Hasil Pencarian  ::  Simpan CSV :: Kembali

Hasil Pencarian

Ditemukan 82 dokumen yang sesuai dengan query
cover
Retno Tanding Suryandari
"Dalam setiap pengambilan keputusannya, individu diasumsikan sebagai pengambil keputusan yang rasional dan konsisten sehingga akan selalu memilih alternatif yang memberikan nilai yang tertinggi. Penelitian-penelitian tentang pengambilan keputusan individu dalam situasi ketidakpastian menunjukkan bahwa individu tidak selalu konsisten dan rasional. Teori prospek menyatakan bahwa cara memformulasikan alternatif yang ditawarkan kepada individu mempengaruhi keputusan yang diambil individu tersebut.
Penelitian ini dilakukan untuk melihat apakah dalam menilai dan memutuskan membeli produk asuransi, individu dipengaruhi oleh formulasi polis asuransi dan endownment.
Pengambilan data dilakukan dengan metode eksperimen. Untuk mengetahui adakah perbedaan perilaku memilih antara individu yang memiliki polis asuransi mobil dan individu yang tidak memiliki polis asuransi mobil, digunakan dua kelompok partisipan dengan jumlah keseluruhan partisipan adalah 104 orang.
Ada dua eksperimen yang dilakukan. Eksperimen pertama untuk melihat pengaruh efek framing dalam perilaku memilih individu. Eksperimen ini menggunakan tiga kasus hipotetikal. Uji signifikansi menunjukkan bahwa individu dipengaruhi oleh efek framing. Akan tetapi dalam kasus membeli asuransi hipotetikal, hasil penelitian dari kelompok yang memiliki asuransi konsisten dengan penelitian terdahulu, sedangkan dari kelompok yang tidak memiliki polis asuransi mobil, hasilnya tidak konsisten.
Hasil dari eksperimen efek endownment menunjukkan bahwa dalam menilai alternatif, individu dipengaruhi oleh efek endownment, konsisten dengan penelitian terdahulu. Secara agregat, kedua kelompok menunjukkan efek endownment yang signifikan."
Depok: Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, 2001
T7947
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Riza Avenzora Ariandra
"Sebelum seseorang pergi mendatangi jasa pelayanan kesehatan, umumnya mereka akan mencari lebih daliulu informasi mengenai penyedia jasa layanan kesehatan tersebut. Proses peiicarian informasi dilakukan oleh individu/masyarakat atau keluarga dalam memenulii kebutulian mereka akan layanan kesehatan mmigkin saja berbeda-beda.
Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui sumber informasi apa yang paling mempengaruhi seseorang dalam memutuskan untuk pergi berobat ke dokter uinum (general praclictioner) dan dokter ahli kebidanan/kandungan (ok-gyri). Dan faktor apa saja yang dipertimbangkan seseorang dalam memilih dokter uinum dan dokter kandungan.
Pengumpulan data dilakukan dengan cara menyebarkan kuesioner. Partisipan yang dipilih adalah ibu-ibu hanni yang sedang mengunjungi saat tersebut secara rutin mengunjungi dokter kandungan. Partisipan dipifih dengan cara mendatangi praktek dokter kandungan, riimah sakit, klinik atau rumah bersalin di Jakarta atau menemui beberapa ibu-ibu hamil yang menunjungi dokter kandungan.
Hasilnya adalah, sumber informasi yang paling penting dalam memilih dokter umum dan dokter kandungan di Jakarta adalah sumber informasi yang berasa! dari keluarga. Sumber informasi terpenting kedua adalah hasil observasi sendiri atas keadaan tempat praktek dokter, dan faktor yang paling mempengaruhi seseorang dalam memilih dokter umum dan dokter kandungan adalah sifat atau kepribadian dokter yaitu, dokter yang koinunikatif, ramah, mail memberikan informasi mengenai masalah kesehatan dll.
Hasil temuan ini mengisyaratkan bahwa seorang pasien menjadi sangat berharga karena rnewakih potensi pasien lain terutama dari keluarga mereka sendiri, lokasi atau keadaan tempat praktek dokter bagi segmen tertentu menjadi suatu petunjuk atau sumber informasi yang sangat penting, dan sifat dokter yang komunikatif, ramah, dan mau mendengar keluhan pasien menjadi sangat berharga bagi pasien.
"
2001
T750
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Luh Putu Candra Astiti
"Desa Cibalung yang terletak lebih kurang 40 km dari kota Bogor merupakan kawasan perbukitan yang subur namun mayoritas penduduknya adalah keluarga miskin yang mengandalkan penghasilannya selain dari pertanian juga membuat besek. Usaha membuat besek ini telah lebih dari 15 tahun ditekuni oleh warganya. Penghasilan mereka relatif kecil, hanya berkisar Rp.4,000 untuk 100 besek yang dihasilkan rata-rata per hari.
Program intervensi individu maupun kelompok yang dilakukan di Cibalung menggunakan pendekatan teori Asset-Based Community Development (ABCD) dari Kretzman dan McKnight. Teori ini digunakan untuk mengidentifikasi aset atau potensi yang dimiliki oleh suatu komunitas, dalam hal ini Kelompok di Cibalung. Teori ABCD yang dilandasi oleh pendekatan Appreciative Inquiry (AI) dari Copperrider ini merupakan bagian dari psikologi positif, yaitu suatu metodologi untuk memberdayakan individu/komunitas tersebut melalui penggalian hal-hal terbaik yang dimilikinya.
Kerangka teori ABCD digunakan dalam membuat rancangan program intervensi secara garis besar sedangkan teori AI dari Copperider dan teori Belajar Sosial dari Bandura digunakan pada program intervensi pemasaran untuk meningkatkan penilaian positif terhadap diri sendiri dan untuk memahami proses belajar yang ditandai dengan modifikasi perilaku, afeksi dan kognisi seseorang.
Program intervensi pemasaran sebagai program individu menekankan pada upaya membangun kemandirian warga atau perorangan untuk menggali peluang pasar yang baru. Sedangkan pembentukkan organisasi paguyuban yang memayungi seluruh pokja sebagai program kelompok menekankan pada upaya untuk mempertahankan motivasi dan menjaga kesinambungan pelaksanaan program intervensi di desa Cibalung."
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2005
T18757
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Natalia Suwignyo
"Desa Cibalung merupakan sebuah desa subur yang terletak di kaki gunung Salak tepatnya di Kelurahan Cibalung, Kecamatan Cijeruk, Kabupaten Bogor. Desa ini merupakan salah satu penghasil kerajinan besek yang dipasarkan ke Jakarta. Selama 15 tahun kerajinan ini sudah ditekuni namun kehidupan perekonomian Desa Cibalung tidak bertambah maju dan bahkan cenderung stagnan. Oleh karena itu dilakukan akan dilakukan sebuah program intervensi yang berbasiskan pada paham positive psychology dengan menggunakan pendekatan Appreciative Inquiry dan jugs Asset Based Community Development.
Dalam program intervensi ini, akan dibagi menjadi dua bagian besar yaitu program intervensi yang sifatnya kelompok dan program intervensi individual. Program intervensi kelompok bertujuan untuk membuat sebuah organisasi yang akan menaungi kelompok kerja yang dibuat dalam program intervensi individu. Program intervensi individu yang menjadi tanggung jawab penulis adalah pembentukkan kelompok kerja pendidikan. Pembentukkan pokja ini dirasa panting karena dengan memberikan informasi dan pemahaman mengenai bambu secara terintegrasi maka anak-anak akan semakin memahami dan memiliki ketrampilan dalam mengolah dan menanam bambu.
Program intervensi ini dapat dikatakan meneapai targetnya karena terjadi beberapa perubahan tercapai sesuai dengan indikator yang telah dituliskan. Salah satu faktor yang membuat program ini tercapai adalah karena program ini merupakan aspirasi dari masyarakat dan jugs mendapatkan dukungan dari aparat desa dan tokoh masyarakat lainnya. Hal lainnya adalah karena pendekatan appreciative inquiry dan ABCD yang digunakan memberikan panduan kepada penulis dalam melakukan program intervensi."
Depok: Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2005
T18758
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Endah Trihastuti Dewayanti
"ABSTRAK
Selama ini keuntungan menggunakan electronik shopping bagi konsumen adalah dapat
menurunkan biaya searching (pencarian) untuk produk yang diminati dan informasi
informasi lain yang berkaitan dengan produk tersebut. Akan tetapi bagi retailer,
kemudahan ini dirasakan dapat meningkatkan kondisi persaingan yang pada akhímya
dapat mengurangi margin keuntungan bagi para penjual konvensional. Pada saat
kemudahan mencari informasi harga ditonjolkan, ceteris paribus, maka sensitifitas barga
akan meningkat. Akan tetapi jika kemudahan infonnasi kualitas yang diutamakan, bisa
jadi sensitifitas harga akan menurun.
Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pada kondisi penurunan biaya pencarian
informasi yang bagaimana dapat menurunkan atau meningkatkan sensitifitas harga.
Eksperimen dilakukan dengan memvariasikan 3 jenis biaya pencarian informasi secara
bebas, yaitu biaya pencarian untuk informasi harga (Price Usability), biaya pencarian
untuk informasi atribut mutu (Quality Usability) dan biaya pencarían untuk
membandingkan dua buah toko cokiat elektronik yang bersaing (Store Comparability).
Partisipan membelanjakan uang mereka untuk membeli produk yang ditawarkan di kedua
toko tersebut yang menjual selain produk cokiat yang sama ada juga yang unik (berbeda
satu sama lain).
Dari hasil penelitian ditemukan hal-hal empiris. Pertama, untuk variabel kemudahan
mencari informasi kualitas memiliki pengaruh terhadap tingkat sensitifitas harga, dengan
kecenderungan di saat Quality Usability rendah maka tingkat sensitifitas harga tinggi dan
sebaliknya ketika Quality Usability tinggi, tingkat sensitifitas harga yang ditunjukkan
rendah. Dengan demikian adanya kemudahan mendapatkan informasi atnbut mutu akan
menurunkan tingkat sensitifitas harga konsumen.
Kedua, tingkat sensitifitas harga partistipan ternyata dipengaruhi oleh interaksi gabungan
variabel Quality Usability dan Store Comparability. Fenomena yang terlihat adalah di
saat Store Comparability rendah, perubahan sensitifitas antara Quality Usability rendah
dan tinggi relatif lebih kecil dibandingkan saat Store Comparability tìnggi. Hal ini
disebabkan disaat partisipan mudah untuk membandingkan toko maka efek perbedaan
ada dan tiadanya informasi atribut mutu yang disediakan semakin terasa.
Untuk harga rata-rata produk yang dibeli tidak dipengaruhi secara signifikan oleh
variabel Price Usability, Quality Usability dan Store Comparability. Demikian juga
untuk rata-rata kuantitas produk yang dibeli masing-masing blok produk blasa dengan
unik, tidak signifikan dipengaruhi oleh variabel Store Comparability.
Ketiga, tingkat transparansi ternyata tidak memberikan efek yang signifikan terhadap
tingkat kesukaan Partisipan selama berbelanja on line. Hal ini kemungkinan disebabkan
pengalaman belanja on-line yang minim pacla rata-rata partisipan, sehingga pengalaman
ini merupakan pengalaman yang baru sehingga rata-rata tingkat kesukaan yang dihasilkan
adalah biasa cenderung menyukai, tanpa terpengaruh transparan tidaknya informasi yang
diberikan.
"
2002
T1562
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Yulia Kesula Dewi
"ABSTRAK
Dewasa ini banyak bermunculan ritel-ritel baru di kawasan Jakarta. Di suatu
lokasi tertentu baik itu perkantoran atau perumahan bias ada lebih dari satu ritel. Jika ada
banyak alternatif ritel yang didatangi, tentu ada pertimbangan khusus yang membuat
konsumen memilih suatu ritel untuk dijadikan tempat berbelanja.
Dalam berbelanja konsumen melalui beberapa tahap, yaitu : pertama membuat
daftar belanja. Kedua menentukan alternatif ritel mana saja yang dapat didatangi. Ketiga
menghitung total perceived cost dari masing-masing alternatif ritel yang telah dipilih.
Terakhir menentukan ritel mana yang akan didatangi berdasarkan total perceived cost
yang telah dihitung.
Model Bell, Ho, Tang mengatakan bahwa konsumen akan memiih ritel yang
mempunyai total perceived cost yang terendah. Total perceived cost dibagi kedalam 2
komponen, yaitu : fIxed cost dan variable cost. Dimana masing-masing komponen cost
tersebut mempunyai cost driver yang mempengaruhi nilai total perceived cost.
Model Bell, Ho, Tang juga mengatakan bahwa konsumen akan lebih sering mengunjungi
ritel yang memiliki fixed cost yang terendah.
"
2001
T1373
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
I Nyoman Sunia Sanjaya
"Garuda Indonesia menghadapi permasalahan dalam menetapkan strategi komunikasi yang dapat meyakinkan konsumen bahwa perusahaan telah berubah menjadi penerbangan tepat waktu. Hal ini disebabkan karena dalam benak konsumen telah Iama tertanam bahwa Garuda Indonesia adalah perusahaan penerbangan yang sering tidak tepat waktu. Penumpang yang sering kecewa dan mempunyai pengalaman buruk dengan penerbangan Garuda Indonesia yang sering terlambat, akan memberikan resistensi terhadap pesan iklan yang menjanjikan penerbangan tepat waktu. Reaksi pemikiran konsumen yang berlawanan dengan pesan iklan dikenal sebagai counterargument.
Resistensi konsumen tersebut tetap muncul walaupun pada kenyataannya Garuda Indonesia telah berhasil mcningkalkan pencapaian On Time Performance (OTP). Pilihan yang diambil oleh Direksi Garuda Indonesia adalah menjalankan program konsolidasi dan program rehabilitasi untuk memperbaiki atribut-atribut negatif seperti OTP, pelayanan dalam pesawat dan pelayanan di darat. Sikap positif karyawan juga dibentuk melalui Workshop for Frontliners yang diselenggarakan oleh IMEDE dan SBU Garuda Aviation Training. Hal-hal tersebut mendukung terbentuknya image positif sesuai dengan teori yang dikembangkan oleh Valerie S. Folkes & Vanessa M. Patrick dalam studi penelitian mereka yang diterbitkan pada Journal of Consumer Research, Inc dengan judul ?The Positivity Effect in Perceptions of Services : Seen One. Seen Them All ??
Psikolog Anthony Pratkanis dan Elliot Aronson dalam buku Age of Propaganda : The Everyday Use and Abuse of Persuasion mengusulkan cara untuk mengatasi counterargument, yaitu dengan menyajikan pesan bersama stimulus lain yang bisa membuat konsumen sibuk. Demikian sibuknya konsumen sehingga tidak mempunyai kesempatan untuk memikirkan counterargument terhadap pesan tersebut. Lagu yang dibawakan oleh penyanyi opera bersuara bariton "Christopher Abimanyu? dan diiringi musik ?Twilite Orchestra? pimpinan Addie MS menjadi pilihan Garuda Indonesia untuk mengurangi dampak counterargument. Lagu yang terkesan megah ini dikemas apik sehingga enak didengar oleh hampir sebagian besar pemirsa.
Lagu yang dikemas apik tersebut berperan besar daiam mengatasi dampak dari counterargument sehingga tujuan program komunikasi tercapai. Terbukti kemudian Garuda Indonesia mencapai perbaikan image sesuai dengan hasil test MATARI pada Juni 2001 melalui penyebaran kuesioner kepada 100 partisipan. Riset kualitatif AC Nielsen pada April 2002 melalui 5 focus group discussion dengan masing-masing 7-9 partisipan, juga menunjukkan hasil perbaikan image Garuda Indonesia. Perbaikan image tersebut secara tidak Iangsung ikut andil dalam pencapaian laba operasi Garuda Indonesia pada tahun 2000 dan 2001.
Unruk strategi komunikasi kedepan, Garuda Indonesia tidak dapat lagi hanya menonjolkan On Time Performance (OTP) untuk mengalahkan daya tarik harga murah yang ditawarkan pemain baru. Tapi OTP merupakan syarat mutlak yang harus dipenuhi Garuda Indonesia. Kerja keras berkelanjutan segenap jagaran niscaya Garuda Indonesia dapat mencapai kualitas pelayanan prima. Dengan pencapaian tersebut, perusahaan dapat mengambil tema komunikasi "Garuda Indonesia Lebih Melayani? untuk menyampaikan kepada konsumen bahwa Garuda Indonesia memiliki keunggulan diam kualitas pelayanan dan penumpang akan dimanjakan oleh berbagai atribut pelayanan yang disediakan. Strategi komunikasi bersama Garuda Indonesia dan Citilink juga harus ditetapkan. Garuda Indonesia diarahkan pada target pasar yang rime sensitive, mengutamakan pelayanan dan mementingkan prestige dalam memilih jasa angkutan udara. Sedangkan Citilink diarahkan pada target pasar yang sensitif terhadap harga (price sensitive)."
Depok: Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, 2004
T13549
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Tri Hastuti
"The trickle down theory of fashion pertama kali dicetuskan oleh sosiolog Georg Simmel pada tahun 1904. Teori ini mengemukakan adanya dua kelompok sosial dalam masyarakat dengan ciri dan status sosial yang berbeda, yaitu kelompok subordinate dan kelompok superordinate. Kelompok subordinate memiliki kecenderungan untuk melakukan imitasi atau meniru perilaku fesyen kelompok superordinate dengan tujuan untuk mendapatkan status baru yang lebih baik. Sementara kelompok superordinate itu sendiri memiliki kecenderungan untuk selalu tampil beda dan merespon perilaku kelompok subordinate dengan mengadopsi fesyen baru atau melakukan diferensiasi.
Salah satu kekuatan teori trickle down ini adalah kemampuannya memberikan signal akan adanya perubahan fesyen. Teori ini memberikan kesempatan bagi para pengamat untuk meramalkan perubahan pada suatu kelompok tertentu dengan melihat adanya perubahan pada kelompok lain.
Teori ini, menurut pengamatan penulis juga banyak dimanfaatkan dalam dunia pemasaran, khususnya periklanan. Banyak pengiklan memasang endorser yang bercitrakan kelompok sosial ekonomi atas, padahal target pasar produk yang diildankan adalah konsumen kelompok sosial ekonomi bawah. Tujuannya jelas, yaitu untuk menaikkan imej produk agar target konsumen memiliki persepsi yang tinggi terhadap produk tersebut, dan berharap proses imitasi terjadi.
Meskipun dinilai memiliki banyak keunggulan, teori trickle down ini masih banyak diragukan oleh beberapa peneliti lain. Horowitz (1975) dengan teori mass fashion, Charles King (1963) dengan teori trickle across, dan terakhir McCracken (1988) yang mengatakan perlu adanya revisi terhadap teori tersebut.
Studi ini mencoba untuk membuktikan kebenaran teori trickle down dalam kaitannya dengan periklanan nasional. Pengujian dilakukan terhadap tiga variabel terikat, yaitu sikap konsumen terhadap iklan, sikap konsumen terhadap produk dan intensi membeli konsumen terhadap produk yang diiklankan dengan endorser yang bercitrakan kelas sosial ekonomi atas dan bawah. Penelitian ini dilakukan terhadap dua jenis produk, yaitu produk fesyen dan produk non fesyen. Pada produk fesyen, tujuannya untuk membuktikan kebenaran teori trickle down, seperti yang dikemukakan diatas. Sedangkan penelitian pada produk non fesyen untuk melihat apakah teori ini juga berlaku untuk produk non fesyen.
Dan hasil penelitian ini didapat bahwa kebenaran teori trickle down ternyata hanya terbukti sampai pada sikap terhadap iklan dan sikap terhadap produk, tetapi tidak terbukti pada intensi membeli konsumen. Tentunya untuk menyatakan bahwa teori trickle down salah, masih diperlukan penelitian-penelitian lanjutan. Paling tidak penelitian ini merupakan upaya pertama, sepanjang pengetahuan penulis, untuk membuktikan teori trickle down secara empiris di Indonesia.
Saran untuk penelitian lebih lanjut, sebaiknya produk yang diteliti bukan berupa kosmetika baru, seperti yang digunakan pada penelitian ini, ataupun produk-produk lain yang memiliki perceived physical risk yang tinggi.
Implikasi pemasaran ditujukan bagi para produsen dan pengiklan, bahwa efektifitas pemasangan endorser kelas atas, menurut hasil penelitian ini, mungkin hanya sebatas pembentukan sikap positif konsumen baik terhadap iklan maupun produk, tetapi belum mempengaruhi intensi membeli konsumen terhadap produk yang diiklankan."
Depok: Universitas Indonesia, 2002
T20187
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Parinduri, Vivi Kairany
"Trust terjadi saat seseorang memutuskan untuk yakin pada kejujuran dan reliabilitas dari pihak lain. Permasalahannya adalah apakah trust dapat terjadi diantara pihak-pihak yang tidak saling mengenal. Terdapat perbedaan pendapat antara para sosiolog dan para ekonom mengenai hal ini. Menurut teori ekonomi, trust tidak mungkin terjadi diantara pihak-pihak yang tidak saling mengenal, karena pada dasarnya manusia mempunyai sifat oportunistik. Para sosiolog mempunyai pendapat yang berbeda. Menurut pandangan sosiologi trust bisa saja terjadi diantara pihak¬-pihak yang tidak saling mengenal. Generalized morality atau aturan-aturan dan norma-norma berperilaku yang bersifat fundamental di dalam suatu masyarakat sangat mempengaruhi keputusan seseorang untuk pereaya (trust), walau dengan orang yang tidak dikenal sekalipun.
Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari proses pembangunan kepercayaan antara dua pihak yang tidak saling mengenal, dengan menggunakan permainan pembangunan kepercayaan. Permainan ini dapat memperlihatkan perilaku percaya dan perilaku dapat dipercaya diantara pemain. Dalam permainan pembangunan kepercayaan tidak ada paksaan ataupun sanksi untuk segala keputusan yang dibuat pemain dan masing-masing pemain tidak saling mengetahui identitas lawan mainnya. Dalam permainan ini, pemain diasumsikan sebagai individu yang rasional, dimana pemain tidak dapat percaya ataupun dipercaya oleh pemain yang tidak dikenalnya.
Hasil penelitian mengungkapkan bahwa manusia tidak dapat percaya pada orang yang tidak dikenalnya. Penelitian juga rnemperlihatkan bahwa manusia tidak dapat dipercaya (oportunis). Permainan pembangunan kepercayaan mengindikasikan terjadinya penurunan kepercayan seiring dengan berlanjutnya permainan ke tahap-¬tahap berikutnya, sebaliknya terjadi peningkatan perilaku dapat dipercaya seiring dengan berlanjutnya permainan. Peningkatan perilaku dapat dipercaya terjadi bila pemain merasa pasti (certain) dengan keputusan yang dibuat lawan mainnya. Hasil penelitian ini dapat dimanfaatkan dalam pelaksanaan strategi pemasaran modem yang mulai marak di Indonesia saat ini, misalnya e-commerce ataupun telephone shopping."
Depok: Universitas Indonesia, 2002
T20096
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
cover
Fonny Arisandy Jacob
"lklan berevolusi sesuai dengan perkembangan masyarakat. Jika konsumen semakin cerdas, maka hal ini pun akan terefleksi pada iklan-iklan yang semakin kreatif dan variatif. Apabila kita bandingkan iklan tahun 1970-an dengan iklan tahun 2000-an, terdapat perbedaan yang sangat besar.
Dalam tulisan ini, peneliti akan menggunakan analisis diakronik untuk mendeskripsikan perkembangan penyajian 517 buah iklan dari enam merek yang secara berkesinambungan beriklan di Femina dari tahun 1975 - 2002 dengan memperhatikan peruedaan-perbedaan yang ditampilkan dalam iklan-iklan tersebut. Variabel-variabel yang dikaji mencakup penggunaan dan karakteristik komponen iklan, figur retorika, tampilan citra wanita, pesona kebutuhan, cara penyajian (tone dan manner) dan rule persuasi.
Analisis isi dan analisis chi-square digunakan untuk menguji enam buah hipotesis. Dari hasil studi, penulis menemukan bahwa telah terjadi perubahan penggunaan retorika pada iklan, dimana tren penggunaan trope sebagai figur retorika yang lebih kornpleks semakin meningkat. Hal ini kiranya bisa menggambarkan bahwa audiens wanita Indonesia semakin cerdas. Selain itu studi juga menemukan bahwa iklan-iklan tersebut cenderung menampilkan kebutuhan fisiologis sebagai pesona kebutuhan dan kilasan kehidupan sebagai tone dan mannernya."
Depok: Universitas Indonesia, 2003
T20202
UI - Tesis Membership  Universitas Indonesia Library
<<   1 2 3 4 5 6 7 8 9   >>