makna kepemimpinan yang sebenarnya. Apakah perempuan tidak dapat menjadi pemimpin? Apakah perempuan hanya boleh memimpin organisasi atau Gereja dalam kegiatan tertentu yang ada kaitannya dengan perempuan? Memang secara angka telah terjadi peningkatan jumlah perempuan pendeta yang mengambil bagian dalam pelayanan Gereja dan masyarakat. Namun demikian, pemahaman dan pemikiran yang dikembangkan perempuan pendeta belum sepenuhnya dipahami dan diterima oleh sebagian pimpinan Gereja (yang adalah laki-laki) sebagai sumbangan perempuan yang berprofesi pendeta dalam kebersamaan Masalah bias gender juga terjadi di Gereja Protestan Indonesia di bagian Barat (GPIB). Perempuan pendeta mengalami berbagai kendala untuk menempati jabatan tertinggi di tingkat Mupel dan Sinodal di GPIB. Peluang perempuan pendeta untuk menduduki jabatan tertinggi di tingkat Mupel dan Sinodal di GPIB sangat kecil karena dimarginalisasikan dalam bias gender. Karena tersubordinasi dalam bias gender, maka perempuan pendeta masih banyak yang enggan berkompetisi dengan laki-laki pendeta untuk menduduki jabatan tertinggi di tingkat Mupel dan Sinodal. Selain itu, perempuan pendeta masih banyak yang berpikiran stereotipe (domestik) dalam bias gender, artinya is hanya ingin melayani sebagai pendeta dengan kapasitas sebagai isteri dan ibu. Adanya permasalahan marginalisasi, subordinasi, dan stereotipe dalam bias gender yang mempengaruhi kepemimpinan perempuan pendeta seperti diuraikan di atas melatarbelakangi penulis untuk melakukan penelitian. Oleh sebab itu, penulis melakukan pembatasan masalah penelitian pada pengaruh marginalisasi, subordinasi, dan stereotipe dalam bias gender terhadap kepemimpinan perempuan pendeta GPIB di Musyawarah Pelayanan (Mupel) DKI Jakarta.Adapun rumusan masalah yang dibahas dalam penelitian ini adalah untuk melihat apakah terdapat pengaruh marginalisasi, subordinasi, dan ..."
Jakarta: Sekolah Tinggi Theologia Baptis Indonesia, 2008
D1664
UI - Disertasi Open  Universitas Indonesia Library
cover
La Agusta Putri Ruswati
"[ABSTRAK
Subordinasi perempuan adalah salah satu isu gender yang diperlihatkan melalui media, termasuk film. Karena masyarakat cenderung menerima film sebagai jenis media yang merepresentasikan realitas, dekonstruksi harus mengambil peran di sini. Dalam film Ruby Sparks, dekonstruksi berperan dengan cara membuat subordinasi perempuan yang dialami Ruby, tokoh perempuan utama, terlihat jelas terlebih dahulu. Dengan memperlihatkan secara jelas subordinasi tersebut, dekonstruksi pada film ini menunjukkan bahwa kontrol penuh terhadap perempuan, terutama dalam sebuah hubungan, tidak berdampak baik dan sebaliknya membuat baik pihak permpuan maupun laki-laki menderita. Namun, usaha dekonstruksi dalam film ini masih tercemari dengan nilai-nilai patriarki. Jurnal ini bertujuan untuk memperlihatkan dan menyediakan pembahasan mendalam mengenai mengapa subordinasi dalam film ini harus didekonstruksi dan mengapa dekonstruksi ini sendiri masih berisi nilai-nilai patriarki. Dengan menggunakan metode close-reading, jurnal ini menunjukkan bagaimana subordinasi perempuan dalam film Ruby Sparks membawa ke masalah-masalah yang lebih dalam yang berkaitan dengan gender, dan bahwa cara film ini mendekonstruksi subordinasi perempuan masih patriarkal.ABSTRACT Female subordination is one of gender issues which is frequently shown through media, including movies. Since poeple tend to perceive movies as a form of media which represents reality, deconstruction needs to take role. In the movie Ruby Sparks, deconstruction works by making female subordination towards Ruby, the main female character, obvious first. By showing female subordination clearly, deconstruction in this movie works by showing how total control over female, especially in relationship, does not work and instead it leads both the man and woman to be miserable. Nevertheless, the effort of deconstruction in this movie is still tainted by patriarchal values. This journal aims to show and provide in-depth discussion of why female subordination in this movie has to be deconstructed, and why the deconstruction itself is actually tainted by patriarchal values. By using close-reading method, this journal shows how female subordination in Ruby SParks leads to some deeper issues related to gender, and that the way this movie deconstructs female subordination is actually patriarchal.;Female subordination is one of gender issues which is frequently shown through media, including movies. Since poeple tend to perceive movies as a form of media which represents reality, deconstruction needs to take role. In the movie Ruby Sparks, deconstruction works by making female subordination towards Ruby, the main female character, obvious first. By showing female subordination clearly, deconstruction in this movie works by showing how total control over female, especially in relationship, does not work and instead it leads both the man and woman to be miserable. Nevertheless, the effort of deconstruction in this movie is still tainted by patriarchal values. This journal aims to show and provide in-depth discussion of why female subordination in this movie has to be deconstructed, and why the deconstruction itself is actually tainted by patriarchal values. By using close-reading method, this journal shows how female subordination in Ruby SParks leads to some deeper issues related to gender, and that the way this movie deconstructs female subordination is actually patriarchal., Female subordination is one of gender issues which is frequently shown through media, including movies. Since poeple tend to perceive movies as a form of media which represents reality, deconstruction needs to take role. In the movie Ruby Sparks, deconstruction works by making female subordination towards Ruby, the main female character, obvious first. By showing female subordination clearly, deconstruction in this movie works by showing how total control over female, especially in relationship, does not work and instead it leads both the man and woman to be miserable. Nevertheless, the effort of deconstruction in this movie is still tainted by patriarchal values. This journal aims to show and provide in-depth discussion of why female subordination in this movie has to be deconstructed, and why the deconstruction itself is actually tainted by patriarchal values. By using close-reading method, this journal shows how female subordination in Ruby SParks leads to some deeper issues related to gender, and that the way this movie deconstructs female subordination is actually patriarchal.]"
Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 2015
MK-PDF
UI - Makalah dan Kertas Kerja  Universitas Indonesia Library
cover
Muhammad Hanif
"[ABSTRAK
The Office adalah sitkom yang menggambarkan stereotip kantor pada umumnya. David Brent adalah karakter utama dan bos dalam sitkom The Office. Dia adalah seorang pria yang terobsesi dengan popularitas. Satu aspek kunci dari popularitas adalah mengetahui apa yang dianggap benar secara politis. Namun, David terkadang menunjukkan sebaliknya dan menyadari bahwa perilakunya tertangkap kamera. Lalu, dia akan mencoba untuk membuktikan bahwa dia tahu apa yang dianggap benar secara politis, terutama isu-isu ras dan gender. Namun, sitcom ini menunjukkan perilaku-perilaku David yang seksis dan rasis dibalik sikap politik yang benar. Penelitian ini akan menganalisis dan membahas bagaimana sikap David digambarkan dalam sitcom ini dan membahas tujuan penulis dalam menggambarkan David sedemikian rupa.ABSTRACT The Office is a sitcom that stereotypes the popular workplace. David Brent is the main character of the sitcom and is the boss in The Office. He is a man obsessed with popularity. A key aspect of popularity is to know what is considered politically correct. However, David sometimes shows the opposite and realizes it is caught on camera. He then tries to prove that he knows what is considered politically correct, especially issues concerning race and gender. However the sitcom also shows David?s sexist and racist tendencies behind the politically correct stance. This research paper will analyze and discuss how David?s attitude is portrayed in the sitcom and discuss the creators? objectives in portraying David in such a way.;The Office is a sitcom that stereotypes the popular workplace. David Brent is the main character of the sitcom and is the boss in The Office. He is a man obsessed with popularity. A key aspect of popularity is to know what is considered politically correct. However, David sometimes shows the opposite and realizes it is caught on camera. He then tries to prove that he knows what is considered politically correct, especially issues concerning race and gender. However the sitcom also shows David?s sexist and racist tendencies behind the politically correct stance. This research paper will analyze and discuss how David?s attitude is portrayed in the sitcom and discuss the creators? objectives in portraying David in such a way., The Office is a sitcom that stereotypes the popular workplace. David Brent is the main character of the sitcom and is the boss in The Office. He is a man obsessed with popularity. A key aspect of popularity is to know what is considered politically correct. However, David sometimes shows the opposite and realizes it is caught on camera. He then tries to prove that he knows what is considered politically correct, especially issues concerning race and gender. However the sitcom also shows David’s sexist and racist tendencies behind the politically correct stance. This research paper will analyze and discuss how David’s attitude is portrayed in the sitcom and discuss the creators’ objectives in portraying David in such a way.]"
Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 2015
MK-PDF
UI - Makalah dan Kertas Kerja  Universitas Indonesia Library
cover
Luthfia Ridzka Latiffa
"Tak dapat dipungkiri bahwa novel distopia remaja cukup populer di kalangan pembaca. Novel distopia remaja memberi ruang fiksi untuk mengimajinasikan kembali berbagai nilai-nilai sosial, termasuk diantaranya gender. Pada era 2010-an, popularitas dan pengaruh genre distopia di kalangan pembaca usia remaja diperkuat dengan digandrunginya beberapa novel seperti The Hunger Games, Divergent, dan Legend yang mampu menjangkau jutaan pembaca. Artikel ini akan secara spesifik menganalisis trilogi Legend (2011) karya Marie Lu, sebuah seri novel distopia yang berlatar di Amerika Serikat pasca sebuah kejadian apokaliptik. Dengan menggunakan konsep gender biner yang berlawanan dan konsep possibilites-potentialites, artikel ini bertujuan untuk mengungkap bagaimana trilogi Legend (2011) mencoba merekonstruksi identitas gender dengan menggambarkan peran-peran gender yang progresif, terutama dalam penggambaran karakter utama dan karakter pendukung. Artikel ini akan mengidentifikasi representasi gender dalam trilogi Legend (2011), menganalisis apakah representasi tersebut konsisten di sepanjang cerita, serta mempelajari pesan-pesan tersirat tentang nilai-nilai gender di dunia nyata. Berdasarkan analisis yang telah dilakukan, trilogi Legend (2011) cenderung menggambarkan kembali realita yang sudah ada di dunia nyata. Meskipun begitu, trilogi ini tetap menyuguhkan representasi identitas gender yang kompleks dan progresif melalui penggambaran karakter-karakternya.

There is no doubt that young adult dystopian novels are popular among their audience. Young adult dystopian novels offer readers a fictional medium to reimagine societal values, including, but not limited to, gender. In the 2010s, titles such as The Hunger Games, Divergent, and Legend rose to fame as they amassed millions of readers, further strengthening the genre’s popularity and influence among young adults. This article will specifically analyze the Legend (2011) trilogy by Marie Lu, a series of dystopian novels set in the post-apocalyptic United States. Using concepts of gender binary opposition and possibilities-potentialities, this article aims to uncover the trilogy’s attempt at reconstructing gender identity by presenting non-traditional roles in its story, notably in its depiction of the main character and supporting characters. The article will identify gendered representations within the trilogy, analyze whether the representations are consistent throughout the story, and study its underlying message concerning values present in the real world. Based on the analysis, this article found that the Legend (2011) trilogy tend to reproduce existing realities that already exist in the real world. However, it still offers a layered, non-traditional representation of both masculine and feminine gender identity through its characters."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, 2023
MK-pdf
UI - Makalah dan Kertas Kerja  Universitas Indonesia Library
cover
Lidya Rizky M.
"Makalah ini memperlihatkan bahwa perbedaan budaya dan kebijakan asuransi mobil di Belanda dan di Indonesia telah mempengaruhi bagaimana iklan produk tersebut disajikan. Perbedaan tersebut menarik untuk dianalisis dari bidang ilmu sosiolinguistik karena isi dan tampilan iklan menggambarkan unsur budaya di masyarakat Belanda dan masyarakat Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ciri-ciri spesifik unsur budaya yang terdapat dalam iklan asuransi mobil pada situs internet dan adakah perbedaan gaya bahasa iklan situs internet perusahaan asuransi mobil antara Belanda dengan Indonesia. Penelitian ini dilakukan dengan dengan membandingkan 6 (enam) contoh iklan situs internet pelayanan asuransi mobil di Belanda yaitu FBTO, Allsecur Autoverzekeringen, Ditzo Autoverzekering, dan Centraal Beheer serta 6 (enam) iklan situs internet pelayanan asuransi mobil di Indonesia yaitu Garda Oto, ACA Asuransi, Adira Insurance, dan Asuransi Sinar Mas.

This paper shows that cultural differences and car insurance policies in the Netherlands and in Indonesia have influenced how the product ads are shown. The differences are interesting to be analyzed from the field of Sociolinguistics regarding the contents and appearances of ads depicting to the cultural elements of the Dutch and Indonesian society. The aim of this paper is to know the characteristics of specific cultural elements in the car insurance ads on the internet sites and whether there are differences in language style. This research is conducted by comparing the 6 (six) examples of internet advertisement of car insurance in the Netherlands namely, FBTO, Allsecur Autoverzekeringan, Ditzo and Centraal Beheer Autoverzekering and 6 (six) Indonesian namely Garda Oto, ACA insurance, Adira Insurance, and Sinar Mas Insurance.
"
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 2013
MK-Pdf
UI - Makalah dan Kertas Kerja  Universitas Indonesia Library
cover
Budhiyanthi Irma Samuel
"Tujuan dari penulisan skripsi ini yaitu untuk mengungkapkan proses morfologis yang dapat diterapkan dalam pembentukan nomina penanda wanita dalam bahasa Belanda, yang bersufiks -e, -es(se), -in, -ster, aresse, -euse, -rice dan -rix. Serta menjelaskan keproduktivitasan dari masing-masing sufiks penanda wanita dalam membentuk Npw. Dan sebagai tujuan terakhir akan diungkapkan faktor-faktor sosiolinguistik ape. raja yang mempengaruhi pembentukan dan penggunaan Npw. Teori Van Santen dan Aronoff digunakan sebagai patokan pembahasan pembentukan nomina penanda wanita. Sedangkan pembahasan mengenai keproduktivitasan dari sufiks penanda wanita dan faktor-faktor sosiollinguistik yang mempengaruhi pembentukan dan penggunaan Npw, dilandasi dengan beberapa pendapat dari pakar linguistik, seperti Schultink, Van den Toorn, Geerts, Adriaens dan lain-lain. Untuk membuktikan pendapat_-pendapat tersebut, kami mengadakan studi lapangan dengan menyebarkan daftar isian yang berupa Npp, untuk diisi bentuk Npwnya. Selanjutnya kami akan mewancarai para informan yang mengisi daftar isian tersebut. Kesimpulan yang dapat ditarik, ada dua macam proses morfologis dan satu peraturan pelengkap yang diterapkan dalam pembentukan nomina penanda wanita. Sufiks -ster adalah yang paling produktif dan sufiks -e, -euse dan -rice memiliki potensi untuk menjadi produktif sedang_kan sufiks -aresse, -es(se), -in dan -rix tidak produktif lagi dalam membentuk Npw. Faktor-faktor sosiolinguistik yang mempengaruhi pembentukan dan penggunaan Npw yaitu tingkatan pekerjaan dan emansipasi wanita."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 1990
S15781
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>