Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 11 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Nurhanna Fujiko Kamaruddin
"Failure Mode and Effect Analysis (FMEA) adalah suatu pendekatan terstruktur yang digunakan untuk memperbaiki desain, proses manufaktur, perakitan, serta pelayanan dari suatu produk.
Pada umumnya, para perancang produk selalu melakukan perbaikan atas produk yang dirancangnya. Akan tetapi, produk-produk yang ada di masa kini semakin rumit, dan komponen serta sistem yang saling berkaitan dan saling terganlung satu sama Iainnya, menyebabkan pendekatan analisa kegagalan yang tidak terstruktur semakin tidak dapat mencapai hasil yang diinginkan. Seringkali terdapat kerusakan komponen yang tidak terdeteksi hingga pada tahap penguj ian produk, atau proses manufaktur dan perakitan telah dimulai, bahkan terkadang sampai pada saat produk tersebut dilepas ke pasar. Hal ini akan mengakibatkan desain ulang (redesign) dan pengerjaan ulang (rework) prototipe dan komponen, serta bahkan dapat menjatuhkan reputasi perusahaan.
FMEA merupakan pendekatan terstruktur dan terarah yang dapat mengidentifikasi kecenderungan kegagalan yang potensial, dan kuantifikasi tingkat keseriusan kegagalan serta memberikan peringkat, sehingga tindakan korektif yang sesuai dapat dilaksanakan.
Di dalam penerapan FMEA akan dibentuk suatu kelompok, bik kelompok desain, manufaktur, atau lainnya, yang telah terbukti merupakan Cara yang terbaik untuk memperbaiki desain, serta menghasilkan dan merakit produk yang lebih baik.
Pada beberapa tahun terakhir ini, isu mengenai manufaktur kelas dunia (world class manufacturing) semakin banyak dibicarakan, antara lain mengenai waktu siklus yang cepat, pengenalan produk yang bebas dari kerusakan, TQM dan TPM, perbaikan proses, dan JIT.
FMEA memiliki peran dalam seluruh kegiatan ini, di samping menghasilkan metoda analisa terstruktur yang dapat diterapkan ke desain produk, manufaktur, perakitan, dan pelayanan; serta dapat diterapkan sebelum dirancang dan ditetapkan, sepanjang pengembangan produk, dan juga dapat menjadi alat bantu untuk memperbaiki masalah-masalah yang timbul."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 1997
S36769
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Megasworo Seno Kurniawan
"Kebutuhan akan energi semakin meningkat di seluruh dunia, untuk itu perusahaan tambang batu bara berusaha untuk meningkatkan produksinya guna memenuhi permintaan batu bara yang terus meningkat. Eksploitasi kegiatan operasional batu bara yang terus meningkat dapat mengakibatkan peningkatan kecelakaan kerja jika tidak diimbangi dengan peningkatan keamanan pekerja. Untuk itu, perlu diketahui beberapa kelompok tambang batu bara yang memiliki karakteristik insiden kerja yang sama dan juga penyebab-penyebab terjadinya insiden. Agar para stakeholder mampu mengurangi terjadinya insiden di pertambangan itu sendiri. Berdasarkan hasil penelitian didapatkan 3 cluster yang mencerminkan kondisi keamanan dari pertambangan batu bara, yaitu cluster dengan tingkat risiko rendah, cluster dengan tingkat risiko menengah dan cluster dengan tingkat risiko tinggi.

The needs of energy is increasing all around the world, thus the coal mine company try to increase the production capacity to fill the demand. Exploitation of coal mine operational activity that increased effects the increasing of working accident. according to this issue, the cluster of coal mine's characteristic sholud be known and also the root cause of the incident happened. Through this cluster's characteristic, the stakeholders can reduce the probability of incident happened in their mine. Based on the result of the research, there are 3 clusters that represent the safety condition in coal mine, they are the low risk cluster, middle risk cluster and high risk cluster."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2009
S52087
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Antonius Rudi Setiyawan
"Persaingan dunia usaha saat ini semakin kompetitif. Semua perusahaan khususnya bidang manufaktur, berusaha untuk memberikan yang terbaik bagi konsumennya dengan produk yang berkualitas yang baik serta delivery time yang tepat. Oleh karena itu, setiap perusahaan manufaktur harus pintar menyiasati dan menerapkan strategi yang tepat dalam mendukung proses produksinya. Di sini akan dibahas mengenai salah satu strategi TPM (Total Productive Maintenance) yang secara signifikan bisa membuat proses produksi menjadi lebih baik dalam hal peralatan, pengiriman produk dan tingkat cacat produk.
Penerapan yang benar dari strategi TPM ini dapat meningkatkan kinerja produksi sehingga kelangsungan hidup sebuah perusahaan manufaktur dapat terus terjaga. Dalam penelitian ini digunakan metode pengukuran OEE, regresi majemuk dan korelasi, FMEA, dan SPC untuk mengetahui dan menyelesaikan permasalahan yang terjadi tersebut. Hasil penelitian ini didapatkan bahwa equipment losses adalah salah satu penyebab tertinggi dari rendahnya nilai OEE dan availability ratio.

Competition world of today's increasingly competitive business. All companies, especially in manufacturing, seeks to provide the best for its customers with products of good quality and appropriate delivery time. Therefore, every smart manufacturing companies must deal with and implement the right strategies in support of the production process. Here will be discussed on one of the strategies TPM (Total Productive Maintenance) which significantly could make the production process for the better in terms of equipment, product delivery and product defect rates.
The correct application of the TPM strategy can improve the performance of production so that the survival of a manufacturing company can be maintained. This study used methods by measuring OEE, multiple regression and correlation, and FMEA to identify and resolve these problems occurred. The results of this study found that the equipment losses are one of the highest causes of the low value of OEE and availability ratio.
"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2011
S42798
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Manalu, Dame Reiny Elvrida
"Penyediaan Layanan Transaksi Berbasis Kartu menjadi salah satu perhatian Bank seiring dengan perkembangan kebutuhan transaksi perbankan yang mengharuskan tersedianya layanan kartu yang terhubung dengan pihak lain seperti bank lain, penjual produk atau jasa maupun biller (penyedia layanan penagihan) secara online. Penyediaan fitur layanan menjadi sarana bagi bank untuk mempertahankan nasabahnya. Selain itu Layanan Transaksi Berbasis Kartu juga menjadi salah satu sumber pendapatan bagi bank dengan adanya Pendapatan melalui Biaya Transaksi (Fee-Based Income). Tesis ini membahas tentang manajemen kualitas layanan pada Transaksi Berbasis Kartu dengan menggunakan Total Quality Manajemen. Analisis dilakukan pada Proses Bisnis untuk penyediaan layanan, Tingkat Ketersediaan Layanan (Availability Rate) dan Tingkat Kesuksesan Transaksi (Approval Rate). Analisis dengan menggunakan beberapa tool pada manajemen kualitas yaitu Diagram Pareto, Flow Chart, Control Limit dan Failure Mode and Effect Analysis (FMEA). Dari analisis diketahui seberapa besar faktor-faktor penyebab berkontribusi terhadap terjadinya ketidaktersediaan layanan dan kegagalan transaksi. Analisis FMEA menunjukan proses apa saja yang memiliki resiko yang tinggi dari keseluruhan proses yang terjadi untuk penyediaan layanan ini.

To provide Card-Based Transaction Service should be one of the Bank's concerns, due to growth in needs of the cards transactions that require the availability of the service to be connected with other parties such as other banks, sellers of products or services and biller service provider. The provision of service features is needed to retain customers. Moreover, Card-Based Transaction Services also become a source of income for banks which is by revenue through transaction fee (Fee-Based Income). This thesis discusses the management of service quality on Card-Based Transactions using Total Quality Management. Analysis is done on Business Processes for the provision of services, level of Services Availability (Availability Rate) and Transactions Failure Rate (Approval Rate). Analysis is using some of tools in quality management they are Pareto Diagram, Flow Chart, Control Limit and Failure Mode and Effect Analysis (FMEA). Analysis define how much of the causal factors contribute to the occurrence of non-availability of the services and transaction failure. FMEA Analysis showed high risk processes in the provision of these services.
"
Depok: Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, 2014
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Rizky Ghofari Hadi
"Semakin berkembangnya jaman, kualitas menjadi salah satu aspek penting dalam persaingan industri. Industri perhiasan emas adalah salah satu industri yang sangat bergantung dengan kualitas produk. Suatu perusahaan perhiasan emas yang dapat memberikan kualitas produk yang baik pada pelanggannya akan mampu bersaing di pasar. Sebaliknya, perusahaan yang gagal memberikan kualitas produk yang baik akan dengan mudah kehilangan pelanggan dan kalah bersaing di pasar. Penting bagi perusahaan untuk terus melakukan peningkatan kualitas. Salah satu metode peningkatan kualitas yang dapat digunakan adalah Six Sigma. Six Sigma bertujuan untuk mengurangi variasi proses dengan mengeliminasi defect. Penelitian ini dilakukan pada PT. X, sebuah perusahaan manufaktur perhiasan emas. PT. X terus berupaya untuk menghadirkan produk yang berkualitas untuk para pelanggannya. Namun, saat ini PT. X masih mengalami tingkat defect yang cukup tinggi di proses produksi mereka. Untuk membantu perusahaan dalam mengatasi masalah defect tersebut, penulis menggunakan metode Six Sigma. Metode Six Sigma yang digunakan menggunakan pendekatan DMAIC, yaitu define, measure, analyze, improve, dan control. Penelitian ini akan menjabarkan permasalahan yang ada di proses produksi produk perhiasan emas PT. X, mencari akar penyebab masalah, dan memberikan usulan perbaikan pada PT. X.

With the development of the era, quality has become one of the important aspects in industrial competition. The gold jewelry industry is one industry that is very dependent on product quality. A gold jewelry company that can provide good quality products to its customers will be able to compete in the market. On the other hand, companies that fail to provide good quality products will easily lose customers and lose competitiveness in the market. It is important for the company to continue to make quality improvements. One of the quality improvement methods that can be used is Six Sigma. Six Sigma aims to reduce process variation by eliminating defects. This research was conducted at PT. X, a gold jewelry manufacturing company. PT. X continues to strive to provide quality products for its customers. However, currently PT. X is still experiencing a fairly high defect rate in their production process. To assist the company in overcoming the defect problem, the author uses the Six Sigma method. The Six Sigma method used uses the DMAIC approach, namely define, measure, analyze, improve, and control. This study will describe the problems that exist in the production process of gold jewelry products PT. X, look for the root cause of the problem, and provide suggestions for improvements to PT. X.
"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2022
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Mustafa Haykal
"Produk defektif adalah produk dari hasil produksi yang tidak sesuai standar, tidak dapat dijual, dan tidak dapat digunakan kembali. Risiko terjadinya produk defektif merupakan hal yang tidak dapat dihindari pada proses manufaktur. Dengan adanya risiko tersebut, pemanufaktur perlu menetapkan sasaran mutu produksi yang menjadi parameter kualitas dan performa produksi. Selain kerugian terhadap pemanufaktur, produk defektif juga bertentangan dengan tujuan Sustainable Development Goals (SDGs) yang menyatakan bahwa suatu kegiatan ekonomi harus mencermati isu-isu krusial, seperti dampak terhadap lingkungan akibat limbah produksi. Penelitian ini akan mengidentifikasi dan menilai faktor-faktor penyebab produk defektif dan menawarkan rencana tindakan menggunakan metode Define, Measure, Analyze, Improve, dan Control (DMAIC). Data pada penelitian ini divalidasi menggunakan matriks Failure Mode and Effect Analysis (FMEA) yang disajikan menggunakan Problem Identification and Corrective Action (PICA). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa produk defektif pada proses produksi oleh perusahaan pengemas disebabkan oleh kegagalan fungsi peralatan yang dipengaruhi oleh kurangnya pemeliharaan peralatan dan proses kontrol kualitas. Hasil dari penelitian ini berupa solusi untuk penambahan fungsi alat; memastikan doctor blade dalam kondisi optimal dan sesuai dengan standar acuan proses; meningkatkan konsistensi pemeliharaan; inspeksi dan penggatian rutin alat pneumatic; dan meningkatkan ketelitian kontrol kualitas pada tiap-tiap proses produksi.

Defective products are products that are not up to standard, cannot be sold, and cannot be reused. The risk of defective products occurring is unavoidable in the manufacturing process. Given these risks, manufacturers need to set production quality targets which are parameters of production quality and performance. In addition to losses to manufacturers, defective products also conflict with the objectives of the Sustainable Development Goals (SDGs) which state that an economic activity must pay close attention to crucial issues, such as the impact on the environment due to production waste. This research will identify and assess the factors that cause defective products and offer an action plan using the Define, Measure, Analyze, Improve, and Control (DMAIC) method. The data in this study were validated using the Failure Mode and Effect Analysis (FMEA) matrix presented using Problem Identification and Corrective Action (PICA). The results of this study indicate that defective products in the production process by packaging companies are caused by equipment malfunctions which are affected by a lack of equipment maintenance and quality control processes. The results of this study are solutions for adding tool functions; ensuring that the doctor blade is in optimal condition and in accordance with process reference standards; improve maintenance consistency; inspection and periodic replacement of pneumatic tools; and improve quality control accuracy in each production process."
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2022
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Maulana Ibrahim
"

Failure Mode Effect Analysis (FMEA) dan Root Cause Failure Analysis (RCFA) merupakan metode yang digunakan untuk menganalisis suatu kegagalan.  Metode ini sering digunakan pada industri manufaktur dikarenakan banyak terjadinya risiko kegagalan pada proses produksi. Salah satu kegagalan yang terjadi adalah munculnya defect warna pada produksi label stiker. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui potensi kegagalan proses yang mengakibatkan defect warna & merancang aksi perbaikan terhadap kegagalan tersebut. Metode FMEA digunakan untuk menentukan prioritas kegagalan yang akan difokuskan sedangkan RCFA digunakan untuk mencari akar masalah dari kegagalan yang terjadi menggunakan tools fishbone analysis, fault tree diagram, dan five why analysis. Dari hasil pengukuran severity, occurrence, dan detection, maka didapatkan 9 prioritas kegagalan dengan nilai RPN tertinggi sebesar 441 yaitu Color Range Board (CRB) belum disetujui pelanggan. Dari hasil prioritas kegagalan telah dilakukan 9 aksi perbaikan terhadap 9 prioritas kegagalan tersebut. Setelah dilakukan aksi perbaikan, maka hasil RPN dihitung kembali dan semua kegagalan sudah masuk dalam zona hijau dan kuning dengan nilai RPN terbesar adalah 120. Selanjutnya persentase defect warna mengalami penurunan dari 2,46% menjadi 0% setelah dilakukan aksi perbaikan.


Failure Mode Effect Analysis (FMEA) and Root Cause Failure Analysis (RCFA) are methods used to analyze a failure. This method is often used in the manufacturing industry because there are many risks of failure in the production process. One of the failures that occurred was the appearance of color defects in the production of sticker labels. This study aims to determine the potential process failures that result in color defect in sticker labels & design corrective actions for these failures. The FMEA method determines the priority of failures to be focused on, while RCFA is used to find the root causes of failures that occur using the tools fishbone analysis, fault tree diagram, and five why analysis. From the results of measuring severity, occurrence, and detection, 9 failure priorities were obtained with the highest RPN value of 441; namely, CRB has not been approved by the customer. From the results of failure prioritization, 9 corrective actions have been taken against the 9 failure priorities. After the corrective action is taken, the RPN results are calculated again, and all failures have entered the green and yellow zones with the most considerable RPN value of 120. Furthermore, the percentage of color defects decreased from 2,46% to 0% after the corrective action was taken.

 

"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2023
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Salsabillah Amelano
"Pelayanan pemberian informasi obat dan penyerahan obat yang dilakukan oleh unit kefarmasian tidak lepas dari risiko kesalahan pemberian obat pada pasien. Analisis risiko kesalahan pemberian obat dapat dilakukan dengan metode FMEA. Failure Mode Effect Analysis atau FMEA adalah metode perbaikan kinerja dengan cara mengidentifikasi dan mencegah adanya potensi kegagalan atau kesalahan sebelum terjadi dengan tujuan untuk meningkatkan keselamatan pasien. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran apoteker dalam menganalisis risiko kesalahan yang dapat terjadi dalam pelayanan resep dan menganalisis risiko kesalahan yang dapat yang terjadi dalam pelayanan resep pada pasien di Puskesmas Kecamatan Matraman. Penelitian dilakukan dengan cara observasi lalu menentukan risiko yang terdapat pada setiap tahapan pelayanan resep. Risiko yang telah diidentifikasi kemudian dinilai Risk Priority Number (RPN) berdasarkan tingkat keparahan, kemungkinan risiko, dan kemudahan terdeteksi. Hasil penelitian menunjukkan apoteker berperan dalam manajemen risiko pada pelayanan resep untuk menjamin keberhasilan terapi pasien. Analisis risiko kesalahan dalam pelayanan resep yang diperoleh yaitu kegagalan dalam proses penyiapan obat merupakan kegagalan dengan nilai RPN (Risk Priority Number.) yang paling tinggi, sehingga proses ini menjadi prioritas pertama yang perlu diperbaiki untuk mencegah atau meminimalkan kegagalan pada tahapan pelayanan resep di pelayanan farmasi Puskesmas Kecamatan Matraman, Jakarta Timur.

The service of providing drug information and drug delivery carried out by the pharmaceutical unit cannot be separated from the risk of drug administration errors to patients. Analysis of the risk of drug administration errors can be done with the FMEA method. Failure Mode Effect Analysis or FMEA is a performance improvement method by identifying and preventing potential failures or errors before they occur with the aim of improving patient safety. This study aims to determine the role of pharmacists in analyzing the risks of errors that can occur in prescribing services and to analyze the risks of errors that can occur in prescribing services to patients at the Matraman District Health Center. The research was carried out by means of observation and then determining the risks involved in each stage of the prescription service. The risks that have been identified are then assessed by a Risk Priority Number (RPN) based on the level of severity, likelihood of risk, and ease of detection. The results showed that pharmacists play a role in risk management in prescription services to ensure the success of patient therapy. Analysis of the risk of errors in prescription services obtained, namely failure in the drug preparation process is a failure with the highest RPN (Risk Priority Number.) value, so this process is the first priority that needs to be improved to prevent or minimize failure at the prescription service stage in pharmaceutical services. Puskesmas Kecamatan Matraman, East Jakarta."
Depok: 2022
PR-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Fatimah Husein Shihab
"Pertumbuhan ekonomi di Indonesia mengalami penurunan pada tahun 2020. Industri konstruksi memainkan peran penting dalam pembangunan ekonomi nasional. Saat ini konstruksi menjadi fokus Pemerintah terutama pada pembangunan infrastruktur karena daya saing infrastruktur Indonesia masih tertinggal dibandingkan negara lain. Pandemi yang berlangsung sepanjang tahun 2020 tersebut berdampak signifikan terhadap sektor konstruksi yang merupakan kontributor terbesar terhadap perekonomian nasional, tidak terkecuali PT Bukaka Teknik Utama Tbk. Masalah yang sering terjadi pada proyek konstruksi adalah ketidakefisienan dan pemborosan dalam pelaksanaannya. PT Bukaka Teknik Utama Tbk mengalami penurunan revenue dan laba kotor, segmen usaha yang paling berkontribusi terhadap penurunan ini adalah konstruksi jembatan. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi pemborosan serta mencari akar masalah sering terjadi pada jalannya proyek konstruksi jembatan menggunakan penerapan lean dan metode Waste Assessment Model (WAM). Kemudian dilakukan pencarian akar masalah menggunakan fishbone diagram dan analisis FMEA. Hasil dari penelitian ini adalah waste defect merupakan pemborosan paling besar, yang kemudian diikuti oleh waste transportationdan waste inventory.

Economic growth in Indonesia has decreased in 2020. The construction industry an important role in the development of the national economy. Currently, construction is the focus of the Government, especially in infrastructure development because Indonesia's infrastructure competitiveness is still lagging behind other countries. The pandemic that lasted throughout 2020 had a significant impact on the construction sector, which is the largest contributor to the national economy, including PT Bukaka Teknik Utama Tbk. The problem that often occurs in construction projects is inefficiency and waste in its implementation. PT Bukaka Teknik Utama Tbk experienced a decrease in revenue and gross profit, the business segment that contributed the most of this decline was bridge construction. Therefore, this study aims to identify waste and find the root causes of the problem that often occurs in the course of bridge construction projects using the application of lean and the Waste Assessment Model (WAM) method. Then search for the root cause of the problem using fishbone diagram and FMEA analysis. The result of this research is that defect waste is the biggest waste, which is then followed by transportation waste and inventory waste.
"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2022
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Fahmi Aqwa
"Pandemi Covid-19 menyebabkan krisis ekonomi skala global dengan dampak serius pada sektor logistik terutama pengiriman peti kemas. Pada penelitian ini menjelaskan mengenai dasar serta faktor penyebab terjadinya kelangkaan peti kemas dan rekomendasi untuk mengatasi dan mencegah hal tersebut. Peti kemas memiliki peranan penting dalam sistem logistik dalam lingkup domestik dan internasional karena digunakan sebagai media penyimpanan berbagai komoditas dalam proses distribusi logistik. Pada penelitian ini data kelangkaan peti kemas dan informasi terkait, dikumpulkan melalui studi literatur, pengamatan langsung, pengisian kuesioner dan wawancara langsung dengan pihak ahli terkait. Penyebab kelangkaan peti kemas kemudian diidentifikasi dengan menganalisis setiap kemungkinan yang dapat memicu kelangkaan dengan menggunakan analisa Failure Mode and Effect Analysis (FMEA) dan Bow-Tie Analysis. Berdasarkan analisis yang dihasilkan, faktor penyebab kelangkaan diantaranya pergantian jalur pelayaran, penutupan pelabuhan, ketidaktersediaan armada kapal, pembatasan kapasitas dan pengurangan sumber daya manusia. Rekomendasi yang disarankan bertujuan untuk mengurangi dampak kelangkaan peti kemas dan mencegah kelangkaan peti kemas di masa yang akan datang.

Corona Virus Disease (Covid-19) caused the economic crisis in global scale with main affect in the logistic sector, especially the shipping of container port. This research of thesis will expound about element and the occurrences of port container shortage as well as the suggestions reference to overcome and avoid those issues. Container port plays a crucial role in logistic system within domestic and international scope since it used as the main receptacle any commodities in the process of logistic distribution. This analysis of exploration the principal data of the shortage of container port and all information related are gathered using literature study, direct observation, filling out the questionnaire, and conduct live interview with relevant experts whose related to container port complications. The causes of insufficiency of container port are identified by examine each of possibility which can precipitate the shortage by using Failure Mode and Effect Analysis (FMEA) and Bow-Tie Analysis. Based on the analysis resulting from, few components of the container shortage are cruise line, port closure, unpreparedness fleet of ships, capacity limitation, and devaluation of human resources. The guidances that offered aims to reduce and prevent the undersupply of container port henceforward.
"
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2022
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2   >>