Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 45394 dokumen yang sesuai dengan query
cover
cover
Khoiriah Maisaroh
"Attention Deficit-Hyperactivity Disorder (ADHD) adalah gangguan perilaku yang ditandai dengan kurangnya perhatian, hiperaktif, dan impulsif, yang berdampak pada kinerja aktivitasnya. Keterlambatan perkembangan integrasi visual motor, kesulitan mengikuti kegiatan pembelajaran, seperti kesiapan menulis, dan kemajuan akademik yang rendah adalah tanda tanda dari individu yang menderita kelainan ini. Program latihan Visual Motor Integrasi bertujuan untuk mengetahui pengaruh dari aktivitas integrasi visual motor dapat meningkatkan kemampuan kesiapan menulis anak dengan ADHD. Jenis penelitian ini adalah kuantitatif pre-eksperimental dengan pretest-posttest design, sampel di ambil di Rumah Sakit Universitas Indonesia dengan teknik purposive sampling sebanyak 28 responden anak yang terdiri dari 9 perempuan dan 19 laki-laki. Instrumen dalam penelitian ini menggunakan skala Beery-Buktenica Developmental Test of Visual-Motor Integration (Beery-VMI). Semua responden menjalani pemeriksaan Tes Beery VMIIntervensi pengaruh Latihan visual motor integrasi memiliki pengaruh positifSemua responden menjalani pemeriksaan Tes Beery VMI. Intervensi ini dilakukan sebanyak 6 sesi yang durasi 50 menit terhadap 28 responden. Peningkatan kesiapan menulis diukur menggunakan Tes Beery VMI dan terdapat perbedaan signifikan terhadap kesiapan menulis sebelum dan sesudah pelaksanaan intervensi latihan visual motor integrasi dengan p- value 0,001). Anak ADHD di Rumah Sakit Universitas Indonesia di dominasi oleh usia 5 tahun (64,3%), sebagian besar laki-laki (67,9%), dengan tingkat pendidikan didominasi oleh TK (67,9%).

behavioral disorder characterized by lack of attention, hyperactivity and impulsivity, which has an impact on activity performance. Delayed development of visual motor integration, difficulty participating in learning activities, such as writing readiness, and low academic progress are signs of individuals suffering from this disorder. The Visual Motor Integration training program aims to determine the effect of visual motor integration activities on improving the writing readiness abilities of children with ADHD. This type of research is quantitative pre-experimental with a pretest-posttest design, samples were taken at the University of Indonesia Hospital using a purposive sampling technique of 28 child respondents consisting of 9 girls and 19 boys. The instrument in this research used the Beery-Buktenica Developmental Test of Visual-Motor Integration (Beery-VMI) scale. All respondents underwent the Beery VMI Test examination. Intervention influence Visual motor integration training has a positive influence. All respondents underwent the Beery VMI Test examination. This intervention was carried out in 6 sessions with a duration of 50 minutes for 28 respondents. Increased writing readiness was measured using the Beery VMI Test and there was a significant difference in writing readiness before and after implementing the visual motor integration training intervention with a p-value of 0.001). ADHD children at the University of Indonesia Hospital were dominated by those aged 5 years (64.3%), mostly boys (67.9%), with educational levels dominated by kindergarten (67.9%)."
Depok: Program Pendidikan Vokasi Universitas Indonesia, 2025
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Citra Fitri Agustina
"Latar Belakang : Gangguan Pemusatan Perhatian dan Hiperaktivitas (GPPH) merupakan
gangguan psikiatrik paling sering dijumpai pada anak, dengan prevalensi 26,2 % di Jakarta.
Berbagai penelitian menyatakan patofisiologi GPPH terkait dengan aktivitas dopaminergik,
yang diduga dipengaruhi oleh serum feritin.
Tujuan: Mengetahui hubungan kadar feritin dengan gejala klinis GPPH serta mengetahui
adakah perbedaan kadar feritin pada anak GPPH dan bukan GPPH
Metode: Desain penelitian ini adalah potong lintang, membandingkan 47 anak GPPH dan 47
anak sehat sebagai kontrol yang berusia 7-12 tahun (rerata usia 9,09± 1,29). Uji korelasi
Spearman digunakan untuk mengetahui hubungan kadar feritin dengan gejala klinis GPPH.
Pemeriksaan serum feritin menggunakan metode Electrochemiluminescent ImmunoAssay
(ECLIA). Diagnosis GPPH ditegakkan dengan MINI KID sedangkan gejala klinis GPPH
dinilai berdasarkan SPPAHI.
Hasil : Tidak didapatkan hubungan bermakna antara kadar feritin dengan gejala klinis GPPH,
koefisien korelasi 0,108 (p>0,05). Rerata kadar feritin anak GPPH adalah 38,7 ng/mL
(median), yang tidak berbeda bermakna dengan kontrol (median 28 ng/mL).
Kesimpulan: Pada penelitian ini, tidak terbukti adanya hubungan antara feritin dengan gejala
klinis GPPH. Masih diperlukan studi lebih lanjut untuk melihat peran feritin melalui dopamin
pada GPPH.

Background : Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) is the most common
psychiatric disorder in children with prevalence of 26,2% in Jakarta. Various studies have
acknowledged the pathophysiology of ADHD in relation to dopaminergic activity possibly
influenced by serum ferritin
Objectives: To find relationship between ferritin level with clinical symptomsof ADHD, and
to identify any difference in ferritin level in children with and without ADHD.
Methods: This study is cross sectional by design, comparing 47 ADHD children and 47
healthy controls aged 7-12 years old (mean age 9.09 ± 1,29). Spearman test was performed to
find correlation between ferritin level and clinical symptoms of ADHD. Serum ferritin was
examined using Electrochemiluminescent ImmunoAssay (ECLIA) method. ADHD was
diagnosed by MINI KID while clinical symptoms of ADHD were assessed with SPPAHI.
Results : No signification correlation was found between ferritin level and clinical symptoms
of ADHD, coefficient correlation 0,108 (p> 0,05). Mean ferritin level of ADHD children was
38,7 ng/mL (median) and was not significant in comparison to control group (median 28
ng/mL)
Conclusions: In this study, ferritin has been found to have no correlation with clinical
symptoms of ADHD. Further study needs to be performed to identity ferritin role through
dopamine in ADHD
"
Depok: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2013
T-pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Rininta Mardiani
"Latar Belakang: Gangguan Pemusatan Perhatian dan Hiperaktivitas (GPPH) merupakan salah satu gangguan jiwa pada anak, dengan tiga gejala utama yaitu kesulitan memusatkan perhatian, hiperaktivitas dan impulsivitas. Hingga saat ini, belum dapat disimpulkan penyebab pasti terjadinya GPPH, namun dari berbagai penelitian menunjukkan berkaitan dengan nutrisi yaitu adanya defisiensi seng.
Tujuan: Mengetahui perbedaan rerata antara kadar seng dalam serum pada anak dengan GPPH dibandingkan dengan kelompok kontrol anak sehat, serta mengetahui hubungan antara rerata kadar seng dalam serum dengan gejala klinis pada anak dengan GPPH.
Metodologi: Desain penelitian ini adalah potong lintang. Kontrol adalah anak sehat. Penelitian dilakukan di SDN 01 Pagi KampungMelayu, Jakarta Timur, pada bulan Mei – Juni 2013. Jumlah sampel yang dibutuhkan pada masing-masing kelompok yaitu anak dengan GPPH dibandingkan dengan anak sehat, sebesar 42.
Hasil: Didapatkan rerata kadar seng dalam serum untuk kelompok anak GPPH sebesar 52,50 µg/L dan kadar seng dalam serum untuk kelompok anak sehat sebesar 51,50 µg/L. Tidak ada perbedaan rerata yang bermakna antara kedua kelompok. Tidak ada hubungan bermakna antara kadar seng dalam darah dengan gejala klinis GPPH.
Simpulan: Tidak didapatkan perbedaan bermakna rerata kadar seng dalam darah pada kelompok anak GPPH dibandingkan anak yang sehat, dan tidak didapatkan hubungan bermakna kadar seng dalam darah pada anak GPPH dengan gejala klinis GPPH.

Background: ADHD is a disorder commonly met at children with attention deficiency, hyperactivity, and impulsivity as prominent symptoms. Up until now, the definite causal of ADHD remains unclear, but some studies showed its correlation to zinc deficiency.
Objective: This study aimed to acknowledge the discrepancy between serum zinc level mean of ADHD children group and healthy children control group and the correlation between serum zinc level and clinical symptoms on ADHD children.
Methods: The study designed used cross sectional with control is healthy children. The study was conducted at SDN 01 Pagi Kampung Melayu, East Jakarta, Mei - June 2013. The number needed for each sample group was 42.
Result: The result showed serum zinc level mean was 52,50 µg/L in ADHD children group and 51,50 µg/L in healthy children group. There is no significant difference between them. There is no significant difference between serum zinc level mean and ADHD clinical symptoms.
Conclusion: There is no significant difference between serum zinc level mean in ADHD children group and healthy children group, and there is no significant correlation between ADHD children serum zinc level and ADHD clinical symptoms.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2013
T-Pdf
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
cover
Fairuz Hanifah
"ABSTRAK
Skripsi ini membahas elemen sentuh ruang terapi Sensori Integrasi sebagai bagian dari lingkungan terapi anak yang berperan dalam beberapa aspek untuk mendukung penyembuhan anak. Pengalaman sentuh sebagai bagian dari proses penyembuhan anak GPPH dialami melalui terapi Sensori Integrasi SI yang berkontribusi terhadap peningkatan kemampuan anak dan respons terhadap sensasi dari lingkungan. Anak GPPH mengalami ruang SI dengan bergerak dan berinteraksi dengan elemen sentuh yang bervariasi melalui aktivitas bermain. Tulisan ini mencoba mengkaji karakteristik elemen sentuh yang berperan dalam penyembuhan anak GPPH, bagaimana anak mengalami ruang dengan menyentuh dan bergerak untuk kebutuhan terapi, serta aspek lingkungan terapi yang mendukung. Studi kasus di YPAC menganalisis elemen sentuh yang tersedia dan hubungannya terhadap pengalaman sentuh anak GPPH berbagai tipe. Melalui penulisan skripsi ini, didapat bahwa elemen sentuh di ruang terapi Sensori Integrasi memiliki karakteristik yang bervariasi, sehingga membentuk lingkungan yang kaya sensori dengan permukaan yang dijadikan media untuk melatih keseimbangan-koordinasi, tenang, dan fokus. Permukaan dengan tekstur yang menantang pada ruang terapi SI terbatasi dalam segi luasan kontak dengan tubuh maupun melalui elemen yang dapat dipindah dengan mengalihkan ke sensasi tekanan sehingga peletakan elemen pada ruang terapi SI menunjang anak GPPH yang sensitif terhadap sentuhan.

ABSTRACT
This thesis discuss about tactile element as a part of children therapeutic environment that has several role to support healing process. Tactile experience as part of therapeutic process of ADHD children through Sensory Integration SI therapy contributing in children rsquo s ability enhancement and response to environment. ADHD children experience the space by moving and making contact with tactile element through play as therapy strategy. This writing reviews the characteristic of tactile elements that have roles to heal ADHD children, how children experience the space for therapeutic purpose, and the therapeutic setting aspects. The analysis of case studies in YPAC Jakarta was conducted to capture existing tactile element with tactile experience of ADHD children in variety types. Finding show that tactile element in SI therapeutic space has variety of characteristics that create sensory rich environment with its surface as medium to train balance coordination, calm, and focus. The challenging texture is limited in body contact area also through loose element by replacement to pressure sensation so that element arrangement in SI therapeutic space support ADHD children that have tactile defensiveness."
2017
S67297
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Green, Christopher, 1943-
London: Vermilion, 1994
618.928 589 Gre u
Buku Teks  Universitas Indonesia Library
cover
Asri Mutiara Putri
"ABSTRAK
Salah satu masalah akademik yang sering dialami anak ADHD adalah masalah dalam keterampilan menulis dasar yaitu mengeja. Anak ADHD tidak melakukan perencanaan, pemantauan, dan evaluasi terhadap kegiatan menulis sehingga hasil tulisannya sering tidak akurat (kurang, salah atau kelebihan huruf dalam kata). Dalam penelitian ini intervensi dilakukan untuk meningkatkan keterampilan mengeja anak ADHD saat menulis dengan mengembangkan strategi metakognisi melalui teknik scaffolding. Intervensi yang dirancang diharapkan dapat membantu anak ADHD mengembangkan kemampuannya meregulasi proses menulis secara mandiri. Penelitian menggunakan single subject design dengan melibatkan satu orang subyek, yaitu anak laki-laki berusia 8 tahun yang menyandang ADHD dan memiliki kesulitan dalam menulis khususnya mengeja. Setelah dilakukan analisis perbandingan hasil pre-test dan post-test, diketahui bahwa teknik scaffolding yang diberikan efektif dalam mengembangkan strategi metakognisi dan meningkatkan keterampilan mengeja saat menulis.

ABSTRACT
One of academic problem experienced by children with ADHD is problem in spelling as part of basic writing skills. Children with ADHD do not perform planning, monitoring, and evaluating process during writing task, therefore their writing product usually has low spelling accuracy. In this study, intervention was designed to improve spelling skill of children with ADHD while doing writing task by developing metacognitive strategy through scaffolding technique. This intervention expected to help ADHD children to develop their skill in regulating writing process independently. This study is a single subject research with one student involved in the process. Subject is an eight year old boy who shows ADHD symptom and has spelling difficulty. Qualitative analysis was applied to measure changes of behavior before and after intervention. The result of this study shows that scaffolding technique is effective in developing metacognitive strategy and improving spelling skill in writing task."
Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2013
T35705
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Allysa Soraya Safitri
"Tingginya screen time anak telah meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai dampak negatif dari screen time. Beberapa penelitian mengasosiasikan gejala gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas (GPPH) dengan screen time berlebih. Penelitian ini bertujuan untuk melihat hubungan antara screen time dengan gejala GPPH pada anak. Penelitian ini menggunakan desain potong lintang dan kuesioner Skala Penilaian Perilaku Anak Hiperaktivitas Indonesia (SPPAHI) yang diisi oleh orang tua dengan latar belakang pendidikan minimal SMP atau sederajat. Kuesioner disebarkan ke seluruh murid SD Negeri Beji 1 Depok dan didapatkan total 227 data, data yang ada lalu dipilih secara acak dan didapatkan 95 data untuk dianalisis.
Hasil analisis Chi-Square menunjukkan adanya hubungan yang bermakna secara statistik antara screen time dengan gejala GPPH pada anak (p = 0,035). Anak dengan screen time berlebih memiliki peluang mengalami GPPH 3,1 kali lebih tinggi dibandingkan anak dengan screen time tidak berlebih (IK 95% = 1,051-9,174). Oleh karena itu, perlu dilakukan pembatasan screen time untuk menurunkan peluang terjadinya GPPH pada anak.

High level of screen time among children has raised public awareness about its negative impact. Some studies associate attention deficit and hyperactivity disorder (ADHD) with excessive amount of screen time. The objective of this research is to analyze the association between screen time and ADHD symptoms in children. A cross sectional study was used for this research along with SPPAHI questionnaire, which was filled by parents with a minimum educational background of junior high school. The questionnaire was distributed to all students of SD Negeri Beji 1 Depok and a total of 227 data were collected, 95 data were selected randomly and used as sample for data analysis.
These data were analyzed using Chi-square test and showed a significant relationship between screen time and ADHD symptoms in children (p = 0.035). Children with excessive amount of screen time are 3.1 times more likely to develop ADHD than children who do not have excessive amount of screen time (95% CI = 1.051-9.174). Therefore, screen time limitation is needed to reduce the odds of developing ADHD in children.
"
Jakarta: Fakultas Kedokteraan Universitas Indonesia, 2018
S-Pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Windarti
"Gangguan Altention-Deficit/Hyperactivity Disorder (ADHD) adalah gangguan perilaku yang berhubungan dengan kurangnya perhatian (inattentiveness), hiperaktivitas-impulsivitas, atau kombinasi dari keduanya. American Psychiatric Association mengatakan bahwa tiga sampai lima persen anak usia sekolah di Amerika menderita ADHD. Jika jumlah anak usia sekolah dengan ADHD di Indonesia sama dengan jumlah penderita di Amerika, maka kemungkinan besar saat ini terdapat 2,13 - 3,55 juta anak usia sekolah di Indonesia yang menderita ADHD. Jumlah yang sangat besar ini menunjukkan bahwa ADHD patut mendapat perhatian yang besar. Masalah pertama yang perlu diperhatikan sebelum kita dapat melakukan penanganan lebih lanjut adalah bagaimana kita dapat mengenali anak-anak ADHD di antara anak-anak lain.
Dalam skripsi ini, peneliti membuat suatu alat ukur penilaian tingkah laku ADHD yang dapat digunakan oleh orang awam, khususnya orangtua dan guru anak usia 6-9 tahun, sebagai pihak yang paling banyak berinteraksi dan mengikuti perkembangan anak. Alat ukur yang akan dibuat ditujukan untuk menyediakan informasi awal mengenai kelainan perilaku seorang anak untuk ditindaklanjuti dengan diagnosa yang lebih mendalam oleh ahli di bidang ini, seperti psikolog. Selain itu, alat ukur ini diharapkan menjadi alat bantu bagi orang awam khususnya orangtua dan guru dalam mengenali gejala awal dari ADHD sehingga penanganan sejak dini dapat segera diberikan kepada anak.
Penelitian ini akan melakukan uji validitas, reliabilitas, dan analisis item, untuk mengetahui apakah alat ukur tersebut baik untuk digunakan. Sedangkan norma dalam penelitian ini tidak dibuat karena penelitian ini adalah penelitian awal konstruksi tes dan tidak bertujuan untuk mendapatkan norma Subjek dalam penelitian ini diambil dengan metode pnrposive sampling, terdiri dari 30 orangtua dan 30 guru dari anak ADHD yang berusia 6-9 tahun, dan 30 orangtua serta 30 guru dari kelompok pembanding untuk keperluan uji criterion-prediction validation. Uji validitas juga dilakukan dengan uji construct validity. Reliabilitas alat diukur dengan menggunakan rumus Koefisien Alpha. Sedangkan analisis item dilakukan dengan menghitung korelasi item dengan skor total tes dan menghitung perbedaan skor subjek dengan dengan kelompok pembanding sebagai kriteria eksternal.
Hasil penelitian menunjukkan adanya beberapa item yang perlu diteliti lebih lanjut yaitu item 10, 22, 35, 40, 49, dan 50. Perhitungan t-test menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan antara skor item hasil penilaian orang tua maupun guru anak ADHD dengan skor item hasil penilaian pada kelompok pembanding. Uji validitas menunjukkan bahwa alat ukur tersebut mampu membedakan antara anak ADHD dengan kelompok pembandingnya. Selain itu, item-itemnya memiliki korelasi yang signifikan dengan skor total. Reliabilitas alat ukur juga tergolong tinggi, yaitu 0,967 jika penilaian dilakukan oleh orangtua dan 0,9549 jika penilaian dilakukan oleh guru. Hasil perhitungan tambahan menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan antara skor hasil penilaian guru dengan skor hasil penilaian orangtua. Berdasarkan hasil-hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa alat ukur penilaian tingkah laku ADHD pada anak usia 6-9 tahun yang diuji dalam penelitian ini valid dan reliabel serta layak untuk digunakan untuk memperoleh informasi awal tentang gangguan perilaku pada anak usia 6-9 tahun yang menunjukkan gejala-gejala ADHD."
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2004
S3333
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9 10   >>