Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 13 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Hanifah Nur Fadilla
"Halusinasi adalah salah satu gejala positif yang dapat muncul pada klien dengan skizofrenia. Nn. K (30 tahun) dengan masalah keperawatan halusinasi dan diagnosis medis skizofrenia mendapatkan intervensi keperawatan generalis berupa menghardik, mengabaikan halusinasi, melakukan distraksi dengan bercakap-cakap dan berkegiatan, serta patuh minum obat dengan prinsip 5 benar obat. Selain intervensi generalis, klien juga diberikan intervensi inovasi berupa expressive writing sebagai bentuk distraksi dari halusinasi. Penilaian tanda dan gejala dilakukan dengan menggunakan 3 instrumen yaitu instrumen tanda dan gejala halusinasi, kemampuan mengontrol halusinasi, dan PSYRATS. Expressive writing telah terbukti dapat menurunkan tanda dan gejala halusinasi setelah dilakukan dalam 4 sesi. Diharapkan expressive writing dapat menjadi salah satu alternatif kegiatan distraksi.

Hallucination is one of the symptoms that may arise from schizophrenia. Ms. K (30 years) with hallucinations and a medical diagnosis of schizophrenia received general intervention for hallucination by shouting, ignoring hallucinations, providing distraction with conversations and activities, and complying with taking medication according to the principles of the 5 correct medications. Apart from generalist intervention, clients are also given innovative interventions with expressive writing as a form of distraction from hallucinations. Evaluating signs and symptoms of hallucinations using 3 instruments, they are instrument for signs and symptoms of hallucinations, the instrument for the ability to control hallucinations, and PSYRATS. Expressive writing has been proven to reduce signs and symptoms of hallucinations after 4 sessions. It is hoped that expressive writing can be an alternative distraction activity.
"
Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2024
PR-PDF
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Nurfil Laili Murni
"Halusinasi merupakan gejala positif dari skizofrenia yang timbul dari respons maladaptif. Halusinasi merupakan persepsi sensori yang salah atau pengalaman persepsi yang tidak nyata. Diantara beberapa jenis halusinasi, halusinasi pendengaran paling sering terjadi pada pasien dengan skizofrenia. Halusinasi pendengaran dapat memberikan dampak yang negatif, terutama jika isi halusinasi merendahkan pasien. Kasus nyata terjadi pada Ny. A (29 tahun) masuk rumah sakit jiwa dengan skizofrenia dan masalah keperawatan halusinasi. Pada saat pengkajian di hari perawatan ke-8, pasien mengatakan masih mendengar suara-suara yang mengancam kepada pasien. Pasien terkadang menjadi emosi dan amarahnya tidak stabil ketika suara tersebut muncul sehingga halusinasinya sulit untuk dikendalikan. Implementasi keperawatan yang dilakukan adalah tindakan keperawatan ners dan penerapan expressive writing. Implementasi dilakukan selama tujuh hari, yakni dua hari pemberian intervensi tindakan keperawatan ners dan lima hari penerapan expressive writing. Evaluasi dilakukan setiap pertemuan menggunakan instrumen tanda dan gejala halusinasi oleh mahasiswa residen FIK UI 2018 dan AVHRS-Q, evaluasi tanda dan gejala halusinasi, dan evaluasi kemampuan pasien dalam mengontrol halusinasi. Peneliti menyimpulkan bahwa penerapan expressive writing dapat menurunkan tanda dan gejala halusinasi. Sehingga penerapan expressive writing apat menjadi salah satu strategi dalam pemberian asuhan keperawatan kepada pasien dengan halusinasi.

Hallucinations are a positive symptom of schizophrenia that arise from maladaptive responses. Hallucinations are false sensory perceptions or perceptual experiences that are not real. Among several types of hallucinations, auditory hallucinations are most common in clients with schizophrenia. Auditory hallucinations can have a negative impact, especially if the contents of the hallucination demean the client. The real case happened to Mrs. A (29 years) entered a psychiatric hospital with schizophrenia and hallucination nursing problems. At the time of assessment on the 8th day of treatment, the client said he still heard voices threatening the client. The client sometimes becomes emotional and his anger is unstable when the sound appears so that his hallucinations are difficult to control. The implementation of nursing carried out is nursing actions and the application of expressive writing. The implementation was carried out for seven days, namely duo days of nursing interventions and five days of expressive writing. Evaluation is carried out at each meeting using the hallucination signs and symptoms instrument by FIK UI 2018 resident students and AVHRS-Q, evaluation of signs and symptoms of hallucinations, and evaluation of the client's ability to control hallucinations. Researchers concluded that the application of expressive writing can reduce signs and symptoms of hallucinations. So that the application of expressive writing can be one of the strategies in providing nursing care to clients with hallucinations."
Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2023
PR-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Putri Afrillia Budiyanti
"Kesehatan jiwa dibutuhkan individu untuk menjalankan kehidupannya sehingga dapat produktif. Gangguan jiwa berat diantaranya adalah skizofrenia. Kurang motivasi dan adanya penurunan kemampuan bersosialisasi yang menyebabkan isolasi sosial banyak dialami oleh pasien dengan skizofrenia. Asuhan keperawatan generalis memiliki tujuan untuk klien mampu mengenal masalah isolasi sosial, berkenalan dengan orang lain, bercakap-cakap, melakukan kegiatan harian, dan berbicara sosial. Intervensi lain yang dapat dilakukan pada klien dengan isolasi sosial dalam menggali pemikirannya salah satunya yaitu dengan expressive writing. Expressive writing merupakan aktivitas menulis yang digunakan sebagai sarana individu dalam merefleksikan atau mengeksplore pikiran dan perasaan terhadap peristiwa yang tidak menyenangkan hingga menimbulkan trauma. Penerapan expressive writing dapat diadaptasi untuk pengembangan standar asuhan keperawatan jiwa khususnya pada klien isolasi sosial dengan harapan dapat meningkatkan mutu pelayanan asuhan keperawatan pada klien.

Mental health is needed by individuals to carry out their lives so that they can be productive. Severe mental disorders including schizophrenia. Lack of motivation and a decrease in social skills that cause social isolation are experienced by many patients with schizophrenia. Generalist nursing care has a goal for clients to be able to recognize the problem of social isolation, get to know other people, have conversations, carry out daily activities, and talk socially. Another intervention that can be done on clients with social isolation in exploring their thoughts is expressive writing. Expressive writing is a writing activity that is used as a means for individuals to reflect or explore thoughts and feelings about events that are unpleasant to cause trauma. The application of expressive writing can be adapted for the development of mental nursing care standards, especially for socially isolated clients in the hope of improving the quality of nursing care services for clients."
Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2021
PR-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Syifa Fadiyah
"Masalah keperawatan risiko perilaku kekerasan biasanya muncul karena agresivitas yang sering dikaitkan dengan penderita skizofrenia. Afek dan emosi pada pasien skizofrenia memengaruhi perilaku seperti gerakan tangan dan tubuh, ekspresi wajah, dan nada suara yang dapat terlihat jelas ketika seseorang mengungkapkan dan mengalami perasaan serta emosi, Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas penerapan deeskalasi dengan latihan expressive writing dalam menurunkan tanda dan gejala risiko perilaku kekerasan. Klien merupakan seorang wanita berusia 29 tahun dengan skizofrenia. Terapi yang diberikan adalah tindakan keperawatan generalis dan dengan menerapkan expressive writing sebagai bentuk deeskalasi. Expressive writing adalah bagian dari terapi ekspresif yang digunakan untuk membantu pemulihan dan meningkatkan kesehatan mental. Expressive writing didefinisikan sebagai kegiatan menulis yang menggambarkan pikiran dan perasaan yang jujur tentang pengalaman hidup dan dapat digunakan sebagai media untuk mengungkapkan perasaan yang terpendam. Evaluasi dilakukan dengan menggunakan lembar evaluasi tanda dan gejala risiko perilaku kekerasan yang dikembangkan oleh Departemen Keperawatan Jiwa Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan expressive writing efektif menurunkan tanda dan gejala risiko perilaku kekerasan pada klien. Latihan expressive writing direkomendasikan untuk menjadi intervensi alternatif deeskalasi khususnya pada klien dengan risiko perilaku kekerasan.

The risk of violent behavior in nursing diagnosis is usually arise because of aggressiveness which is often associated with people with schizophrenia. Affects and emotions in schizophrenic patients affect behaviors such as hand and body movements, facial expressions, and tone of voice that can be seen clearly when a person expresses and experiences feelings and emotions. This study aims to analyze the effectiveness of applying de-escalation with expressive writing exercises in reducing signs and symptoms of risk of violent behavior. The client is a 29-year-old woman with schizophrenia. The therapy given is generalist nurse intevention and by applying expressive writing as a form of de-escalation. Expressive writing is part of expressive therapy that is used to help recovery and improve mental health. Expressive writing is defined as a writing activity that describes honest thoughts and feelings about life experiences and can be used as a medium to express hidden feelings. The evaluation was carried out using an evaluation sheet for signs and symptoms of risk of violent behavior developed by the Department of Psychiatric Nursing, Faculty of Nursing, University of Indonesia. The results of this study indicate that the application of expressive writing is effective in reducing the signs and symptoms in client with the risk of violent behavior. Expressive writing exercises are recommended to be an alternative de-escalation intervention, especially for clients with the risk of violent behavior."
Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2022
PR-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Kamilia Rahadyani
"Siswa yang berada di tingkat akhir sebuah jenjang, seperti siswa kelas 12 SMA, memiliki kecenderungan stres akademik yang tinggi. Hal ini disebabkan karena siswa di tingkat akhir menerima frekuensi ujian lebih tinggi dan mencemaskan masa depan yang jauh lebih dekat, sehingga permasalahan stres akademik menjadi permasalahan penelitian. Di samping permasalahan tersebut, peneliti menemukan
manfaat mindfulness untuk para siswa, seperti membantu meningkatkan resiliensi dan membantu regulasi emosi, sehingga peneliti juga ingin mencari tahu cara untuk membantu para siswa memiliki kondisi mindfulness. Expressive writing
adalah cara untuk menurunkan stres akademik dan berpeluang menciptakan kondisi mindfulness. Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh expressive writing terhadap stres akademik dan mindfulness pada siswa kelas 12 SMA. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan tipe pre-experimental design berjenis one-group pre-test post-test design serta dilaksanakan secara luring. Pengambilan data penelitian menggunakan kuesioner dari alat ukur Educational Stress Scale for Adolescents (ESSA) dan Five Facet Mindfulness Questionnaire (FFMQ). Total partisipan adalah 27 siswa kelas 12 SMA yang berumur 17 dan 18 tahun (M = 17.22). Hasil penelitian menunjukkan terdapat
pengaruh expressive writing terhadap penurunan stres akademik (t(26) = 7.26, p < 0.05) dan tidak berpengaruh pada kenaikan mindfulness.

Students who are in the final year of a level, such as 12th grade high school students, have a tendency to be high academic stress. This is because students in their final year receive higher frequency of exams and worried about a much closer future, so the academic stress is the research problem. In addition to these research problem, researcher found the benefit mindfulness for tudents, such as helping increase resilience, helping emotion regulation, so researcher want to
looking for the way for helping student have a state of mindfulness. Expressive writing is a way to reduce academic stress and have the opportunity to create a state of mindfulness. This study aimed to look at the effect of expressive writing on academic stress and mindfulness in grade 12th high school students. This research is a quantitative research with a type of pre-experimental design type one-group pre-test post-test design and carried out offline. Research data collection using questionnaires from Educational Stress Scale for Adolescents (ESSA) and Five Facet Mindfulness Questionnaire (FFMQ) measuring instruments. The total participants were 27 grade 12th high school students aged 17 and 18 years (M = 17.22). The results showed that there was an effect of expressive writing on reducing academic stress (t (26) = 7.26, p < 0.05) and no effect on increasing mindfulness.
"
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2023
S-pdf
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Sarah Humaira
"Gangguan mental yang sering dikaitkan dengan risiko bunuh diri adalah schizophrenia dan depresi. Kedua gangguan ini memiliki kesamaan dalam mekanisme etiologi, baik secara genetik maupun klinis, sehingga menjadi faktor risiko bunuh diri. Expressive Writing Therapy (EWT) adalah intervensi yang berpotensi efektif bagi individu yang berisiko bunuh diri, terutama dalam mengelola tekanan emosional dan meningkatkan kesehatan mental. Karya ilmiah ini bertujuan untuk menganalisis asuhan keperawatan pada pasien dengan risiko bunuh diri melalui penerapan EWT. Metode yang digunakan adalah laporan kasus (case report). Instrumen evaluasi yang digunakan berupa lembar tanda dan gejala risiko bunuh diri yang dikembangkan oleh Departemen Keperawatan Jiwa, Fakultas Ilmu Keperawatan, Universitas Indonesia. Hasil menunjukkan bahwa intervensi keperawatan generalis dan EWT dapat secara signifikan menurunkan tanda dan gejala risiko bunuh diri, serta meningkatkan kemampuan pasien dalam mengendalikan dorongan bunuh diri. Penerapan EWT terbukti menurunkan skor gejala risiko bunuh diri dari 20 menjadi 3, dan meningkatkan kemampuan pasien dalam mengontrol dorongan bunuh diri dari skor 1 menjadi 10. EWT diharapkan dapat menjadi salah satu teknik alternatif yang efektif dalam menurunkan tanda dan gejala risiko bunuh diri. 

Mental disorders commonly associated with suicide risk are schizophrenia and depression. These two disorders share similarities in their etiological mechanisms, both genetically and clinically, making them risk factors for suicide. Expressive Writing Therapy (EWT) is a potentially effective intervention for individuals at risk of suicide, particularly in managing emotional distress and improving mental health. This scientific paper aims to analyze nursing care for patients at risk of suicide through the application of EWT. The method used is a case report. The evaluation instrument used is the risk of suicide signs and symptoms sheet developed by the Department of Psychiatric Nursing, Faculty of Nursing, Universitas Indonesia. The results show that generalist nursing interventions and EWT significantly reduce the signs and symptoms of suicide risk and improve patients' ability to control suicidal urges. The application of EWT proved to reduce the suicide risk symptoms score from 20 to 3, and increase the patient's ability to control suicidal urges from 1 to 10. EWT is expected to become an alternative technique in reducing the signs and symptoms of suicide risk. "
Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2024
PR-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Fiqih Aulia
"Self-esteem merupakan keseluruhan cara yang digunakan untuk menilai diri atau penilaian pribadi mengenai kelayakan yang diungkapkan dalam sikap individu terhadap diri sendiri. Ketika individu memiliki nilai self-esteem yang rendah, ini menunjukkan bahwa individu memiliki perasaan tidak berharga dan rendah diri yang biasa disebut dengan harga diri rendah kronik. Penulisan karya ilmiah akhir ners ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas penerapan expressive writing dalam meningkatkan self-esteem pada Ny. I (37 tahun) dengan masalah keperawatan harga diri rendah kronik dan diagnosis medis skizofrenia. Terapi yang diberikan adalah terapi generalis dengan memasukkan latihan expressive writing kedalam kegiatan yang dapat dilatih sehari-hari. Expressive writing merupakan salah satu teknik intervensi yang digunakan dalam dunia kesehatan jiwa. Dengan latihan expressive writing individu dapat mengeksplorasi pemikiran melalui tulisan, kemudian menerjemahkan peristiwa yang terjadi disekitar dalam kata-kata yang dirangkai sendiri sehingga individu tersebut dapat memahami pemikiran aslinya mengenai kejadian yang traumatis dan emosional dalam hidupnya. Hasil dari karya ilmiah ini menunjukkan bahwa klien mengalami penurunan tanda gejala harga diri rendah dan meningkatkan nilai self-esteem dirinya setelah mencapai semua kriteria evaluasi pada expressive writing. Terapi expressive writing diharapkan dapat menjadi intervensi pada asuhan keperawatan jiwa khususnya pada pasien dengan harga diri rendah kronik dan dapat meningkatkan mutu pelayanan asuhan keperawatan.

Self-esteem is the overall way used to assess oneself or personal judgments about the worthiness expressed in an individual's attitude towards oneself. When the individual has a low self-esteem value, this indicates that the individual has feelings of worthlessness and low self-esteem which is commonly referred to as chronic low self-esteem. The purpose of writing this final scientific paper for nurses is to determine the effectiveness of implementing expressive writing in increasing self-esteem in Ny. I (37 years old) with chronic low self-esteem nursing problems and a medical diagnosis of schizophrenia. The therapy given is generalist therapy by incorporating expressive writing exercises into activities that can be trained daily. Expressive writing is one of the intervention techniques used in mental health. With expressive writing exercises, individuals can explore thoughts through writing, then translate events that occur around them in their own words so that the individual can understand his original thoughts about traumatic and emotional events in his life. The results of this scientific work indicate that the client experiences a decrease in symptoms of low self-esteem and increases his self- esteem value after achieving all the evaluation criteria in expressive writing. Expressive writing therapy is expected to be an intervention in mental nursing care, especially in patients with chronic low self-esteem and can improve the quality of nursing care services."
Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2022
PR-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Sri Izzati
"ABSTRAK
Tekanan emosional yang disebabkan oleh putus cinta dapat mengarahkan individu ke hal-hal negatif seperti terganggunya kesehatan atau kesejahteraan diri. Mengungkapkan pengalaman tidak menyenangkan seperti putus cinta merupakan salah satu cara yang dapat dilakukan untuk bisa membuat individu merasa lebih baik, namun tidak semua orang merasa nyaman dalam berbagi pengalaman pribadi dan tidak semua peristiwa putus cinta dapat diungkapkan dengan mudah. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental yang dilakukan untuk mengetahui pengaruh written emotional disclosure atau pengungkapan emosional tertulis terhadap distres subjektif dan suasana hati individu yang mengalami putus cinta. Dalam pelaksanaannya, 43 partisipan dibagi secara acak menjadi dua kelompok penelitian: kelompok eksperimen yang menulis tentang pengalaman putus cinta dan kelompok kontrol yang menulis tentang topik umum. Pengukuran distres subjektif dilakukan menggunakan adaptasi alat ukur Impact of Event Scale IES , dan pengukuran suasana hati dilakukan menggunakan Profile of Mood States-Revised POMS-R . Melalui teknik analisis statistik independent sample t-test dan mixed ANOVA, diperoleh hasil yang menunjukkan bahwa terdapat perubahan suasana hati yang signifikan pada partisipan dari hari pertama menulis hingga ke terakhir F 1,6 , 65,8 = 10,98, p< 0,001, namun tidak terdapat perubahan distres subjektif dan suasana hati yang berbeda secara signifikan antara dua kelompok penelitian F 1,41 < 1, r= 0,044. Hasil dari penelitian ini mengajukan sejumlah pertimbangan untuk penelitian-penelitian berikutnya guna mengeksplorasi lebih jauh mengenai mekanisme dan manfaat dari pengungkapan emosional tertulis, khususnya pada individu yang mengalami putus cinta.

ABSTRACT
The emotional distress caused by heartbreak can lead one to negative effects such as an increase of the risk of physical illness and stress related diseases. Confiding in others about upsetting experiences such as heartbreak can be one of many ways to help one feel better, but not everyone is comfortable in sharing their personal stories and not every heartbreak story can be easily discussed. This experimental research is conducted to examine the effects of written emotional disclosure to subjective distress and mood on individuals experiencing heartbreak. 15 male and 28 female undergraduates were randomly assigned to experimental group, in which they wrote expressively about their heartbreak, or to a control group, in which they wrote about control topics. Subjective distress was assessed using the adapted Impact of Event Scale IES , and The Profile of Mood States Revised POMS R was used to assess participants rsquo mood. Using independent sample t test and mixed ANOVA, findings of the research indicated there was a significant mood improvement from the first day to the last day of writing session F 1,6 , 65,8 10,98, p 0,001, but there was not a significant difference in participants rsquo subjective distress and mood between the experiment and the control group F 1,41 1, r 0,044. The result suggested several considerations for future research in hopes of further exploration of the written emotional disclosure rsquo s benefits and mechanism, especially on individuals experiencing heartbreak."
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2017
S67445
UI - Skripsi Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Anak Agung Ayu Emi Primayanthi
"Kanker payudara menimbulkan implikasi psikologis dan sosial yang mendalam, khususnya bagi orang dewasa muda. Adolescents and young adults disingkat AYA merupakan kelompok usia remaja dan dewasa muda berusia 15 – 39 tahun. Proporsi kasus kanker payudara pada perempuan di bawah 40 tahun di Asia Tenggara juga tinggi berkisar dari 11,4% di Indonesia. Salah satu dampak yang paling signifikan pada pasien kanker payudara usia dewasa muda adalah masalah terhadap citra tubuh dan harga diri. Masalah citra tubuh memengaruhi kualitas hidup, identitas, kepercayaan diri, harga diri rendah, dan fungsi seksual pada pasien kanker usia dewasa muda. Perubahan dalam citra tubuh, harga diri, dan rencana hidup merupakan peralihan dan transisi kehidupan dari perkembangan pada perempuan usia dewasa muda. Teori transisi Meleis memberikan kerangka kerja yang berguna untuk memahami pengalaman pasien dewasa muda dengan kanker payudara. Teori ini menyoroti pentingnya mempertimbangkan konteks unik setiap pasien, termasuk tahap perkembangan hingga transisi dari sehat ke sakit. Pasien kanker payudara usia dewasa muda perlu mendapatkan wadah dalam upaya mengekspresikan perasaan yang dialami selama terdiagnosis kanker hingga menjadi penyintas kanker payudara. Terapi menulis ekspresif atau expressive writing merupakan sarana untuk mengekspresikan emosi melalui tulisan. Didapatkan hasil bahwa terjadi peningkatan harga diri dan citra tubuh setelah diberikan terapi menulis.

Breast cancer has profound psychological and social implications, especially for young adults. Adolescents and young adults (AYA) are the age group of aged 15-39 years. The proportion of breast cancer cases in women under 40 years in Southeast Asia is also high, ranging from 11.4% in Indonesia. One of the most significant impacts on young adult breast cancer patients is problems with body image and self-esteem. Body image problems affect quality of life, identity, self-confidence, low self-esteem, and sexual function in young adult cancer patients. Changes in body image, self-esteem, and life plans are transitions and life transitions from development in young adult women. Meleis' transition theory provides a useful framework for understanding the experiences of young adult patients with breast cancer. This theory highlights the importance of considering the unique context of each patient, including the developmental stage to the transition from health to illness. Young adult breast cancer patients need a place to express their feelings from being diagnosed with cancer to becoming breast cancer survivors. Expressive writing therapy is a means of expressing emotions through writing. The results showed that there was an increase in self-esteem and body image after being given writing therapy."
Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2024
SP-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
cover
Lizara Dhiaulhanif
"Skizofrenia adalah gangguan mental kronis yang sering kali disertai gejala halusinasi pendengaran, yang dapat mengganggu aktivitas sehari-hari serta menurunkan kualitas hidup pasien. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas terapi menulis ekspresif dalam menurunkan frekuensi dan intensitas halusinasi pada pasien skizofrenia paranoid. Metode penelitian menggunakan studi kasus pada seorang pasien yang menjalani terapi menulis ekspresif selama sembilan hari berturut-turut, dengan pengukuran menggunakan skala tanda dan gejala halusinasi PSYRATS dan kemampuan mengontrol halusinasi. Klien diberikan waktu 15-20 menit untuk menceritakan mulai dari perasaan dan harapan klien melalui tulisan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa intervensi ini mampu menurunkan skor frekuensi halusinasi dari 23 menjadi 2 dan meningkatkan kemampuan kontrol diri pasien dari skor 5 menjadi 12. Terapi menulis ekspresif dapat menjadi intervensi keperawatan yang efektif untuk membantu mengendalikan gejala halusinasi pada pasien skizofrenia.

Schizophrenia is a chronic mental disorder often accompanied by auditory hallucinations, which can disrupt daily activities and diminish the quality of life for patients. This study aims to evaluate the effectiveness of expressive writing therapy in reducing the frequency and intensity of hallucinations in patients with paranoid schizophrenia. The research method employed a case study on a patient who underwent expressive writing therapy for nine consecutive days, with measurements taken using the PSYRATS hallucination severity scale and the ability to control hallucinations. The client was given 15-20 minutes to express their feelings and hopes through writing. The results of the study showed that this intervention was able to reduce the frequency of hallucinations from a score of 23 to 2 and improve the patient’s self-control ability from a score of 5 to 12. Expressive writing therapy can be an effective nursing intervention to help manage hallucination symptoms in patients with schizophrenia. "
Depok: Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, 2024
PR-pdf
UI - Tugas Akhir  Universitas Indonesia Library
<<   1 2   >>