Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 18 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Evy Gantini
Depok: Fakultas Teknik Universitas Indonesia, 2005
T40639
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Yosephine Dian Indraswari
"ABSTRAK
Program Intervensi ini bertujuan untuk mendorong perubahan kebiasaan yang mencemari
sumber air pada anak-anak komunitas Al Bahar. Komunitas Al Bahar adalah sekelompok
masyarakat marginal yang menempati lahan kosong di RT 09/RW 02 Kelurahan Abadi
Jaya, Kecamatan Sukmajaya, Kotamadya Depok, Jawa Barat dengan sistem sewa.
Sebagian besar berprofesi sebagai pedagang kaki lima dan pemulung. Pada wilayah ini
terdapat 7 (tujuh) buah sumur namun warga membeli air untuk konsumsi. Dalam
pandangan mereka, sumur yang ada tidak layak dikonsumsi, salah satunya disebabkan
perilaku anak-anak yang membuang sampah sembarangan dan mengotori sumur.
Metode teater rakyat dipilih karena terbukti efektif dalam melakukan penyadaran untuk
berperilaku lebih baik. Teater rakyat dilahirkan oleh seorang seniman Brasilia bernama
Augusto Boal. Salah satu teater anak-anak yang cukup berhasil adalah Children 's Theatre
Collective (CTC) di Filipina. Berdasarkan pengalaman CTC, teater merupakan proses
yang memberikan ruang untuk anak-anak mengeksplorasi, memahami realitas dan
menemukan solusi atas masalah yang teijadi. Teater juga melatih anak-anak untuk mau
mendengarkan dan berani mengkomunikasikan pengalamannya kepada orang lain.
Pelaksanaan program intervensi beijalan kurang lebih selama 2 (dua) bulan dan diikuti
oleh 11 (sebelas) anak. Metode yang digunakan selain teater, juga permainan yang
menyenangkan bagi anak-anak. Target group dalam intervensi ini yaitu anak usia 6-11
tahun atau tahap operational concrete berdasarkan Jean Piaget. Landasan teori utama
adalah Contextualism dari Lev Semyonovich Vygotsky. Teori ini menempatkan anak
bukan sebagai subyek yang menerima pengaruh dari lingkungan, namun sebaliknya anak
dipandang sebagai aktor yang mampu mempengaruhi lingkungannya {agent o f social
changes). Teori lain yang digunakan adalah individual changes process yang
dikemukakan Martindale (Zaltman, 1972). Martindale menyebutkan dalam tahapan
perubahan perilaku, pertama kali harus muncul kesadaran (awareness). Jika kesadaran
telah muncul, maka akan timbul ketertarikan (interest) yang akan mengarah pada
perubahan perilaku (behavior). Teater menjadi stimulus yang merangsang kesadaran
yang akan mendorong perubahan perilaku anak-anak komunitas Al Bahar.
Intervensi melalui Teater Rakyat telah menyadarkan anak-anak Al Bahar untuk tidak
mencemari sumur dan membuang sampah pada tempat yang telah disediakan. Metode ini
juga mampu membongkar budaya bisu dan membuat komunikasi lebih baik antara anak
dengan orangtuanya. Anak-anak Al Bahar menjadi lebih bertanggungjawab, kreatif dan
bahkan mulai berani mengingatkan para orangtuanya untuk menjaga kebersihan. Dalam
intervensi ini juga diketemukan bahwa internalisasi nilai dan perubahan perilaku lebih
efektif dan lebih cepat terjadi pada anak perempuan dibandingkan laki-laki.
Selain untuk anak-anak, Teater Rakyat dapat juga dimanfaatkan dalam intervensi yang
melibatkan remaja dan para orangtua. Teater Rakyat juga relevan untuk permasalahan
sosial yang terjadi di Indonesia seperti pengungkapan pelanggaran HAM masa lalu,
trauma healing akibat bencana dan konflik, penyadaran untuk isu korupsi dan lingkungan
hidup serta metode yang efektif untuk menggali permasalahan secara partisipatif dalam
program pendampingan masyarakat."
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2008
T37646
UI - Tesis Open  Universitas Indonesia Library
cover
Iis Yatty Liud
"Penelitian ini dilakukan untuk mendapatkan gambaran resiliensi penyintas erupsi Merapi serta mengkaji nilai, norma, dan/atau praktek budaya Jawa apa saja yang terkait dengan kemampuan resiliensi penyintas erupsi Merapi tersebut. Pengertian resiliensi yang dipakai merujuk pada lima karakteristik resiliensi dari Wagnild (2010), yaitu meaningfulness, perseverance, equanimity, self-reliance, dan existential aloneness. Gambaran resiliensi diperoleh dengan menggunakan alat ukur CD-RISC 10 yang sudah diadapatasi oleh Pusat Krisis Fakultas Psikologi UI tahun 2011 dan kajian budaya Jawa diperoleh dari wawancara mendalam. Penelitian ini dilakukan di Desa Krinjing yang merupakan salah satu desa yang terdekat dari puncak Gunung Merapi. Partisipan penelitian terdiri dari empat orang yang berusia 51 hingga 60 tahun dan yang diwawancara mendalam adalah tiga orang yang berusia 51 hingga 60 tahun.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar partisipan berusia 51 hingga 60 tahun mendapatkan skor resiliensi sedang dengan variasi skor yang beragam dari rendah sampai tinggi. Adapun nilai, norma, dan/atau praktek budaya Jawa yang terkait dengan kemampuan resiliensi penyintas erupsi Merapi adalah prinsip kerukunan, gotong royong, prinsip hormat, nrima, iklas, kekerabatan orang Jawa, dan alam gaib. Sejumlah saran untuk menindaklanjuti penelitian ini, termasuk mengatasi keterbatasan penelitian, disertakan.

This study was conducted to gain picture of resiliency among Merapi eruption survivors, and to assess Javanese values, norms, and/or cultural practices associated with the resiliency ability among the survivors. The concept of resiliency refers to the five characeristic of resiliency from Wagnild (2010), and they are meaningfulness, perseverance, equanimity, self-reliance, and existential aloneness. Picture of resiliency was obtained using the CD-RISC 10 adapted by Pusat Krisis Fakultas Psikologi UI in 2011 while the Javanese cultural studies were obtained through interviews. Data were collected in Krinjing village which is one of the nearest villages from the top of Mount Merapi. Altogether four participants of 51 to 60 years old filled out the resiliency scale and three people of 51 to 60 years old were interviewed.
The results indicate that most participants get a middle score of resiliency. The Javanese cultural aspects associated with resiliency ability among eruption survivors were rukun, respect, gotong royong, family relationship among Javanese, nrima, iklas, and belief in supernatural being. Recommendations for futher research are included.
"
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2012
S-Pdf
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Arifa Nadira
"Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk melihat apakah terdapat hubungan antara penerimaan diri dan kecemasan menghadapi masa depan pada mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Indonesia. Metode penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif. Untuk mengukur penerimaan diri digunakan Unconditional Self-Acceptance Questionnaire (USAQ) yang dikembangkan oleh Chamberlain dan Haaga (2001), sementara itu untuk kecemasan menghadapi masa depan digunakan alat ukur yang dikembangkan oleh Zalenksi (1996) yaitu Future Attitude Scale (FAS). Partisipan dalam penelitian ini adalah 101 orang mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Indonesia. Teknik analisis data menggunakan pearson correlation untuk menjawab masalah penelitian. Hasil dari penelitian ini menunjukkan terdapat hubungan yang negatif dan signifikan antara penerimaan diri dan kecemasan menghadapi masa depan (r = -0,419).

This research aim to find correlation between future anxiety and selfacceptance among Faculty of Psychology of Universitas Indonesia student. Unconditional Self-Acceptance Questionnaire developed by Chamberlain and Haaga (2001) was used to measure self-acceptance, while Future Attitude Scale developed by Zaleksi (1996) was used to measure future anxiety. Participants in this research were 101 students of Faculty of Psychology of Universitas Indonesia. Pearson correlation analysis technique was used to answer the research problem. The result showed that there was a negative significant correlation between self-acceptance and future anxiety (r = -0,419)."
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2013
S45866
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Sherly Mega Paranti
"ABSTRAK

Studi tentang bullying selama ini lebih banyak membahas hubungan dyadic pelaku dan korban, padahal studi pada saksi mata bullying (bystander) juga penting dilakukan. Studi di ranah kontekstual terutama level sekolah juga dapat mengembangkan pemahaman mengenai bullying. Bullying adalah perilaku agresif atau menyakiti orang lain secara sengaja, berulang-ulang, yang melibatkan ketidakseimbangan kekuatan fisik, verbal dan sosial. Penelitian ini membahas

hubungan antara school safety dan respons bystander siswa SMA pada kejadian bullying. School safety dihubungkan dengan 3 jenis respons bystander bullying, yaitu defender, outsider, dan reinforcer. Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan desain korelasional. Penelitian dilakukan pada 130 siswa SMA dan SMK di Jakarta dan Depok. Hasil pengujian menunjukkan terdapat hubungan positif antara school safety dan respons defender bystander, r(128) = 0,233, p < 0,01. Lalu, terdapat hubungan negatif antara school safety dan respons outsider bystander, dengan r(128) = -0,302, p < 0,01. Sementara itu, terdapat korelasi yang tidak signifikan antara school safety dan respons reinforcer bystander. Dalam penelitian ini juga dapat diketahui hubungan school safety dan respons bystander bullying pada tiap peran bullying yang dialami partisipan.


ABSTRACT

The study of bullying have mainly discussed the dyadic relationship of perpetrator and victim, whereas studies on bullying witnesses (bystanders) are also important. Studies in contextual domain especially school level can also develop the understanding of bullying. Bullying is aggressive behavior or intentional harm to another person, repeatedly, that involves an imbalance of physical, verbal and social strength. This study examines the relationship between school safety and bystander responses of high school students on bullying incidents. School safety associated with 3 types of bullying bystander response, the defender, outsider, and reinforcer. This research is a quantitative study with a correlational design. The study was conducted on 130 high school students in Jakarta and Depok. The study results showed a positive relationship between school safety and defender bystander response, r (128) = 0.233, p <0.01. Then, there is a negative relationship between school safety and outsider bystander response, with r(128) = -0.302, p <0.01. Meanwhile, there is no significant relationship between school safety and reinforcer bystander response. In this research can also be known the relationship between school safety and bullying bystander response in each role bullying experienced by participants.

"
Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2014
S55861
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Gianisha Mahardini
"Selfie merupakan sebuah fenomena kontemporer meskipun sejarahnya menyebutkan bahwa konsep selfie sudah terjadi bahkan sejak lebih dari 200 tahun yang lalu. Penelitian ini dilakukan untuk memberikan gambaran aspek self melalui pola kecenderungan untuk membandingkan diri dengan orang lain (Gibbons & Buunk, 1999) dan motives of self-evaluation (Sedikides & Strube, 1997; Tesser, 2003) dari pelaku selfie yang berada di tiga tahap perkembangan berbeda. Penelitian ini melibatkan 154 responden yang menjawab survei dalam jaringan. Hasil penelitian menggambarkan adanya pola yang linier negatif antara usia perkembangan dengan skor frekuensi selfie dan social comparison orientation. Dorongan untuk menonjolkan diri ketika melakukan selfie tampak dominan pada kelompok remaja yang frekuensi selfienya berada di atas rata-rata total responden.

Selfie is rather a contemporary phenomenon yet its history says otherwise; that it‟s been established since almost more than 200 years ago. This study was conducted to describe the aspects of the selfie-doers‟ self through the trend of dispositional tendency to compare with other people (Gibbons & Buunk, 1999) and the motives of self-evaluation (Sedikides & Strube, 1997; Tesser, 2003). 154 respondents who answered to online survey were involved in this study. The results say that there‟s a negative linear trend between the developmental age and the selfie frequency, as well as between the developmental age and the social comparison orientation score. The self-enhancement motive is found dominant within the adolescence respondents whose selfie frequency is the highest among other groups."
Depok: Universitas Indonesia, 2014
S56938
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Nezza Nehemiah
"Penelitian ini bertujuan memberikan gambaran yang lebih mendalam mengenai kemampuan resiliensi dan nilai motivasional, serta berbagai faktor yang mendukung resiliensi penyintas peristiwa di Halmahera, bagian dari konflik di Maluku Utara yang tinggal di Bitung. Resiliensi dapat dipahami sebagai kualitas personal yang memungkinkan seseorang untuk melampaui kondisi sulit yang dihadapi dapat dipahami sebagai resiliensi (Connor & Davidson, 2003). Nilai dijelaskan sebagai konsep atau kepercayaan yang terkait dengan keinginan atau tingkah laku pada situasi spesifik yang mengarahkan pemilihan atau evaluasi dari tingkah laku dan kejadian dalam derajat kepentingan yang berbeda (Schwartz, 1992) yang terdiri dari 10 tipe nilai motivasional.
Penelitian ini menggunakan pendekatan mixed method yang melibatkan 58 partisipan yang mengisi kuesioner Connor Davidson Resilience Scale-10 dan Portrait Values Qouestionaire. Penelitian juga melibatkan 12 partisipan focus group discussion yang membahas tentang pengalaman, hal-hal pendukung dan nilai yang terkait dengan resiliensi.
Hasil temuan menunjukkan bahwa perempuan memiliki kemampuan resiliensi yang lebih tinggi dibandingkan laki-laki. Temuan lain menunjukkan perbedaan usia dan jenis kelamin turut menentukan prioritas nilai yang dianut partisipan. Berbagai faktor seperti perhatian keluarga, dukungan sosial, dan keterlibatan dalam aktivitas agama ditemukan mendukung proses adaptasi dan upaya untuk bangkit. Temuan dalam penelitian ini penting untuk dibahas dan dapat digunakan untuk merancang program intervensi untuk membantu pihak lain yang mungkin mengalami pengalaman serupa.

This study aims to provide a better picture about human resilience and motivational values, as well as the other various factors that support resilience in Halmahera incident (connected to Maluku conflict) survivors, who live in Bitung. Resilience refers to personal qualities that enable one to thrive in the face of adversity (Connor & Davidson, 2003). Values are concepts or beliefs that pertain to desirable end states or behaviors which transcend specific situations and guide selection or evaluation of behavior and events that are ordered by relative importance (Schwartz, 1992).
Using a mixed method approach, this study is involving 58 participants using Connor Davidson Resilience Scale-10 and Portrait Values Questionaire. In addition to that, 12 participants took part in the focus group discussion that discussed their experiences, protective factors, and values that help them to become resilience.
Results show that women have a higher resilience than men. Other findings shows age and gender differences also determine the priority of participant's values. Various factors such as family care, social support, and religious beliefs are found to support the adaptation and bounce back process. This study has an important implication to provide a broader picture of resilience and group values that can be used to develop an intervention program to help others who may have similar experiences.
"
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2014
S55152
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Citra Pertiwi
"Menurunnya jumlah pemilih dalam pemilu mendorong lembaga politik berupaya meningkatkan partisipasi pemilih. Salah satunya adalah kampanye get-out-thevote dengan memberi tekanan sosial pada pemilih. Ketika merasa diawasi, warga berusaha patuh terhadap norma sosial agar mendapat pujian atau menghindari cemoohan. Emosi juga berperan dalam pengaruh tekanan sosial terhadap perilaku memilih. Dengan menggunakan field experiment, peneliti merandomisasi 135 partisipan ke dalam 3 kelompok treatment, yaitu surat Hawthorne saja, surat Hawthorne bangga, dan surat Hawthorne malu. Hasilnya pemberian tekanan sosial berupa efek Hawthorne menurunkan perilaku memilih serta tidak ada perbedaan antara ketiga kelompok treatment. Dalam diskusi dibahas mengenai alasan menurunnya perilaku memilih.

Decreasing voter turnout urge non-profit or candidate to increase voter participation in election. One of the method is get-out-the-vote by using social pressure. When voters are observed, they are exerted to comply with social norms to get praise or to avoid chastisement. Emotions also play role in the effect of social pressure on voting behavior. Using field experiment, researcher randomized 135 participants into 3 treatment groups: “Hawthorne” mailing, "Hawthorne with pride" mailing, and “Hawthorne with shame” mailing. The result was that social pressure in the form of Hawthorne effect decreased voting behavior. There was no difference among the treatment groups.
"
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2014
S55792
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Sarah Nicolina Gagola
"[ABSTRAK
Skripsi ini membahas mengenai persepsi tentang kohesi yang dimiliki oleh atlet profesional bolabasket yang terlibat dalam liga tertinggi di Indonesia, yaitu National Basketball League (NBL) Indonesia, dan hubungannya dengan performa individual yang ditampilkan selama setengah musim pertandingan reguler. Alat ukur yang digunakan adalah Group Environment Questionnaire (Carron, et al., 1985) yang telah diadaptasi ke dalam Bahasa Indonesia, dan pengukuran analisis notasi statistik pertandingan individual untuk pengukuran performa individual. Partisipan dari penelitian ini berjumlah 131 atlet profesional dari kedua
belas tim yang berpartisipasi dalam liga NBL Indonesia. Dari penghitungan korelasi yang dilakukan, tidak ditemukan adanya hubungan yang signifikan antara persepsi kohesi dan performa individual pada atlet profesional bolabasket yang bermain di NBL Indonesia, r = 0,066, n = 131, p>0,05, one tail. Hal tersebut dapat disebabkan oleh kemungkinan terdapat faktor lain yang mempengaruhipersepsi kohesi dan performa individual.

ABSTRACT
This research explains about the perception of cohesion on professional athletes who plays at the highest level of basketball league, the National Basketball League Indonesia, and its relationship with individual performance shown for the half of the reguler season. The instruments used in this research is the Group Environment Questionnaire (Carron, et al., 1985) which has been adapted into Bahasa Indonesia, and notational analysis of individual game statistics for the individual performance measurement. Total participant was 131 professional athletes who played for the twelve teams participating in NBL Indonesia. The result of this research shows no significance between perception of cohesion and individual performance in professional atheletes who play in NBL Indonesia, r = 0,066, n = 131, p>0,05, one tail. This result is due to the possibility of other factors influencing perception of cohesion and individual performance., This research explains about the perception of cohesion on professional
athletes who plays at the highest level of basketball league, the National
Basketball League Indonesia, and its relationship with individual performance
shown for the half of the reguler season. The instruments used in this research is
the Group Environment Questionnaire (Carron, et al., 1985) which has been
adapted into Bahasa Indonesia, and notational analysis of individual game
statistics for the individual performance measurement.
Total participant was 131 professional athletes who played for the twelve
teams participating in NBL Indonesia. The result of this research shows no
significance between perception of cohesion and individual performance in
professional atheletes who play in NBL Indonesia, r = 0,066, n = 131, p>0,05, one
tail. This result is due to the possibility of other factors influencing perception of
cohesion and individual performance.]"
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2015
S58885
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
David Aaron
"Salah satu tantangan terbesar perusahaan untuk dapat bertahan dan terus bersaing dalam dunia korporasi adalah mengoptimalkan sumber daya manusia. Dalam rangka mengoptimalkan sumber daya manusia, perusahaan dapat melakukan beberapa upaya yang dapat meningkatkan kinerja karyawan dan mengurangi turnover. Perceived organizational support (POS) merupakan konstruk yang cocok untuk menjawab tantangan pemaksimalan sumber daya manusia. POS adalah keyakinan global yang dikembangkan karyawan terkait sejauh mana organisasi menghargai kontribusi mereka dan peduli terhadap kesejahteraan mereka (Eisenberger, dkk, 1986). POS memiliki dampak terhadap affective commitment, kinerja, lessened withdrawal behavior, dan turnover. Tujuan penelitian ini adalah untuk menguji perbedaan POS pada karyawan Generasi X dan karyawan Generasi Y yang saat ini mendominasi lapangan kerja sebagai sumber daya manusia. Hasil analisis menggunakan independent sample t-test pada 118 responden (Generasi X = 46; Generasi Y = 72) menunjukkan bahwa karyawan Generasi Y memiliki skor rata-rata POS yang secara signifikan lebih rendah daripada karyawan Generasi X.

One of the biggest challenges for company in order to survive and compete in the corporate world is to optimize human resources. In order to optimize human resources, company could make some effort to increase employee performance and reduce turnover. Perceived organizational support (POS) is a suitable construct to answer the challenge regarding maximize human resources. POS is global belief developed by employee concerning the extent to which the organization values their contributions and cares about their well-being (Eisenberger, et.al., 1986). POS has impact to affective commitment, performance, lessened withdrawal behavior, and turnover. The objective of this research is to examine the differences on perceived organizational support between Generation X employees and Generation Y employees. The result of the analysis using independent sample t-test on 118 respondents (Generation X = 46; Generation Y = 72) showed that Generation Y employees had significantly lower POS average than Generation X employees."
Depok: Universitas Indonesia, 2015
S58750
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2   >>