Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 89 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Yani Puspandari
"Penulisan skripsi ini membahas tentang salah satu budaya yang dimiliki oleh bagsa Cina dalam membaca watak dan peruntungan manusia yang disebut dengan xiangmian (相面). Dalam skripsi ini terdapat latar belakang dan perkembangan xiangmian (相面) dan metode membaca watak manusia melalui analisis mata dalam xiangmian (相面). Selain itu pada bagian analisis, diberikan sebuah bentuk contoh kasus dengan cara menganalisis mata Mao Zedong untuk mengetahui watak Mao. Tujuan dari penulisan skripsi ini adalah untuk mengetahui watak manusia melalui xiangmian (相面); mengetahui bahwa dalam xiangmian (相面), mata juga dapat memberikan gambaran watak manusia; mengetahui sebagian watak Mao Zedong melalui analisis mata. Analisis yang dilakukan dalam penulisan skripsi ini didasarkan atas keterangan-keterangan yang didapat dari buku-buku yang membahas tentang xiangmian (相面) dan juga video compact disc mengenai xiangmian (相面). Metode yang terdapat dalam buku dan video compact disc tersebut digunakan sebagai acuan untuk menganalisis watak Mao.
Hasil analisis tersebut menunjukkan bahwa analisis mata dalam xiangmian (???Ê) dapat memberikan gambaran watak Mao. Watak Mao yang telah dideskripsikan tersebut kemudian dibandingkan dengan gambaran watak yang diambil oleh penulis dari data sejarah dan juga biografi Mao Zedong. Pada akhir pembahasan, dapat diketahui bahwa terdapat watak positif dan watak negatif yang dimiliki oleh Mao. Watak-watak tersebut juga memiliki kemiripan dengan gambaran yang diambil penulis dari data sejarah dan buku biografi tentang Mao."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 2008
S13085
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Ariella Intan Juwita Pesik
"Pada dasarnya, musik Cina dapat dibedakan menjadi musik tradisional dan musik modern yang mengacu pada musik populer. Munculnya musik popular seiring dengan globalisasi dan tren westernisasi di seluruh dunia. Musik popular di Cina dapat diwakili oleh tiga aliran, yaitu Gangtaiyue (港台乐), Xibeifeng (西北风) dan Yaogunyue (摇滚乐). Tujuan penulisan skripsi ini adalah untuk mengetahui sejauh mana eksistensi ketiga aliran tersebut dalam musik Cina. Hal tersebut dapat diketahui dengan membandingkan ciri-ciri yang dimiliki ketiga aliran tersebut dengan ciri-ciri musik Cina. Musik populer dapat dikatakan sebagai musik Cina karena yang memproduksi dan mengkonsumsi musik tersebut adalah orang Cina. Tetapi dari segi musikalitas, hanya sebagaian musik populer yang merepresentasikan musik Cina.

On the principle, the Chinese music can be differentiated into traditional and modern music. The emerging of popular music goes hand in hand with the globalization and westernization trend in the whole world. In China, the popular music dan be represented by the three mainstream: Gangtaiyue (􀟓􀭆􀧁), Xibeifeng (􀩢􀹺􀚄) dan Yaogunyue (􁀨􀝏􀧁). The objective of this thesis is to examine how far the existence of three mainstream of popular music mentioned before in China's music industry. The analysis will be done by comparing the characteristics of the three mainstream of popular music with the traditional Chinese musical features. In the conclusion, popular music in China can also be counted as Chinese music as a whole because the ones who produce and consume it are Chinese. But from the musicality aspect, only a part of popular music really represents the traditional Chinese music."
Depok: Universitas Indonesia, 2008
S12991
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Elsa Silvana Fransisca
"Skripsi ini memaparkan tentang pakaian wanita Cina secara umum dan berfokus pada satu pakaian wanita Cina, yakni q¨ªp¨¢o (yang juga dikenal dengan nama cheongsam) secara khusus. Penulisan skripsi ini bertujuan untuk memaparkan fungsi dan makna q¨ªp¨¢o dan apakah q¨ªp¨¢o dapat menunjukka identitas kecinaan seorang wanita Cina. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptifanalisis dan studi pustaka dengan penggunaan buku-buku referensi maupun artikel dalam jurnal ilmiah. Berdasarkan metode penelitian yang dipakai serta data-data yang didapat, maka dapat disimpulkan bahwa q¨ªp¨¢o atau cheongsam adalah pakaian yang tercipta pada masa masyarakat Cina tradisional yang berkembang dan masih menunjukkan keberadaannya hingga masa modern. Walaupun dalam perkembangannya q¨ªp¨¢o telah menyerap unsur (mode) Barat, q¨ªp¨¢o tetap mempertahankan unsur khas Cina yang dimilikinya. Sehingga dapat dikatakan, q¨ªp¨¢o adalah satu-satunya pakaian wanita tradisional Cina yang tetap ada hingga saat ini, yang tetap dapat merepresentasikan budaya Cina dan identitas kecinaan.

This thesis analyses Chinese women's dress in general and focuses on one Chinese women's dress, Q¨ªp¨¢o (Æì ÅÛ) (which also known as cheongsam) in particular. The objective of this thesis is to explain the function and meaning of q¨ªp¨¢o and also whether q¨ªp¨¢o can show the Chinese identity of a Chinese woman. The method used in this research is the descriptive-analytical method and literature study using references from books, articles, and scientific journals. Based on the analysis, it can be concluded that q¨ªp¨¢o is the dress that was created in China¡¯s traditional era and still exist in the modern time. Even though in its development q¨ªp¨¢o has absorbed Western fashion, q¨ªp¨¢o still retain its signature Chinese elements. In the end, q¨ªp¨¢o is the only Chinese women¡¯s traditional dress that still exists until now while able to represents the Chinese culture and Chinese women's identity."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 2008
S12942
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Yuanita Tanuwijaya
"Skripsi ini membahas upacara minum teh di Cina. Pembahasan meliputi tata cara, jenis, bentuk, dan bahan dasar upacara minum teh di Cina. Upacara minum teh di Cina yang dibahas dalam skripsi ini adalah Upacara Teh Taois (��������) dan Upacara Teh Wu-Wo (��������) dengan metode penyajian teh yang paling umum digunakan adalah Gongfu Cha (������). Berdasarkan keseluruhan definisi kebudayaan dapat disimpulkan bahwa upacara minum teh merupakan sebuah hasil karya dan penelitian yang telah dilakukan oleh masyarakat Cina, yang kemudian diteruskan turun-temurun oleh anggota masyarakat lainnya. Tradisi upacara minum teh di Cina juga memiliki tata cara dan aturan-aturan tersendiri yang mengandung nilai estetika, spritual, dan moral. Tradisi dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya tersebut dihubungkan dengan definisi kebudayaan yang meliputi seni sastra, seni rupa, seni musik, seni pahat, dan pengetahuan filsafat sebagai sebuah kesatuan dalam the body of art. Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa upacara minum teh merupakan bagian dari kebudayaan Cina.

This thesis discuses the tea ceremony in China which covers the method, variety, form, and basic ingredients. The tea ceremonies analyzed in this thesis are the Taoist Tea Ceremony (��������) and Wu-Wo Tea Ceremony (��������) with the Gongfu Cha (������) as the most common tea serving method. Based on the whole definition of culture, it can be concluded that the Chinese tea ceremony is a form of art and research that has been conducted by the Chinese society which furthermore passed on from generation to generation and amongst the other member of society. The tradition of tea ceremony in China also possesses its own methods and rules that embodied the aesthetic, spiritual, and moral value. The tradition and values contained in the ceremony also linked with the definition of culture that covers the art of literature, music, sculpture, philosophy, and fine arts unified in the body of art. Thus, the tea ceremony can be concluded as a part of Chinese culture."
Depok: Universitas Indonesia, 2009
S13098
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Alrizni Nadia Febritianti
"Skripsi ini membahas keterkaitan antara batu giok yang merupakan salah satu jenis batuan mulia yang banyak digunakan di dunia dengan kebudayaan cina. Meskipun banyak suku atau bangsa yang juga melibatkan batu giok dalam kebudayaan mereka, tapi Cina adalah negara yang paling sering diasosiasikan dengan batu giok. Masyarakat Cina menganggap batu giok memiliki nilai-nilai moral tertentu di dalamnya dan mengnggap batu giok lebih bernilai tinggi dibandingkan emas. Batu giok memiliki peran yang cukup penting dalam kebudayaan Cina. Giok sudah menjadi bagian dari seni, filosofi, dan kepercayaan dari Bangsa Cina sejak ribuna tahun lalu."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 2009
S12500
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Ariane sabarini
"ABSTRAK
Yingxiong (Hero) adalah film bergenre Wuxia karya Zhang Yimou. Film ini mengambil latar sejarah pada tahun 475-221 SM, menggali sejarah Tiongkok kuno dengan sebuah kisah fiksi tentang misi pembunuhan Kaisar Qin
oleh Wu Ming, seorang pekerja tingkat rendah, dengan cara membunuh tiga pembunuh dari negri Zhou yang mengancam nyawa Kaisar Qin dengan ilmu pedangnya yang luar biasa. Film ini memiliki nilai estetika yang tinggi dan secara terstruktur disajikan menggunakan nuansa warna-warna yang berbeda pada adegan film. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menggambarkan bagaimana warna dari setiap adegan mewakili makna dan hubungan alur film. Metode penelitian yang digunakan oleh penulis dalam jurnal ini adalah analisis deskriptif dengan pendekatan intrinsik. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa tidak ada makna lainnya dari penggunaan warna adegan melainkan hanya sebagai penanda alur maju atau mundurnya film.

ABSTRACT
Yingxiong (Hero) is a Wuxia genre movie by Zhang Yimou. Set in 475-221 BC, the movie delves into ancient China with a fictional tale about Emperor Qin s assassination mission by Wu Ming, a low-level functionary, by eliminating three potential assassins from Zhou country with his invincible swordsmanship. The movie posses high aesthetic value and is very structurally presented with color-coded scenes. The purpose of this study is to describe how the colors of each scene represent the meaning and relationship of the movie plot. The research
method used by the author in this journal is descriptive analysis with an intrinsic approach, that revealed there are no other meanings of the color-coded scenes other than to mark the progessive or flash back plot of the movie."
Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 2019
MK-Pdf
UI - Makalah dan Kertas Kerja  Universitas Indonesia Library
cover
Ayu Ria Sirviany Purnama Sari
"Opera Beijing 京剧 merupakan salah satu jenis seni pertunjukan di Cina. Opera ini memiliki empat kategori peran utama namun yang paling menarik adalah peran Jìng 净 karena wajah tokoh peran ini dicat dengan berbagai pola dan warna yang disebut liănpŭ 脸谱. Warna yang digunakan memiliki makna simbolis tertentu yang dapat membantu memahami watak dari tokoh tersebut. Warna ini terdiri dari warna primer dan warna sekunder. Dalam skripsi ini dibahas mengenai kaitan makna warna primer riasan wajah dengan watak peran jìng 净.

Beijing Opera is one of the performing arts in China. This opera have four types of role, but the most interesting role is the jìng role. It is because this type of role has colourful paint with kinds of pattern draw on their faces called liănpŭ 脸谱. Colour that used in this role has certain symbolic meaning which can help to understand the character's personality. Those colours are divided into primary colour and secondary colour. This thesis will discussed about the connection between primary colour and Jing role character's personality that shown by those colour."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 2011
S12
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Andhara Aisya
"Tujuan penulisan skripsi ini adalah untuk mengetahui makna simbol fu (?) bagi masyarakat Cina, serta hubungan dan kaitan antara sebuah simbol fu (?) dengan perayaan Tahun Baru Cina. Makna simbol fu (?) bagi masyarakat Cina serta kaitan simbol fu (?) dengan perayaan Tahun Baru Cina dapat diketahui melalui analisa terhadap makna dari aksara fu (?), latar belakang seperti mitos dan mitologi simbol fu (?) digunakan pada saat perayaan Tahun Baru Cina, elemen warna simbol fu (?) dan peletakan simbol fu (?) pada saat perayaan Tahun Baru Cina. Simbol fu (?) dengan perayaan Tahun Baru Cina memiliki kaitan antara suatu perayaan yang besar dengan simbol yang mendukung perayaan tersebut"
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 2008
S12833
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Putri Agustioko
"Sumpit merupakan alat makan tradisional bangsa Cina. Meskipun ditemukan ribuan tahun yang lalu, sumpit tetap digunakan hi9ngga dewasa ini. Sumpit pun banyak dipakai di beberapa negara di dunia oleh orang-orang dari negara-negara lain. Selain sebagai alat makan, sumpit juga dapat menjadi benda seni. Selain itu, sumpit merepresentasikan budaya Cina. Konfusius sebagai filsuf Cina yang ajaran-ajaran dan ucapan-ucapannya sangat berpengaruh dalam pembentukan bangsa Cina untuk terus menggunakan sumpit sebagai alat makan utama mereka."
Depok: Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 2008
S12985
UI - Skripsi Open  Universitas Indonesia Library
cover
Kevin Arthur Justin
"ABSTRAK
Gu Cheng merupakan salah satu penyair eksentrik (guguashi) yang mulai dikenal pada
1980-an dan disebut juga sebagai penyair samar (menglong). Pada periode akhir
hidupnya, Gu Cheng menyebut periode puisi yang dihasilkannya sebagai periode
Subjektif atau Wuwo (无我). Puisi Gu Cheng merupakan puisi liris yang bertumpu
pada suara dan karakteristik emosi atau perasaan dari pemikiran, visi, suasana hati
ataupun perasaan pedih yang tidak menawarkan fondasi yang kuat untuk terciptanya
bagian dari sebuah peristiwa yang berasal dari imajinasi penulis itu sendiri. Dalam
penelitian ini, penulis menganalisis tiga puisi Gu Cheng pada periode subjektif, yang
diambil dari kompilasi puisi Gu Cheng yang berjudul Merkuri (水银) sebanyak dua
judul, dan Dunia Lagu (颂歌世界) sebanyak satu judul. Analisis dilakukan dengan
menggunakan pendekatan unsur instrinsik, diksi, figur retoris (majas), pengimajinasian,
tema dan perasaan penyair untuk mengetahui seberapa besar unsur puisi Gu Cheng yang
kontradiktif antara kenyataan dengan yang diungkapkannya dalam puisi. Kesuraman
hidup Gu Cheng mempengaruhi suasana hati dalam penulisan karya puisinya yang
merupakan puisi samar atau berkabut.

ABSTRACT
Gu Cheng was one of the eccentric poets (guguashi) who became known in the 1980s
and was also called the misty poet (menglong). In the final period of his life, Gu
Cheng called the period of his poetry as Subjective period or Wuwo (无 我). Gu
Cheng s poetry is a lyrical poem that relies on sound and emotional characteristics or
feelings from thoughts, visions, moods or feelings of pain that do not offer a strong
foundation for the creation of a part of an event that comes from the imagination of the
author himself. In this study, the author analyzed three Gu Cheng s poems in the
subjective period, which is two titles from Gu Cheng s poem compilation of Mercury (水􀀀), and one title from Ode s World (􀀀歌 世界). The analysis was carried out by using intrinsic elements, diction, rhetorical figures, imagination, themes and poets feelings to find out how much the elements of Gu Cheng s poetry were contradictory between reality and what he expressed in poetry. The gloom of Gu Cheng's life affected the mood in writing his poetry which was a misty poem."
Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia, 2019
MK-Pdf
UI - Makalah dan Kertas Kerja  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9   >>