Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 39 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Gabriella Putri Anandaprasa
"ABSTRAK
Perfeksionisme adalah konsep yang diterima dengan baik dalam literatur psikologis. Namun karena mayoritas peneliti menggunakan pendekatan multidimensional, tidak ada definisi yang seragam untuk perfeksionisme. Juga, beberapa dimensi dari skala-skala perfeksionisme yang sudah ada kerap menunjukkan ketidakstabilan faktorial pada sampel yang berbeda. Untuk mengatasi masalah ini, kami mengembangkan skala Perfeksionisme Singkat BPS hanya terdiri dari dua dimensi: 1 Perfeksionisme Adaptif, dan 2 Perfeksionisme Maladaptif. Lebih jauh lagi, penelitian ini melaporkan reliabilitasnya, dan kekuatan prediktif relatif dari subskalanya untuk harga diri, kegelisahan, neurotisme dan kesadaran. BPS diuji pada 167 siswa di Universitas Queensland. Studi kami menemukan bahwa BPS mampu memprediksi kecemasan, neurotisme dan ketelitian. Namun, harga diri tidak dapat diprediksi oleh BPS. Secara keseluruhan, skala baru ini memiliki tingkat validitas yang layak, reabilitas yang baik. Selain itu, indeks item diskriminasi telah menunjukkan kecukupan skala ini untuk membedakan perfeksionis adaptif dan maladaptif. Dalam hal reabilitas, Brief Perfectionism Scale kami telah ditemukan memiliki konsistensi internal yang baik Cronbach Alpha = 0,81 dan analisis diskriminan untuk item tersebut memuaskan. Terakhir, perbaikan masa depan harus dilakukan mengenai item dengan indeks diskriminasi item rendah, dan validitas konten pada subskala adaptif perfeksionisme.

ABSTRACT
Perfectionism is a well received concept in psychological literature. Yet due to the multidimensional approach, there was no uniform definition for perfectionism. Also, some of perfectionism scales indicated factorial instability across different samples. To overcome these problems, we developed the Brief Perfectionism scale BPS would only consists of two dimensions 1 Adaptive, and 2 Maladaptive Perfectionism. Furthermore This study reported its reliability, and the relative predictive power of its subscales to self esteem, anxiety, neuroticism and conscientiousness. The BPS was tested on 167 students of University of Queensland. The study found out that the BPS was able to predict anxiety, neuroticism and conscientiousness. However, self esteem could not be predicted by BPS. Overall, this new scale has a decent degree of validity, a good reliability. In addition, the item discrimination indices have shown this scale rsquo s adequacy to differentiate adaptive and maladaptive perfectionists. In regards to the reliability, our Brief Perfectionism Scale has found to have excellent internal consistency Cronbach Alpha .81 and the discriminant analyses for the items were satisfactory. Lastly, future improvements should be made regarding the items with low item discrimination indices, and the content validity on the adaptive perfectionism subscale. "
2018
TA-Pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Risma Alifa
"Setiap orang menginginkan kebahagiaan untuk memudahkan mereka dalam mencapai tujuan hidup. Diener (2002) menyebutkan kebahagiaan juga disebut sebagai subjective well-being. Oleh karena itu, subjective well-being penting untuk semua orang terutama remaja yang berada pada fase krisis karena kehilangan ibu yang meninggal, bercerai, atau ibu sebagai buruh migran. Kondisi ini membuat anak terpaksa tinggal hanya bersama ayah. Ayah yang biasanya dipersepsikan kurang terlibat dalam kehidupan anak, dapat memprediksi subjective well-being mereka. Hal ini membuat keterlibatan ayah sangat penting untuk remaja. Remaja yang berada pada keluarga ayah tunggal banyak terjadi di Karawang, sehingga responden penelitian ini adalah 56 remaja awal berusia 12-15 tahun yang tinggal hanya bersama ayah di Karawang. Alat ukur yang digunakan adalah The Satisfaction With Life Scale (Diener, Emmons, Larsen, & Griffin, 1985), Positive and Negative Affect Schedule (Watson, Clark, & Tellegan, 1988), dan Subjective Happiness Scale (Lyubomirsky & Lepper, 1999), Nurturant Fathering Scale dan The Father Involvement Scale (Finley & Schwartz, 2004). Teknik analisis yang digunakan adalah simple regression. Hasil penelitian menunjukkan father involvement memprediksi afek positif dan perceived father’s involvement memprediksi afek negatif.

Everyone wants happiness to facilitate them in achieving life's goals. Diener (2002) said happiness is also referred to as subjective well-being. Therefore, subjective well-being is important for everyone especially adolescents who are in the crisis phase because of the loss of a deceased mother, divorced, or mother as a migrant worker. This condition makes the child be forced to stay with the father. Fathers who are commonly perceived as less involved in child life, can predict their subjective well-being. This makes father’s involvement very important to them. Many adolescents in a single father family was in Karawang, so the respondents of this research was 56 early adolescents aged 12-15 years who lived only with the father in Karawang. The measuring instruments used are The Satisfaction With Life Scale (Diener, Emmons, Larsen, & Griffin, 1985), Positive and Negative Affect Schedule (Watson, Clark, & Tellegan, 1988), and Subjective Happiness Scale (Lyubomirsky & Lepper, 1999), Nurturant Fathering Scale and The Father Involvement Scale (Finley & Schwartz, 2004). The analytical techniques used is simple regression. The results showed father involvement component predicted a positive affect and two component of perceived father's involvement predicted negative affect."
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2019
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Mentari Pertama Neeskens
"

Pasangan yang telah menikah di Indonesia diketahui memiliki indeks kebahagiaan yang tinggi. Namun, pasangan yang menikah nyatanya juga menunjukkan angka perceraian dan KDRT yang cukup tinggi di Indonesia. Penelitian ini dilakukan untuk melihat hubungan adverse childhood experiences dan relationship satisfaction dengan dimensi adult attachment sebagai moderator pada pasangan dewasa muda yang sudah menikah di Jabodetabek (N=258). Pada penelitian ini, ACE diukur menggunakan ACE-Q, relationship satisfaction diukur menggunakan Relationship Assessment Scale (RAS), dan adult attachment diukur menggunakan ECR-RS. Setelah penelitian dilakukan, diketahui bahwa anxiety memperkuat dampak negatif ACE dan relationship satisfaction (b=0.26, t=2.24, p<.05). Sedangkan, avoidance diketahui tidak berperan dalam hubungan ACE dan RS (b=-0.15, t=-1.08, p=.27).


Married couples in Indonesia have a high happiness index of all marital status. But married couples also shows high divorce and domestic violence rates in Indonesia. This research was conducted to examine the relationship between adverse childhood experiences and relationship satisfaction with adult attachment dimensions as moderators in married young adult couples in Jabodetabek (N=258). ACE was measured using the ACE-Q, relationship satisfaction was measured using the Relationship Assessment Scale (RAS), and adult attachment was measured using the ECR-RS. It was discovered that anxiety strengthened the negative impact of ACEs and relationship satisfaction (b=0.26, t=2.24, p<.05). Meanwhile, avoidance was found not to play a role in the relationship between ACE and RS (b=-0.15, t=-1.08, p=.27)."
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2024
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Retno Setyaningsih
"ABSTRAK
Kim dkk (2010) membuktikan bahwa self-enhancement pada domain kinerja
berdampak buruk terhadap subjective well-being (SWB). Penelitian ini akan
menguji apakah self-enhancement pada trait juga akan menunjukkan hasil yang
sama. Penelitian ini juga bertujuan menguji apakah emosi terima kasih
memoderasi hubungan antara meninggikan atau merendahkan diri dengan SWB.
137 partisipan diberi umpan balik palsu dan manipulasi terima kasih, kemudian
mengisi kuesioner SWB. Hasilnya, hanya terima kasih yang terbukti signifikan
dalam memprediksi tingkat kepuasan hidup, positif afek dan SWB secara
keseluruhan. Dugaan bahwa terima kasih memoderasi hubungan antara self-
enhancement atau self-effacement tidak terbukti.

ABSTRACT
Kim et al. (2010) proved that the self-enhancement in the performance domain
had negative impact on well-being (SWB). This study will test whether self-
enhancement on the trait will show the same results as Kim et al (2010). The
study also aims to examine whether gratitude emotion moderate the relationship
between self-enhancement or self-effacement with SWB. 137 participants were
given false feedback and gratitude manipulation, then fill out a SWB?s
questionnaire. As a result, only gratitude that proved significant in predicting the
level of life satisfaction, positive affect and overall SWB. Prediction that gratitude
moderate the relationship between self-enhancement or self-effacement to SWB is
not proven.

"
2013
T32712
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Azaria Zakiah
"Penelitian ini menguji hubungan antara komponen komitmen dari teori segitiga cinta Sternberg dengan kesiapan menikah pada dewasa muda. Pengambilan data dilakukan melalui pemberian kuesioner triangular of love dan kesiapan menikah, baik secara langsung maupun melalui sistem online. Kuesioner diberikan kepada dewasa muda, pria dan wanita berusia 20-40 tahun, yang saat ini sedang menjalin hubungan dan telah merencanakan pernikahan dengan pasangannya, dengan batas waktu maksimal menikah tahun 2013. Dengan menggunakan data dari 120 partisipan, diperoleh hubungan yang positif sebesar 0.463, dengan los 0.01, antara komitmen dengan kesiapan menikah, sehingga semakin tinggi komitmen individu maka akan semakin siap ia untuk menikah. Hubungan juga ditemukan antara komitmen dengan jenis kelamin, dimana partisipan pria ditemukan memiliki tingkat komitmen yang lebih tinggi daripada partisipan wanita. Selain itu, ditemukan pula hubungan antara kesiapan menikah dengan tahun rencana menikah, dimana partisipan yang berencana menikah di tahun 2012 ditemukan memiliki tingkat kesiapan menikah yang lebih tinggi daripada partisipan yang berencana menikah di tahun 2013.

This study examined the relationship between commitment component of Sternberg’s triangular theory of love and readiness for marriage in young adulthood. Data is collected by giving questionnaire of triangular of love and readiness for marriage, either directly to the participants or through online system. Questionnaires given to young adults, men and women aged 20-40 years, who is currently in a relationship and have been planning a wedding with his partner, with a maximum time limit marry in 2013. Using data from 120 participants, researcher found a positive correlation of 0.463, with los 0.01, between commitment and readiness for marriage, so the higher individual’s commitment, the more ready he/she is to marry. The correlation was also found between commitment and gender, where male participants were found to have higher levels of commitment than female participants. In addition, researcher also found a correlation between readiness for marriage and the planned year to get married, in which participants planning to marry in 2012 were found to have higher levels of readiness for marriage than participants who plan to marry in 2013.
"
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2012
S-Pdf
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Geraldo Daniel Pradhana
"[Desakan menikah pada individu dewasa muda dibentuk oleh banyak faktor,
salah satunya adalah relationship contingency of self-worth, yaitu sejauh mana
individu mendasari harga dirinya pada keberhasilan hubungan. Di Indonesia,
menikah masih dipandang sebagai kewajiban bagi individu dewasa muda, dan
keberhasilan memperoleh pasangan bisa mempengaruhi evaluasi harga diri
individu. Penelitian sebelumnya telah menemukan hubungan yang signfikan
antara RCSW dan desakan menikah. Pada penelitian kali ini, variabel
sociosexuality diteliti sebagai salah satu hal yang mampu mempengaruhi
desakan menikah, karena pada penelitian sebelumnya telah ditemukan bahwa
tingkat sociosexuality yang tinggi mampu menurunkan keinginan untuk
menikah. Secara teoritis, individu dengan sociosexuality tinggi cenderung
menghindari hubungan jangka panjang yang berkomitmen, yang salah satu
bentuknya adalah pernikahan. Selain itu peneliti juga ingin melihat efek
moderasi dari sociosexuality terhadap kemampuan RCSW memprediksi
desakan menikah. Hasil penelitian kali ini menunjukkan bahwa RCSW mampu
memprediksi desakan menikah secara positif, namun sociosexuality tidak
mampu memprediksi desakan menikah secara negatif. Selain itu ditemukan
pula tidak adanya efek moderasi sociosexuality pada hubungan antara RCSW
dengan desakan menikah., Marriage urgency felt by many young adults is often a result of many
contributing factors. One of which is relationship contingency of self-worth,
defined as how much an individual based his/her self-esteem for the success of
his/her romantic relationships. In Indonesia, marriage is still a part of one’s duty
as an adult, and the success of finding a potential marriage partner can affect
his/her overall self-esteem. Previous researches have found that there’s a
signifcant relationship between relationship contingency of self-worth and
marriage urgency. Sociosexuality was also hypotesized as one of the contribung
factors of marriage urgency. Theoretically, individual with unrestricted
sociosexuality tends avoid committed relationship in any form, including
marriages. This research also aims to see the moderation effect caused by
sociosexuality on the relationship between relationship contingency of selfworth
and marriage. The result shows that RCSW does indeed significantly
predict marriage urgency, while sociosexuality does not. Furthemore, the result
also shows that there is no moderation effect caused by sociosexuality in the
relationship between RCSW and marriage urgency.]"
Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2014
S59402
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Fasya Fauzani
"Beberapa penelitian telah menemukan kaitan antara regulasi emosi dan executive function (EF), namun masih terdapat inkonsistensi terkait komponen EF mana yang dapat memprediksi regulasi emosi pada anak prasekolah. Penelitian ini dilakukan untuk melihat bagaimana peran komponen cool dan hot dari EF, beserta dengan jenis kelamin, dalam memprediksi regulasi emosi pada anak prasekolah usia 5-6 tahun. Sebanyak 84 anak diuji dengan sejumlah tes cool EF, hot EF, dan regulasi emosi.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa hot EF dan jenis kelamin, namun tidak dengan cool EF, dapat memprediksi kemampuan regulasi emosi berdasarkan performa langsung dari anak. Sebaliknya, tidak ditemukan adanya kaitan di antara cool EF, hot EF, maupun jenis kelamin, dengan kemampuan regulasi emosi berdasarkan laporan orang tua. Adanya temuan terkait kontribusi hot EF dalam memprediksi performa regulasi emosi, dapat menjadi pertimbangan dalam memberikan intervensi regulasi emosi berbasis hot EF pada anak prasekolah, dengan mempertimbangkan jenis kelamin.

A number of studies had found the relation between emotion regulation and executive function (EF), but there are still some inconsistencies regarding which components of EF that have the ability to predict emotion regulation in preschoolers. The current study investigated the contribution of cool EF, hot EF, and sex, in predicting emotion regulation in preschoolers 5- to 6-year-olds. 84 preschoolers were assessed using cool EF, hot EF, and emotion regulation tasks.
The results revealed that hot EF and sex, but not cool EF, were able to predict preschoolers’ emotion regulation performance. Meanwhile, it was also found that cool EF, hot EF, and sex did not have any relation with emotion regulation based on parent-reports. These findings suggest that hot EF intervention can be given to those preschoolers claimed to have less optimal emotion regulation.
"
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2015
S60343
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Gusti Ayu Ketut Vitha Adinda
"Saliansi mortalitas (SM) merupakan suatu kondisi dimana individu mengalami kecemasan yang timbul karena teringat akan kematiannya (Pyszczynski, Solomon, & Greenberg, 2003). Untuk meredakan kecemasan tersebut, salah satu hal yang dilakukan oleh individu adalah melakukan peneguhan cara pandang budayanya, yang salah satunya terimplementasi pada perilaku membeli produk dalam negeri. Akan tetapi, individu pada dasarnya hidup tidak hanya dengan cara pandang budaya kebangsaan saja. Penelitian skripsi ini bertujuan untuk membuktikan bagaimana SM memengaruhi preferensi produk oleh konsumen, dengan jumlah uang yang bersedia dibayarkan sebagai mediatornya. Produk yang dipilih adalah produk Aceh (dalam negeri, mayoritas beragama Islam) dan produk India (luar negeri, mayoritas beragama Hindu) yang masing-masing mewakili cara pandang budaya berbeda dengan partisipan pada penelitian ini, yakni 104 mahasiswa Hindu - Bali. Studi sebelumnya oleh Kamil (2014) mengujikan pada partisipan Islam - Jawa/Sunda dengan pilihan produk Bali dan Arab. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa partisipan yang diingatkan dengan kematian maupun tidak, sama-sama lebih memilih produk dalam negeri. Analisis tambahan yang dilakukan menjelaskan mengapa temuan ini dapat terjadi.

Mortality salience is a condition where one is experiencing a death-related anxiety (Pyszczynski, Solomon, & Greenberg, 2003). To relieve that anxiety, one will bolster his cultural worldview, which is implemented in buying domestic product behavior. However, in a daily life, one is not only use nationality as his cultural worldview. This study aimed to prove how is the effect of mortality salience on product preference by consumers, with willingness to pay as a mediator. The product choices are from Aceh (domestic, Islam) and from India (foreign, Hindu), which both of them are representing different cultural worldview from participants in this study: 104 Hindu Balinese undergraduate students. The previous study by Kamil (2014) was testing this in Islam Javanese/Sundanese participants, while the product choices are from Bali and from Arab. This present result shows that both participants in death-related thought or not choose domestic products rather than foreign one. Additional analyses explain why this result happened."
Depok: Universitas Indonesia, 2015
S58979
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Anggraini Hapsari
"ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk menunjukkan bahwa paparan mengenai tren perubahan usia pernikahan dapat mempengaruhi desakan menikah yang dirasakan oleh individu dewasa muda. Pada penelitian ini, tren perubahan usia pernikahan dihadirkan dalam bentuk teks berita yang dibagi kedalam dua jenis, yaitu yang menyatakan bahwa usia pernikahan di Indonesia semakin naik, dan yang lainnya menyatakan bahwa usia pernikahan di Indonesia semakin turun. Kemudian, desakan menikah diukur dengan menggunakan Skala Desakan Menikah. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan desain 2 x 1 randomized factorial design, between-subjects. Partisipan dari penelitian ini adalah 87 dewasa muda (20-40 tahun) yang belum menikah, memiliki keinginan untuk menikah, heteroseksual, berdomisili di Jabodetabek, dan minimal sedang duduk di perguruan tinggi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan pada skor desakan menikah antara partisipan yang membaca berita tentang penurunan usia pernikahan dengan partisipan yang membaca berita tentang kenaikan usia pernikahan. Meskipun demikian, ditemukan bahwa individu yang membaca berita bahwa orang Indonesia menikah pada umur yang semakin muda daripada sebelumnya, menunjukkan tingkat ketertarikan yang lebih besar untuk menikah di usia muda dibandingkan dengan individu yang membaca berita bahwa orang Indonesia menikah pada umur yang semakin tua daripada sebelumnya.

ABSTRACT
This study aims to show that exposure to changing trend in marriage age could affect one?s feeling of mate urgency. In this study, changes in marriage age trend was presented in a form of news excerpt which were varied in two ways with one states that marriage age in Indonesia is increasing while the other states that marriage age in Indonesia is decreasing. Subsequently, mate urgency was measured using Skala Desakan Menikah. This study is an experimental research with 2 x 1 randomized factorial design, between-subjects. Participants were 87 young adults (aged 20-40), never married, having in intention to get married in the future, heterosexual, domicile in Jabodetabek, and at least currently undergoing in college. The result shows no significant difference in mate urgency between participants who read about the decrease in marriage age compared to those who read about the increase in marriage age. Nevertheless, this study also found that those who read that Indonesians are marrying in younger age than before shows greater interest to marry in relatively young age compared to those who read that Indonesians are marrying in older age than before."
2015
S59164
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Hanifah Nurul Fatimah
"Beberapa penelitian telah menemukan adanya hubungan antara kompetensi social dan executive function, namun masih terdapat inkonsistensi hubungan antara komponenkomponen di dalamnya. Penelitian ini betujuan untuk mengeksplorasi kontribusi dari komponen hot dan cool dalam executive function, dan factor jenis kelamin dalam memprediksi kompetensi sosial pada anak usia 60-72 bulan. Pengukuran kompetensi sosial dilakukan melalui kuesioner PKBS SKala A yang telah diadaptasi dalam bahasa Indonesia.
Pengukuran executive function dilakukan melalui tes performa pada battery task Backward Word Span, Rumput/Matahari, Dimension Change Card Sort, dan Gift Delay. Metode statistik inferensial yang digunakan dalam penelitian ini adalah independent sample t-test, dan standard multiple regression.
Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa baik faktor jenis kelamin, maupun komponen hot dan cool executive function tidak dapat memprediksi kompetensi sosial pada anak usia 60-72 bulan secara signifikan. Meskipun begitu, dalam penelitian ini ditemukan korelasi yang signifikan antara komponen hot executive function dengan faktor jenis kelamin dan kompetensi sosial pada anak usia 60-72 bulan.

Few researches had found correlation between social competence and executive function, though there had also been inconsistency in between. This research was conducted to investigate the contribution of hot and cool executive function, and factor of sex in predicting social competence on 60-72 months children. Social competence was measured using PKBS Skala A which consisted of 34 items.
Executive function was measured using performance battery test which consisted of Backward Word Span, Rumput/Matahari, Dimension Change Card Sort, and Gift Delay task. Inferential statistic method used in this research were independent sample t-test, and standard multiple regression.
The result showed that there was no significant contribution of sex, hot and cool executive function in predicting social competence on 60-72 months children. However the result also showed that there was a significant correlation between hot executive function and sex, and between hot executive function and social competence on 60-72 months children.
"
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2015
S59280
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4   >>