Ditemukan 17 dokumen yang sesuai dengan query
Puti Quratuain I. Armyando
"Efusi pleura adalah salah satu presentasi klinis yang umum didapatkan pada pasien dengan Chronic Kidney Disease (CKD). Terhambatnya otot inspirasi akan menurunkan ekspansi dada, menimbulkan gejala dispnea pada pasien. Yoga pranayama melibatkan lubang hidung, saluran pernapasan, diafragma, dan paru-paru secara aktif. Pola ritme alternate nostril breathing memberikan dukungan ventilasi kepada pasien dengan memperkuat sistem pernapasan. Analisis dilakukan pada pasien 61 tahun yang mengalami CKD stage 5 dengan efusi pleura post pungsi pleura dengan keluhan utama sesak napas. Intervensi pranayama: alternate nostril breathing dilakukan selama tiga hari dengan frekuensi latihan dua kali per hari. Evaluasi status pernapasan dan instrumen SGRQ dilakukan untuk mengecek efektifitas alternate nostril breathing dalam memberikan dukungan ventilasi terhadap pola napas tidak efektif. Hasil menunjukkan penurunan frekuensi napas yang signifikan dan penurunan skor total SGRQ sebanyak 12.5% dari skor awal. Berdasar dari hasil penelitian, alternate nostril breathing berhak dilakukan sebagai modalitas terapi tambahan pada pasien dengan pola napas tidak efektif.
Pleural effusion is one of the most common clinical presentations in patients with Chronic Kidney Disease (CKD). Inhibition of muscle inspiration reduces chest expansion, causing symptoms of dyspnea on the patient. Pranayama as yogic breathing actively engages the nostril, respiratory tract, diaphragm and lungs. The rhythmic pattern of alternate nostril breathing provides ventilatory support to the patient by strengthening the respiratory system. The analysis was carried out on a 61 year old patient who experienced CKD stage 5 with pleural effusion after thoracentesis with chief complaint being shortness of breath. An intervention of Pranayama: alternate nostril breathing is carried out for three days with a frequency of practice twice per day. Respiratory status and SGRQ instrument evaluations were performed to examine the effectiveness of alternate nostril breathing in providing ventilatory support against ineffective breathing patterns. The results showed a significant decrease in respiratory frequency and a decrease in the total SGRQ score of 12.5% from the initial score. Based on the research results, alternate nostril breathing can be performed as an additional therapeutic modality in patients with ineffective breathing patterns."
Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2024
PR-PDF
UI - Tugas Akhir Universitas Indonesia Library
Josephine Ira Aldorina
"Proses Pengakuan dan Perlindungan Masyarakat Hukum Adat (PPMHA) sangat penting untuk dilakukan untuk memastikan keberadaan dan kepastian akan terpenuhinya hak asasi masyarakat adat. Hutan adat merupakan salah satu hak masyarakat adat yang harus dipenuhi, sebab hutan adat merupakan bentuk perwujudan dari hutan hak. Penulisan makalah ilmiah ini menjelaskan dinamika yang terjadi dalam proses PPMHA, khususnya pengusulan Hutan Adat Himba Atang Ambun Liang Bungai, Gunung Mas, Kalimantan Tengah. Dengan menggunakan pendekatan bottom-up, Badan Registrasi Wilayah Adat (BRWA) berupaya untuk mengadvokasi kebutuhan Masyarakat Adat Dayak Ot Danum Himba Atang Ambun Liang Bungai dalam upaya pengusulan hutan adat. Melalui pendekatan bottom-up, diharapkan BRWA mampu melibatkan seluruh anggota masyarakat adat dalam proses pengambilan keputusan terkait hutan adat berdasarkan konteks dan pengetahuan lokal. Dengan menggunakan konteks dan pengetahuan lokal dalam proses pengambilan keputusan terkait hutan adat, diharapkan komunitas masyarakat adat terkait dapat memastikan keberlanjutan dan kelestarian dari (calon) hutan adatnya. Makalah ilmiah ini merupakan hasil refleksi dari kegiatan magang saya ketika menjadi fasilitator BRWA di Kabupaten Gunung Mas, Kalimantan Tengah, saat berupaya untuk mengadvokasi masyarakat adat akan perwujudan haknya, yaitu hutan adat.
The Process of Recognition and Protection of Indigenous Legal Communities (PPMHA) is crucial to ensure the existence and certainty of the fulfillment of indigenous people's basic rights. Customary forests are one of the rights of indigenous people that must be fulfilled, as customary forests are a manifestation of forest rights. This scientific paper explains the dynamics that occur in the PPMHA process, especially the customary forest registration of Himba Atang Ambun Liang Bungai, Gunung Mas, Central Kalimantan. Using a bottom-up approach, Badan Registrasi Wilayah Adat (BRWA) strives to advocate for the needs of the Dayak Ot Danum Himba Atang Ambun Liang Bungai indigenous community in their effort to apply for customary forests. Through a bottom-up approach, BRWA aims to involve all members of the indigenous community in the decision-making process related to customary forests based on local context and knowledge. By using local context and knowledge in the decision-making process related to customary forests, it is hoped that the related indigenous community can ensure the continuity and preservation of their (potential) customary forests. This scientific paper is the result of my internship reflection when I became a facilitator for BRWA at Gunung Mas Regency, Central Kalimantan, while striving to advocate for indigenous people's rights, namely their customary forests."
Depok: Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, 2024
TA-pdf
UI - Tugas Akhir Universitas Indonesia Library
Pramita Nastiti
"Kanker orofaring termasuk kedalam kanker kepala dan leher, dimana kanker terjadi di bagian tengah tenggorokan yang berada tepat di belakang rongga mulut. Pada stadium lanjut, kanker ini dapat menyebar ke organ yang jauh. Tiga puluh dari 772 penderita kanker ini (3,9%) memiliki bukti klinis adanya metastase sel kanker ke area tulang belakan (Suzuki et al, 2020). Penyebaran sel kanker ke daerah tulang sering disebut dengan penyakit metastasis tulang atau Metastatic Bone Disease (MBD). Adanya fraktur patologis di segmen vetebra merupakan salah satu tanda adanya penyebaran kanker ke daerah spinal. Saraf spinalis pun berisiko mengalami cedera karena berada tepat dibawah dan di sepanjang tulang belakang. Pada kasus ini pasien mengeluh kedua kakinya tidak mampu digerakkan dan tidak dapat mengontrol BAK. Hal ini menunjukan adanya cedera neurologis di bagian saraf spinalis pasien. Tatalaksana medis yang sudah dilakukan adalah berupa dekompresi dan stabilisasi posterior di daerah thorakal dan lumbal. Pemasangan implan tersebut tidak serta merta mengembalikan fungsi sensorik dan motorik pasien, sehingga diperlukan adanya latihan untuk mempertahankan bagian tubuh yang terdampak. Selama 5 hari penulis melakukan interveni ROM untuk mempertahankan kekuatan otot dan fleksibilitas sendi pasien. Penulis juga melibatkan keluarga dalam latihan yang dilakukan 2 kali sehari selama 30 menit. Hasil yang didapat adalah kekuatan motorik ekstremitas atas 5555/5555 dan motorik ekstremitas bawah 1111/1111. Jari-jari kaki kiri dapat bergerak minimal. Kontraksi otot pasien makin teraba dan terlihat walau sedikit. Tidak ada spastisitas pada otot, kontraktur sendi maupun deformitas.
Oropharyngeal cancer is included in head and neck cancer, where cancer occurs in the middle of the throat which is right behind the oral cavity. In advanced stages, this cancer can spread to distant organs. Thirty of the 772 cancer sufferers (3.9%) had clinical evidence of cancer cell metastases to the spine area (Suzuki et al, 2020). The spread of cancer cells to the bone area is often called metastatic bone disease (MBD). The presence of a pathological fracture in the spinal segment is a sign of the spread of cancer to the spinal area. The spinal nerves are also at risk of injury because they are located directly below and along the spine. In this case the patient complained that he could not move his legs and could not control his urination. This indicates a neurological injury to the patient's spinal cord. The medical treatment that has been carried out is in the form of decompression and posterior stabilization in the thoracic and lumbar areas. Installation of these implants does not immediately restore the patient's sensory and motor function, so training is needed to maintain the affected body parts. For 5 days the author carried out ROM intervention to maintain the patient's muscle strength and joint flexibility. The author also involves the family in exercises which are carried out twice a day for 30 minutes. The results obtained were upper extremity motor strength 5555/5555 and lower extremity motor strength 1111/1111. The toes of the left foot can move minimally. The patient's muscle contractions become more palpable and visible, although slightly. There is no spasticity in muscles, joint contractures or deformities."
Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2024
PR-PDF
UI - Tugas Akhir Universitas Indonesia Library
"Defisit neurologis yang menyebabkan imobilitas merupakan salah satu kondisi yang sering dialami oleh pasien stroke. Minimnya pergerakan dan perubahan posisi, serta status nutrisi yang buruk dapat meningkatkan risiko timbulnya luka tekan. Analisis asuhan keperawatan dilakukan pada kasus seorang perempuan berusia 73 tahun yang mengalami stroke. Diagnosis keperawatan yang muncul adalah bersihan jalan napas tidak efektif, risiko perfusi serebral tidak efektif, hambatan mobilitas fisik, risiko kerusakan integritas kulit, gangguan menelan, gangguan komunikasi verbal, gangguan persepsi sensori, dan defisit perawatan diri. Tujuan dari penulisan ini adalah untuk mengetahui tingkat efektivitas penerapan perubahan posisi lateral 30 derajat untuk mencegah timbulnya luka tekan pada pasien stroke dengan kondisi tirah baring lama. Perubahan posisi lateral 30 derajat dilakukan setiap 3 jam dengan penggunaan jadwal reposisi. Evaluasi risiko luka tekan dipantau setiap hari menggunakan skala Braden dan pemantauan kondisi kulit pasien. Hasilnya, tidak ditemukan adanya tanda-tanda luka tekan pada pasien setelah 9 hari masa perawatan dalam kondisi tirah baring. Sehingga dapat disimpulkan bahwa posisi lateral 30 derajat bermanfaat untuk mencegah kejadian luka tekan pada pasien tirah baring.
Neurological deficit causes immobility that is often experienced by patients with stroke. Limited ability to move, as well as poor nutritional status increase the risks for developing pressure sores. An analysis of nursing care was carried out in the case of a 73 year old female who had a stroke. The emerging nursing diagnoses are ineffective airway clearance, risk of ineffective cerebral perfusion, impaired physical mobility, risk of damage to skin integrity, impaired swallowing, impaired verbal communication, disturbed sensory perception, and self care deficit. The purpose of this paper is to analyze the benefit of applying a 30 degree lateral position to prevent pressure sores in a patient with stroke caused by long immobilization. Lateral position of 30 degrees is performed every 3 hours using a repositioning schedule. The risk of pressure sores was monitored daily using the Braden scale and assessing the patient's skin conditions. There were no signs of pressure sores in the patient after 9 days of intervention in bed rest. It can be concluded that the lateral position of 30 degrees is useful in preventing the occurrence of pressure sores in bedridden patients."
[Depok;Depok, Depok]: [Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia;Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia], 2023
PR-pdf;PR-pdf
UI - Tugas Akhir Universitas Indonesia Library
Shabrina Nanda Vitrian
"Amyotrophic lateral sclerosis (ALS) merupakan gangguan neurodegeneratif progresif yang menyerang unit motorik pada korteks serebral, neuron motorik atas dan neuron motorik bawah. Manifestasi klinis yang umum terjadi pada pasien ALS adalah kelemahan otot. Kelemahan otot terjadi pada otot volunter seperti pada ekstremitas, mulut, tenggorokan, hingga pernapasan. Analisis asuhan keperawatan dilakukan pada kasus seorang pasien laki-laki berusia 54 tahun yang mengalami ALS. Diagnosa keperawatan yang muncul adalah gangguan mobilitas fisik, intoleransi aktivitas, risiko aspirasi, gangguan komunikasi verbal, risiko jatuh, gangguan proses keluarga. Tujuan penulisan ini adalah memaparkan hasil analisis asuhan keperawatan dengan implementasi latihan ROM spherical grip untuk meningkatkan kekuatan otot dan rentang gerak sendi pada pasien ALS. Latihan ROM spherical grip dilakukan dua kali sehari dengan durasi 15 menit selama empat hari Hasil yang didapatkan adalah latihan ROM spherical grip terbukti meningkatkan kekuatan otot dan rentang pergerakan sendi pada pasien ALS. Dapat disimpulkan, latihan ROM spherical grip dapat dilakukan untuk meningkatkan kekuatan otot dan rentang pergerakan sendi serta intervensi ini mudah, aman, dan tidak menimbulkan efek samping.
Amyotrophic lateral sclerosis (ALS) is a progressive neurodegenerative disorder that attacks motor units in the cerebral cortex, upper motor neurons and lower motor neurons. The main clinical manifestation is muscle weakness. Muscle weakness occurs in voluntary muscles such as in the extremities, mouth, throat, and breathing. The nursing care analysis was performed on a 54 years old male patient with ALS. Nursing diagnosis included impaired in physical mobility, activity intolerance, risk for aspiration, impaired verbal communication, risk for adult fall, and interrupted family process. The purpose of this paper is to present the results of the analysis of nursing care for patient with ALS and the implementation of spherical grip ROM exercises to increase muscle strengths and joint range of motion. Spherical grip ROM exercises were performed twice a day for 15 minutes in four days. The result showed that the spherical grip ROM exercises was beneficial in increasing muscle strength and range of join movements in a patient with ALS. To sum up, the spherical grip ROM exercises increases muscle strength and range of joint movement. This intervention is relatively easy, safe, and does not cause side effects."
Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2023
PR-PDF
UI - Tugas Akhir Universitas Indonesia Library
Syechan Ari Rinaldo
"Pneumotoraks spontan sekunder adalah kondisi ketika udara atau gas lain memasuki rongga pleura yang dapat disebabkan oleh tuberkulosis paru. Pasien dengan pneumotoraks memiliki beberapa manifestasi klinis seperti nyeri dada pleuritik, meningkatknya frekuensi pernapasan, dan sesak napas. Diagnosa keperawatan yang dirumuskan pada pasien adalah pola napas tidak efektif, ketidakstabilan kada glukosa darah, risiko cedera, risiko perluasan infeksi, dan risiko jatuh. Salah satu intervensi keperawatan harus segera dilakukan untuk meningkatkan status pernapasan pada pasien dengan pneumotoraks adalah penerapan posisi Fowler dan latihan pernapasan. Beberapa penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa posisi Fowler dan latihan pernapasan dapat meningkatkan status pernapasan. Hasil dari penerapan intervensi tersebut menunjukkan adanya peningkatan status pernapasan dengan indikator keluhan sesak, laju pernapasan, dan oksimetri.
Secondary spontaneous pneumothorax is a condition when air or other gases enter the pleural space that can be caused by pulmonary tuberculosis. Patients with pneumothorax have several clinical manifestations such as pleuritic chest pain, increased respiratory rate and shortness of breath. Nursing diagnosis occured in patient included an ineffective breathing pattern, unstable blood glucose level, risk for suffocation, risk for infection spreading, and risk for fall. Nursing interventions must be carried out immediately mainly to improve respiratory status. There are several interventions that can be performed to improve respiratory status in patients with pneumothorax, including the application of Fowler's position and breathing exercises. Previous studies have shown that Fowler's position and breathing exercises can improve respiratory status. The results of implementing these interventions showed an increase in respiratory status indicated by shortness of breath, respiratory rate, and pulse oximetry."
Jakarta: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2023
PR-pdf
UI - Tugas Akhir Universitas Indonesia Library
Sonya Novita Nayunda Sari
"
Multiple myeloma adalah kondisi dimana sel plasma neoplastik berkembang dan mengisi ruang sumsum tulang yang menyebabkan kerusakan integritas tulang. Manifestasi klinis umum yang terjadi pada pasien multiple myeloma adalah nyeri kronik. Nyeri kronik dihubungkan dengan kondisi muskuloskeletal kronis yang menyebabkan pasien mengeluhkan nyeri yang sangat hebat pada area tulang. Umumnya pasien multiple myeloma dilakukan tatalaksana kemoterapi untuk memperlambat pertumbuhan sel kanker dan mengurangi gejala yang timbul, tetapi sering kali pasien mengeluhkan mual dan muntah pasca dilakukan kemoterapi. Hal ini menyebabkan pasien dapat mengalami peningkatan frekuensi mual setelah kemoterapi. Untuk mengatasi dua kondisi tersebut, salah satu intervensi keperawatan mandiri yang dapat dilakukan dengan mudah untuk menurunkan nyeri dan mual adalah dengan pemberian swedish massage dan aromaterapi citrus. Melalui hasil karya ilmiah ini, telah dilaporkan hasil analisis pelaksanaan asuhan keperawatan pada pasien multiple myeloma dengan penerapan swedish massage dan aromaterapi citrus untuk menurunkan intensitas nyeri dan mual. Metode yang digunakan adalah case study pada Ibu berusia 60 tahun dengan multiple myeloma disertai kondisi somatic pain shoulder dextra ec cancer pain dd closed fracture. Intervensi swedish massage dan pemberian aromaterapi citrus dilakukan selama 4 hari, dimana setiap pijatan dilakukan selama 20 menit dan untuk aromaterapi diberikan selama enam jam. Kemudian dilakukan evaluasi menggunakan skala nyeri numeric rating scale dan untuk mual menggunakan Rhodes Index Nausea, Vomitting, and Retching (RINVR). Hasil intervensi menunjukkan bahwa penerapan swedish massage dan aromaterapi citrus terbukti dapat menurunkan intensitas nyeri dan mual. Oleh karena itu, penulis merekomendasikan penerapan swedish massage dan aromaterapi citrus dilakukan pada pasien multiple myeloma untuk menurunkan intensitas nyeri dan mual.
Multiple myeloma is a condition in which neoplastic plasma cells develop and fill the bone marrow space causing damage to bone integrity. Common clinical manifestations that occur in patients with multiple myeloma is chronic pain. Chronic pain is associated with chronic musculoskeletal conditions that cause patients to feeling of severe pain in the bone area. Generally, multiple myeloma patients are treated with chemotherapy to slow the growth of cancer cells and reduce the symptoms that arise, but patients often feels of nausea and vomiting after chemotherapy. This causes patients to experience an increase in the frequency of nausea after chemotherapy. To overcome these two conditions, one of the independent nursing interventions that can be done easily to reduce pain and nausea is by giving swedish massage and citrus aromatherapy. Through this paper, it has been reported the results of an analysis of the implementation of nursing care in multiple myeloma patients with the application of swedish massage and citrus aromatherapy to reduce pain intensity and nausea. The method used is a case study in a 60 year old mother with multiple myeloma accompanied by somatic shoulder pain dextra ec cancer pain dd closed fracture. The swedish massage intervention and the administration of citrus aromatherapy were carried out for 4 days, where each massage was carried out for twenty minutes and for aromatherapy it was given for six hours. Then an evaluation was carried out using a pain Numerical Rating Scale (NRS) and for nausea using the Rhodes Index Nausea, Vomitting, and Retching (RINVR). The results of the intervention showed that the application of swedish massage and citrus aromatherapy was proven to reduce the intensity of pain and nausea. Therefore, the authors recommend the application of Swedish massage and citrus aromatherapy to multiple myeloma patients to reduce pain intensity and nausea."
Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2023
PR-pdf
UI - Tugas Akhir Universitas Indonesia Library
Mohammad Faruq Fauzi
"Diabetes Melitus merupakan penyakit tidak menular serta penyakit kronis yang terjadi orang dewasa yang membutuhkan pengawasan medis berkelanjutan dan pendidikan perawatan diri. Diabetes melitus mampu mempengaruhi vaskularisasi sehingga menyebabkan terjadinya perubahan pada makrovaskular umumnya mengenai otak, jantung dan pembuluh darah dan mikrovaskular dapat terjadi pada mata dan ginjal serta terjadi perubahan pada sistem saraf atau neuropati seperti europati motorik, sensorik, ataupun neuropati otonom. Tujuan penulisan karya ilmiah ini adalah untuk menganalisis penerapan intervensi senam kaki diabetes dalam memberikan asuhan keperawatan pada pasien diabetes melitus. Senam kaki diabetes juga dapat meningkatkan perfusi, mencegah perburukan neuropati pada pasien diabetes mellitu. Intervensi dilakukan selama lima hari perawatan dan dimulai intervensi pada hari ketiga perawatan. Hasilnya menunjukkan bahwa senam kaki diabetes dapat meningkatkan sirkulasi perifer yang ditandai perubahan pulse oximetry, CRT dan nilai ABI. Selain itu terjadi penurunan keluhan yang dirasakan oleh pasien. Melihat keefektifan senam kaki diabetic pada pasien diabetes melitus maka diharapkan intervensi ini dapat digunakan sebagai perawatan rutin pada pasien diabetes melitus
Diabetes Mellitus is a non-communicable and chronic disease that occurs in adults and requires ongoing medical supervision and self-care education. Diabetes mellitus can affect vascularization, causing changes in the macrovasculature generally affecting the brain, heart, and blood vessels and microvasculature can occur in the eyes and kidneys as well as changes in the nervous system or neuropathy such as motor, sensory neuropathy or autonomic neuropathy. The aim of writing this scientific work is to analyze the application of diabetic foot exercise interventions in providing nursing care to diabetes mellitus patients. Diabetic foot exercises can also increase perfusion, preventing worsening neuropathy in diabetes mellitus patients. The intervention was carried out for five days of treatment and began on the third day. The results show that diabetic foot exercises can improve peripheral circulation as indicated by changes in pulse oximetry, CRT, and ABI values. Apart from that, there was a decrease in complaints felt by patients. Seeing the effectiveness of diabetic foot exercises in diabetes mellitus patients, it is hoped that this intervention can be used as routine care for diabetes mellitus patients"
Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2022
S-pdf
UI - Skripsi Membership Universitas Indonesia Library
Vanda Nur Azizah
"Tuberkulosis merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri mycobacterium tuberculosis. Salah satu penyebab perburukan dan kematian pada pasien dengan tuberkulosis paru adalah adanya sepsis. Sepsis merupakan disfungsi organ mengancam nyawa yang disebabkan oleh disregulasi respon host terhadap infeksi. Syok sepsis akibat tuberkulosis dapat menyebabkan beberapa gejala yang umum pada tuberkulosis, seperti demam dan sesak napas hingga disfungsi multiorgan. Angka kematian yang tinggi dan kesalahan diagnosis sepsis pada tuberkulosis masih umum terjadi. Oleh karena itu, perawat berperan penting dalam pengenalan dini dan perawatan pada pasien dengan sepsis. Penulisan karya ilmiah ini bertujuan untuk memaparkan hasil praktik mengenai pemberian asuhan keperawatan pada pasien tuberkulosis paru dengan sepsis. Analisis asuhan keperawatan dilakukan pada pasien laki-laki berusia 49 tahun yang mengalami tuberkulosis paru disertai dengan sepsis di ruang rawat inap. Masalah keperawatan yang dapat diangkat pada kasus pasien dengan sepsis, antara lain bersihan jalan napas tidak efektif, ketidakseimbangan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh, dan risiko syok. Penerapan intervensi pada karya ilmiah ini khususnya berfokus untuk menangani risiko syok dengan menggunakan bundel yang disertai dengan perawatan terperinci pada pasien. Intervensi diberikan selama empat hari kepada pasien. Intervensi yang diterapkan efektif dalam meningkatkan kondisi klinis pasien ketika dilakukan penerapan, namun tidak berdampak signifikan pada peningkatan kondisi klinis pasien secara kumulatif.
Tuberculosis is an infectious disease caused by the bacteria mycobacterium tuberculosis. One of the causes of deterioration and death in patients with pulmonary tuberculosis is sepsis. Sepsis is a life-threatening organ dysfunction caused by dysregulation of the host response to infection. Septic shock due to tuberculosis can cause several symptoms common to tuberculosis, such as fever and shortness of breath to multiorgan dysfunction. The high mortality rate and misdiagnosis of sepsis in tuberculosis are still common. Therefore, nurses play an important role in early recognition and treatment of patients with sepsis. The aim of writing this scientific work is to present practical results regarding the provision of nursing care to pulmonary tuberculosis patients with sepsis. Analysis of nursing care was carried out on a 49 year old male patient who experienced pulmonary tuberculosis accompanied by sepsis in the inpatient room. Nursing problems that can be raised in cases of patients with sepsis include ineffective airway clearance, imbalanced nutrition: less than body requirements, and risk of shock. The implementation of interventions in this scientific work specifically focuses on managing the risk of shock using a bundle accompanied by detailed patient care. The intervention was given for four days to the patient. The intervention implemented was effective in improving the patient's clinical condition when implemented, but did not have a significant impact on improving the patient's clinical condition cumulatively."
Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2023
PR-pdf
UI - Tugas Akhir Universitas Indonesia Library
Fetty Fauziyah Hidayat
"Stroke merupakan penyebab utama kecacatan jangka panjang hingga kematian karena penyumbatan/pecahnya pembuluh darah yang mengakibatkan tidak tercukupinya pasokan darah yang membawa oksigen ke otak sehingga terjadi kematian sel/jaringan. Stroke hemoragik lebih mengancam kesehatan bahkan nyawa dibandingkan dengan stroke iskemik. Perdarahan intraserebral atau intracerebral hemorrhage (ICH) menjadi jenis stroke hemoragik yang paling banyak terjadi dengan berbagai manifestasi klinis tergantung dengan bagian otak yang terkena. Salah satu dampak dari ICH yang termasuk berbahaya yaitu peningkatan tekanan intrakranial (TIK). Studi ini bertujuan untuk menganalisis penerapan elevasi kepala 30° - 45° sebagai manajemen TIK pada pasien dengan ICH dan riwayat tanda-tanda peningkatan TIK. Intervensi elevasi kepala telah dilakukan selama 3 hari dengan durasi 24 jam dan hasil yang didapatkan yakni kestabilan tanda-tanda vital dan tidak adanya tanda-tanda peningkatan TIK.
Stroke is the main cause of long-term death due to rupture of blood vessels resulting in insufficient blood supply that carries oxygen to the brain resulting in cell/tissue death. Hemorrhage strokes are more threatening than ischemic strokes. Intracerebral hemorrhage or ICH is the most common type of hemorrhage stroke with various clinical manifestations depending on the brain affected. One of the harmful effects of ICH is an increase of intracranial pressure (ICP). This study aimed to analyze the implementation of head elevation 30° - 45° as ICP management in patient with ICH and history of signs of elevated ICP. The head elevation intervention has been carried out for 3 days with a duration of 24 hours and the result obtained are the stability of vital signs and no signs of increased ICP."
Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2022
PR-pdf
UI - Tugas Akhir Universitas Indonesia Library