Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 138030 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Meidina Aysha Anindita
"ABSTRAK
Media sosial telah merubah cara manusia berkomunikasi dengan satu sama lain. Perkembangan sosial media
saat ini membuka peluang karir baru yang belum pernah ada sebelumnya. Salah satunya adalah menjadi seorang
beauty vlogger. Tasya Farasya adalah salah satu beauty vlogger yang paling sukses di Indonesia saat ini.
Meskipun baru memulai karirnya di tahun 2017, Tasya saat ini memiliki 2.88 juta subscribers YouTube dan 2.6
juta followers di Instagram. Penelitian ini bertujuan untuk mencari tahu upaya yang dilakukan Tasya Farasya
sebagai seorang beauty vlogger mempergunakan media sosial sebagai kanal untuk mempresentasikan dan
mempromosikan dirinya. Artikel ini terpusat pada panggung depan dari teori Dramaturgi karya Ervuing
Goffman dan personal branding milik Peter Montoya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa presentasi diri
Tasya Farasya di sosial media adalah sebagai pribadi yang menyenangkan, ceria, positif, dan jujur. Tasya
memiliki kredibilitas terhadap promosi produk yang baik, dan menonjol berkat spesialisasinya dalam full glam
makeup look dia diantara beauty vlogger lain yang mengikuti trend natural.

ABSTRACT
Social media has changed the way humans communicate with one another. The development of social media
opens up new career opportunities like never before. One of them is to become a beauty vlogger. Tasya Farasya
is one of the most successful beauty vloggers in Indonesia today. Although she only started her career in 2017,
Tasya currently has 2.88 million YouTube subscribers and 2.6 million followers on Instagram. This study aims
to explore the efforts made by Tasya Farasya as a beauty vlogger to use social media as a channel to present
and promote himself. This article is centered on the front stage of Ervuing Goffmans Dramaturgi theory and
Peter Montoyas personal branding. The results showed that Tasya Farasyas self-presentation on social media
was fun, cheerfu, positive, and truthful. Tasya has credibility for good product promotions, and she stands out
thanks to her specialization in full glam makeup look for her among other beauty vloggers who sticks to the
natural trend."
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2019
MK-pdf
UI - Makalah dan Kertas Kerja  Universitas Indonesia Library
cover
Ratu Vashti Annisa
"ABSTRAK
Pertanyaan lsquo;siapakah kita di dunia maya rsquo; mulai muncul dengan lahirnya internet dan media sosial, dimana kita diberikan kesempatan untuk mempertunjukan diri kita kepada dunia. Di dalam dunia tersebut, tidak ada batasan dan siapapun bisa menjadi apa atau siapapun yang mereka mau. Di Instagram--medium dimana orang mengunggah foto dan video--orang-orang dapat melakukan hal tersebut kepada publik, baik publik secara luas atau publik pilihan mereka dimana akun mereka tidak terbuka untuk umum.Bagaimana kita menggambarkan diri kita di dunia maya biasanya membutuhkan lsquo;impression management rsquo;. Goffman membuat teori ini di tahun 1967 dimana ia mengatakan bahwa orang-orang mempunyai kesan yang mereka buat untuk diri mereka sendiri dalam kontak secara langsung atau komunikasi melalui medium perharinya. Walaupun media sosial belum ada pada tahun tersebut, teori Goffman dapat diaplikasikan jaman sekarang. Terlebih lagi karena media sosial adalah tempat untuk membentuk kesan kita dan hal tersebut akan dilihat oleh banyak orang bahkan orang yang tidak kita kenal jika kita memperbolehkan hal itu untuk terjadi. Presentasi diri merupakan hal yang menarik untuk digali lebih dalam karena hal ini sering terlihat di akun banyak orang.

ABSTRACT
The question of lsquo Who Are We Online rsquo arises with the birth of the internet and social media, where we are given the opportunity to present ourselves to the world. That being said, it is important to highlight the fact that there is no boundary in this particular medium, one can be anyone they want. On Instagram a photo sharing platform people can post photos or videos of themselves to their public, whether it is to the free public or to their chosen public when their profile is private. How we portray ourselves online nowadays usually involve a very heavy impression management. Goffman created this theory back in 1967 where he described that people tend to have an image that they create for themselves in daily contact whether it is face to face or in mediated communication. Even though social media was not created back in his days, his theory can very much be applied to this time and age. Especially because social media acts as a platform to build an image of yourself and it is seen by everyone from the people we know even to strangers if we allow them to. Self presentation is an interesting topic to explore as it is often seen that people rsquo s account is carefully crafted for its audience. "
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2016
MK-pdf
UI - Makalah dan Kertas Kerja  Universitas Indonesia Library
cover
Dianti Ratih Ramadhani
"Skripsi ini mendeskripsikan fenomena presentasi diri yang dilakukan oleh perempuan sebagai anggota komunitas berukuran tubuh ekstra, yaitu komunitas Xtra L, Kombes (Komunitas Besar) Indonesia, dan Kagumi (Ikatan Wanita Gemuk Indonesia). Penelitian ini merupakan penelitian fenomenologi yang bertujuan untuk mendeskripsikan pengalaman informan secara langsung terkait fenomena. Dalam penelitian ini, data utama yang peneliti gunakan berupa perkataan langsung dari informan, ataupun dokumentasi pribadi yang menggambarkan presentasi diri informan sebagai anggota komunitas berukuran tubuh ekstra. Hasil penelitian ini memperlihatkan bahwa bentuk presentasi diri informan secara offline adalah pembenahan penampilan dan menganut pola hidup sehat. Penelitian ini juga memperlihatkan bahwa identitas kolektif sebuah kelompok dapat membentuk cara informan mempresentasi.

The focus of the study is to describe the self presentation phenomenon women as female members of Xtra L, Kombes (Big Community) Indonesia, and Kagumi (Association of Obese Women Indonesia). The purpose of this research is to describe the experience of each members of how they present themselves as a member of the community. Researcher did in-depth interview to seven informants and analyzing informant’s online personal documents to see their self presentation strategy. This research found that informant’s offline self presentation strategy is through managing their appearance and following a healthy lifestyle. Also, their motivation to do an online self presentation is by doing a self-monitoring and affinity seeking behavior. This research also showed that the strategies that informants use to present themselves were also shaped by the collective identity of their community.
"
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2014
S58659
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Tsaura Humane Ittihadia
"Penelitian ini membahas mengenai hubungan presentasi diri dengan kesejaheraan subjektif mahasiswa yang menggunakan media sosial. Memiliki kesejahteraan subjektif yang tinggi dapat membantu melindungi mahasiswa dari afek negatif terhadap situasi yang membuat stress, depresi, serta tertekan. Salah satu aspek yang dapat mempengaruhi kesejahteraan subjektif adalah presentasi diri yang dilakukan lewat media sosial. Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian kuantitatif dengan jenis survei. Sampel dalam penelitian ini diukur dengan menggunakan metode probability sampling dengan teknik stratified random sampling, sedangkan untuk instrumen penelitian yang digunakan adalah kuesioner. Responden dalam penelitian ini berjumlah 92 mahasiswa program sarjana Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Indonesia angkatan 2020 dan 2021. Berdasarkan hasil uji korelasi kendall’s tau-b, terdapat hubungan positif yang sangat lemah antara presentasi diri dan kesejahteraan subjektif dengan nilai koefisien korelasi sebesar 0,124. Hal tersebut menunjukkan bahwa semakin tinggi tingkat presentasi diri yang dilakukan oleh individu, makan akan semakin tinggi kesejahteraan subjektif yang dirasakan oleh individu.

This study discusses the relationship between self-presentation and subjective well-being of students who use social media. Subjective well-being is an important component in the life of a college student. Having high subjective well-being can help college students from being negatively impacted by situations that are stressful, and despressing. One aspect that can affect subjective well-being is self-presentation. Therefore, this study aims to determine the relationship between self-presentation and subjective well-being in college students who use social media. This study uses a quantitative research approach with a survei type. The sample in this study was measured using the probability sampling method with stratified random sampling technique, while the research instrument used was a questionnaire. Respondents in this study were 92 undergraduate students at the Faculty of Social and Political Sciences, University of Indonesia, class of 2020 and 2021. Based on the results of Kendall's tau-b correlation test, there is a very weak positive relationship between self-presentation and subjective well-being with a correlation coefficient of 0.124. This shows that the higher the level of self-presentation carried out by individuals, the higher the subjective well-being felt by a person."
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2023
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Rumaysha Gikha Nisrina
"Konstruksi kecantikan yang dibangun oleh media memunculkan standar-standar kecantikan yang dianut oleh para perempuan. Persepsi bahwa menjadi cantik harus memiliki kulit yang putih dan mulus melekat dalam definisi kecantikan. Dalam dunia digital, konstruksi kecantikan ini semakin diperkuat oleh kehadiran beauty influencer dengan presentasi diri yang memenuhi standar-standar yang telah dikonstruksi. Ketika ada seorang beauty influencer yang menampilkan presentasi diri yang berbeda, dengan wajah berjerawat dan tidak memenuhi standar yang dikonstruksi media, tentunya merupakan fenomena yang unik dan berpengaruh terhadap makna kecantikan yang selama ini dikonstruksi. Tulisan ini membahas mengenai bagaimana presentasi diri seorang beauty influencer yang berbeda dari mayoritas beauty influencer lainnya karena tidak menampilkan hal-hal yang menjadi standar kecantikan yang dikonstruksi oleh media sebagai upaya dekonstruksi terhadap makna kecantikan yang selama ini ada di media sosial.

The construction of beauty built by the media raises the standards of beauty that are adhered to by women. The perception of being beautiful should have white and smooth skin is inherent in the definition of beauty. In this digital world, beauty construction is further strengthened by the presence of beauty influencers with self-presentation that meets the standards which have been constructed. When a beauty influencer who presents a different self presentation, with a pimply face and does not meet the standards constructed by the media, it is certainly a unique phenomenon and influences the meaning of beauty that has been constructed. This paper discusses how the self-presentation of a beauty influencer is different from the majority of other beauty influencers because it does not display things that become the standard of beauty constructed by the media, as an effort to deconstruct the meaning of beauty that has been exist previously on social media."
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2019
MK-pdf
UI - Makalah dan Kertas Kerja  Universitas Indonesia Library
cover
Priska Fanuela Henrik
"Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh Kredibilitas Sumber Influencer Media Sosial pada Akun Instagram Tasya Farasya terhadap Sikap Merek Kosmetik Make Over di JABODETABEK dan menentukan dimensi Kredibilitas Sumber yang memiliki pengaruh paling besar terhadap Sikap Merek. Jenis penelitian yang digunakan adalah explanatory dengan pendekatan kuantitatif, menggunakan kuesioner berupa Google Form dan dianalisis menggunakan analisis regresi berganda. Dalam pengambilan sampel peneliti menggunakan teknik non probability sampling dengan teknik purposive sampling. Kriteria sampel dalam penelitian ini adalah: (1) Wanita pengguna media sosial Instagram berusia 18-35 tahun yang berdomisili di JABODETABEK, (2) Mengetahui Influencer Media Sosial Tasya Farasya, (3) Mengetahui Merek kosmetik Make Over, (4) Pernah mengunjungi akun Instagram Tasya Farasya lebih dari satu kali, dan (5) Pernah melihat konten promosi Tasya Farasya dengan brand kosmetik Make Over di Instagram. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kredibilitas social media influencer berpengaruh terhadap sikap konsumen terhadap merek, dimana dimensi trustworthiness merupakan dimensi yang paling besar pengaruhnya terhadap pembentukan sikap terhadap merek. Hasil penelitian merekomendasikan jika ingin mencari endorser lain, Make Over perlu memilih seseorang dengan kredibilitas yang baik, terutama seseorang yang dapat dipercaya.

This study aims to determine the effect of Social Media Influencer Source Credibility on Tasya Farasya's Instagram Account on Make Over Cosmetic Brand Attitudes in JABODETABEK and determine the Source Credibility dimension which has the greatest influence on Brand Attitude. The type of research used is explanatory with a quantitative approach, using a questionnaire in the form of Google Form and analyzed using multiple regression analysis. In taking the sample, the researcher used a non-probability sampling technique with a purposive sampling technique. The sample criteria in this study are: (1) Female Instagram social media users aged 18-35 years who live in JABODETABEK, (2) Knowing Tasya Farasya Social Media Influencers, (3) Knowing Make Over cosmetic brands, (4) Ever visited accounts Tasya Farasya's Instagram more than once, and (5) Ever seen Tasya Farasya's promotional content with the Make Over cosmetic brand on Instagram. The results show that the credibility of social media influencers has an effect on consumer attitudes towards brands, where the dimension of trustworthiness is the dimension that has the greatest influence on the formation of attitudes towards brands. The results of the study recommend that if you want to find another endorser, Make Over needs to choose someone with good credibility, especially someone who can be trusted."
Depok: Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Indonesia, 2019
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Wiranita Ramadhani Utami
"Sebagai media sosial berbasis foto, Instagram memberikan ruang ke penggunanya untuk secara hati-hati mengekspresikan diri dengan tujuan untuk menyampaikan sisi positif pengguna ke pengikutnya. Hal ini menciptakan perilaku baru dimana pengguna membuat persona yang bukan diri mereka sendiri dan perempuan menjadi yang paling rentan dalam menghadapi efek negatif presentasi diri. Untuk mengurangi efek negatif dari Instagram, Tagar #MakeInstagramCasualAgain mendorong pengguna menampilkan foto dengan sedikit kurasi untuk menunjukkan diri mereka yang otentik atau tidak sempurna. Penelitian ini bertujuan untuk memahami apakah gerakan ini mampu membantu perempuan menampilkan diri mereka secara berbeda tanpa mengikuti standar social di Instagram. Enam puluh sampel diambil dari lima akun yang mengunggah foto mereka dari Januari hingga Desember 2021. Menggunakan teori presentasi diri dari Goffman (1959), analisa menunjukkan foto yang masuk ke dalam tagar menggunakan sedikit kontrol. Selain itu, sosial media juga tidak mempunyai standar spesifik foto yang layak untuk dibagikan. atau singkatnya, setiap pengguna mempunyai kendali sendiri terhadap foto yang mereka bagikan. Terakhir, dengan lebih banyaknya pengguna yang beralih untuk mengunggah foto yang kurang dikurasi, estetika Instagram yang ada mungkin akan tergantikan dengan postingan biasa. Secara keseluruhan, gerakan ini berdampak positif pada cara orang menampilkan diri dan cara audiens Instagram memandang media sosial.

As a photo-based social media platform, Instagram allows users to create self-expression carefully. They are aiming for users to perceive their bright and positive side of them. This behavior often leads users to create a persona that is not theirs. Mostly, women are vulnerable to facing the consequence of creating self-presentation on Instagram. The hashtag #MakeInstagramCasualAgain encourages users to start displaying photos with less curation to show their imperfect and authentic selves to the public to lessen the negative effect of Instagram. This study aims to understand how this movement helps women present themselves differently without following the social standard through Instagram. Sixty samples are taken from posts uploaded by five accounts from January to December 2021. Using Goffman's (1959) theory of self-presentation, the study found that photos taken under the hashtag reveal that public users share a less controlled action. It also reveals that social media does not have any specific standard of which image is worth sharing. In short, the people who run the platform have control over what to share. Eventually, the existing aesthetic of Instagram may be replaced with casual posts because more users are shifting to show less curated photos. Overall, the movement positively impacts how people present themselves and how the audience of Instagram perceives social media."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 2023
TA-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Ardi Wilda Irawan
"ABSTRAK
Penelitian ini membahas presentasi diri dalam online dating kencan daring di Setipe.com. Presentasi diri adalah salah satu elemen penting dalam kencan daring. Penelitian ini bertujuan mengetahui bagaimana presentasi diri dalam kencan daring. Untuk melihat hal tersebut, peneliti menggunakan teori dramaturgi Goffman. Selama ini presentasi diri Goffman lebih dekat dengan konteks luring, penelitian ini berusaha mendudukkannya dalam konteks daring. Penelitian ini menggunakan metode netnografi untuk mengetahui cara informan menampilkan dirinya dalam percakapan dengan calon pasangan di kencan daring. Penelitian ini akan meneliti dua pengguna kencan daring N=2 dari Setipe.com. Data yang digali adalah profil diri dan interaksi informan dengan calon-calon pasangannya melalui fitur chat di Setipe.com. Hasil penelitian ini menemukan bahwa informan melakukan presentasi diri dalam kencan daring melalui penulisan profil diri dan pesan percakapan dengan match. Sistem kencan daring juga membuat presentasi diri terjadi secara bertahap dan memudahkan informan dalam melakukan presentasi diri. Informan melakukan presentasi diri sejak mendaftar di kencan daring sampai bertukar kontak. Cara-cara yang informan tempuh untuk mempresentasikan dirinya, antara lain: menyeleksi informasi dalam mengisi profil diri, menggunakan informasi dari match untuk mendefinisikan situasi, menonjolkan topik penting untuk mengelola impression management, dan meminta kontak pribadi match agar bisa berpindah ke medium komunikasi yang lebih privat.

ABSTRACT
This research discusses the self presentation in online dating in Setipe.com. This research aims to find out how an individual present him herself in online dating. As one of the important element on online dating, the researcher uses Goffman rsquo s dramaturgy theory to observe the self presentation. Although Goffman rsquo s theory places dramaturgy in offline context, this research is trying to put dramaturgy in online context. The method used in this research is netnography. This research will observe two online dating user N 2 from setipe.com. The data are the informant rsquo s profile and interaction with the match through the chat in setipe.com. The result shows that the informant was presenting himself in online dating. The informant presented himself by shaping his profile and conversing with his match. The online dating system also makes it easy for the informant to present himself gradually. The informant was also presenting himself by exchanging contact with his match. The informant was doing the presentation of self by selecting the profile information, using the match rsquo s information to define the situation, emphasizing a certain topic as an impression management, and asking for the match rsquo s number so that they can switch into a more private communcation medium."
2017
T48783
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Melati Putri Dairly
"Media plays an important role in the creation phenomenon in society, one of which is the K-Beauty phenomenon. This study was conducted to determine the role of the media in the the spread of K-Beauty phenomenon in the beauty community in Indonesia. The data used is primary data in the form of accidental discoveries in the field in this case focusing on social media and secondary data through literature studies, which is then analyzed using two theories, namely media ecology theory and coordinated management of meaning theory which assisted by several concepts. The study found that social media play a role in infusing acts and actions, fixing perception, organizing experiences, and connecting the world through content of Korean Wave found on social media which ultimately forms a perception for the Indonesian beauty community to accept the entry of K-Beauty into Indonesia.

Media berperan penting dalam terciptanya sebuah fenomena di masyarakat, salah satunya adalah fenomena KBeauty. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui peran media dalam penyebaran fenomena K-Beauty di komunitas kecantikan di Indonesia. Data yang digunakan adalah data primer yang diambil dari penemuanpenemuan secara kebetulan pada media sosial dan data sekunder melalui studi literatur, yang kemudian dianalisis menggunakan dua teori yaitu teori ekologi media dan teori manajemen makna terkoordinasi yang dibantu oleh beberapa konsep. Hasil penelitian ini menemukan bahwa bahwa media sosial berperan dalam menanamkan tindakan, memperbaiki persepsi, mengatur pengalaman, dan menghubungkan dunia melalui berbagai konten tentang Korean Wave yang akhirnya membentuk persepsi bagi komunitas kecantikan Indonesia untuk menerima masuknya K-Beauty ke Indonesia."
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2022
MK-pdf
UI - Makalah dan Kertas Kerja  Universitas Indonesia Library
cover
Azizah Nurul Izzah
"Menyebarnya konten beauty trends pada media sosial menyebabkan terbentuknya standar kecantikan baru yang dapat membahayakan kesehatan mereka yang mengikuti tren tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk menginvestigasi bagaimana perempuan memandang beauty trends dan beauty standards. Selain itu, penelitian ini juga menganalisis bagaimana konten beauty trends di media sosial dapat memengaruhi kesehatan penggunanya, baik secara fisik maupun mental. Eyelash extension, fillers, dan cat rambut digunakan sebagai contoh beauty trends pada penelitian ini. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif. Wawancara mendalam dilakukan kepada tiga perempuan terpilih yang memiliki ketertarikan di bidang kecantikan dan aktif di media sosial. Wawancara dilaksanakan pada tanggal 4 hingga 7 Mei 2021. Teori Manajemen Makna Terkoordinasi dan Teori Media Ekologi digunakan sebagai acuan untuk menganalisis pendapat partisipan mengenai beauty standards dan pengalaman pribadi mereka dalam mencoba beauty trends yang ada di Indonesia. Penelitian ini menunjukkan bahwa partisipan berpendapat beauty standards merupakan tolak ukur kecantikan yang dibentuk oleh masyarakat. Mereka juga percaya bahwa beauty standards dapat memengaruhi kesehatan fisik maupun mental pengikutnya. Setelah mencoba salah satu beauty trend, mereka merasakan dampak rambut menjadi lebih kering. Selain itu, mereka juga merasa kurang percaya diri dengan penampilan mereka.

The spreading of beauty trend content on social media that create new beauty standards can cause harm to its consumer. This study aimed to investigate how women see beauty trends and beauty standards. In addition, this study also analyzes how beauty trends content on social media can affect the health of its users, both physically and mentally. This study uses eyelash extensions, fillers, and hair dye as examples of beauty trends. This study uses qualitative research methods. The author conducted the interviews between the 4th and 7th of May 2021. Communication Management of Meaning Theory (CMM) and Media Ecology Theory are used to analyze the participants’ opinions regarding beauty standards and their personal experiences in trying out beauty trends that exist in Indonesia. This study shows that the participants think of beauty standards as a beauty benchmark created by society. They also believe that beauty standards can affect the physical and mental health of one who follows the trends. After trying out one of the beauty trends, they feel their hair is drier. Besides that, they also feel less confident with their appearance."
Depok: Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2022
MK-pdf
UI - Makalah dan Kertas Kerja  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>